Berita Utamapendidikan-dan-pembelajaran

Dampak Polutan Diabaikan, Bisa Ganggu Perkembangan Otak Anak

×

Dampak Polutan Diabaikan, Bisa Ganggu Perkembangan Otak Anak

Sebarkan artikel ini

Kesadaran Masyarakat terhadap Dampak Polutan Masih Rendah



Kesadaran masyarakat terhadap dampak polutan masih rendah, meskipun efeknya bisa sangat serius. Polutan udara dan makanan yang terkontaminasi zat toksik dapat menghambat perkembangan otak anak, menurunkan IQ, serta menyebabkan gangguan bicara. Pada orang dewasa, paparan kronis bahkan dapat memicu gangguan kognitif, menurunnya daya ingat dan konsentrasi, hingga migrain dan gangguan tidur.

Hal tersebut disampaikan oleh Kayla Rafa, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dalam kegiatan “Supporting Health Initiatives Against Neurotoxic Diseases (SHINE) Check & Care” yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD), Jakarta Pusat, kemarin. Gerakan ini juga didasari oleh isu mengenai makanan yang mengandung zat radioaktif dan meningkatnya kadar polusi udara di Jakarta.

Kayla menekankan pentingnya kesadaran publik terhadap bahaya neurotoksin, zat beracun yang dapat mengganggu sistem saraf manusia. “Polutan bisa berasal dari mana saja, dari udara yang kita hirup setiap hari, makanan yang terkontaminasi bahan kimia, hingga lingkungan sekitar yang tercemar. Namun banyak yang belum menyadari dampak jangka panjangnya terhadap otak,” ujar Kayla dalam siaran pers, Selasa 7 Oktober 2025.

Baca Juga :  Selasa, 14 Oktober 2025: Ramalan Zodiak Aries dan Taurus Lengkap Kariere, Cinta, Keuangan, dan Kesehatan

Ia berharap masyarakat memahami bahwa pencegahan harus dimulai dari pengetahuan dan pemeriksaan sejak dini. “Kalau masyarakat tahu risikonya, mereka akan lebih berhati-hati dalam memilih makanan dan menjaga lingkungan. Ini bukan hanya soal kesehatan individu, tapi soal masa depan generasi kita,” katanya.

Layanan Kesehatan Gratis dan Edukasi Publik

Dalam acara ini, para mahasiswa membuka layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Pemeriksaan meliputi tanda-tanda vital dan gula darah sewaktu sebagai langkah awal deteksi dini terhadap kondisi tubuh masyarakat. Selain layanan medis, tim Shine juga mengadakan sesi edukasi publik mengenai sumber dan dampak neurotoksin.

Materi yang dibawakan berfokus pada cara mencegah paparan berlebih dari udara kotor, bahan kimia rumah tangga, serta makanan yang mengandung logam berat atau zat radioaktif. Kegiatan SHINE Check & Care juga melibatkan organisasi pemuda Padapemoeda sebagai bentuk kolaborasi lintas generasi. Kolaborasi ini dimaksudkan untuk memperluas jangkauan edukasi dan menanamkan budaya hidup sehat di kalangan muda.

Bagi para mahasiswa FKUI, Shine menjadi wadah pembelajaran langsung di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya berperan sebagai tenaga medis masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap isu kesehatan lingkungan.

Baca Juga :  Alih Tugas Jabatan Kapolda Kepri, Irjen. Pol. Dr. Aris Budiman, M.Si. Diangkat Dalam Jabatan Baru Sebagai Kapolda Kepri

Dialog dengan Warga dan Kesadaran Baru

Selain pemeriksaan dan edukasi, kegiatan ini juga membuka ruang dialog dengan warga. Banyak peserta yang mengaku baru mengetahui bahwa polutan dan zat toksik dalam makanan bisa berdampak pada fungsi otak dan perkembangan anak. Kayla mengatakan, melalui kegiatan ini, para mahasiswa ingin menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil.

“Kami ingin masyarakat peduli terhadap apa yang mereka konsumsi dan udara yang mereka hirup. Dari kesadaran kecil itulah perubahan bisa tumbuh,” ujar Kayla.

Ia mengharapkan gerakan tersebut dapat terus berlanjut dan menginspirasi kampanye kesehatan publik lainnya. “Mahasiswa punya peran besar untuk menggagas gerakan berbasis ilmu pengetahuan dan kepedulian sosial. Kami ingin memulai itu dari sini,” katanya.

Kayla menambahkan, gerakan SHINE menjadi pengingat bahwa masalah polutan dan zat toksik bukan sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan saraf dan masa depan generasi muda.