Denpasar Menghadapi Krisis Sampah: Ancaman Penutupan TPA Suwung dan Langkah Mitigasi Darurat
Kota Denpasar kini berada di ambang krisis sampah yang serius seiring mendekatnya tenggat waktu penutupan total Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung pada 23 Desember 2025. Pemerintah Kota Denpasar mengakui adanya jurang pemisah yang menganga lebar antara volume sampah yang diproduksi setiap hari dengan kapasitas pengolahan yang dimiliki saat ini. Situasi ini membutuhkan perhatian dan tindakan segera untuk mencegah terulangnya masalah serupa di tempat lain.
Kesenjangan Produksi dan Pengolahan Sampah
Wakil Wali Kota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa, memaparkan data yang mencengangkan. Denpasar saat ini hanya mampu mengolah sekitar 500 ton sampah per hari. Angka ini sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan total timbulan sampah yang dihasilkan oleh kota ini, yang mencapai 1.050 ton setiap harinya.
“Dari peta mitigasi yang ada, kapasitas maksimal yang bisa kami selesaikan saat ini adalah 500 ton per hari. Sementara produksi sampah Denpasar mencapai 1.050 ton per hari. Ini adalah masalah besar yang harus segera kami pikirkan solusinya,” ujar Arya Wibawa.
Mitigasi Darurat Berbasis Sumber: Upaya Jangka Pendek
Menghadapi tenggat waktu yang semakin dekat dan kesenjangan kapasitas yang signifikan, Pemerintah Kota Denpasar mengambil langkah mitigasi darurat yang berfokus pada pengelolaan sampah dari sumbernya. Hingga akhir tahun ini, pemerintah berencana untuk mendistribusikan total 6.815 unit sarana pengolahan sampah ke berbagai desa dan kelurahan di Denpasar.
Rincian sarana pengolahan sampah yang akan disiapkan meliputi:
- 3.220 unit teba modern: Fasilitas ini dirancang untuk mengolah sampah organik dengan lebih efisien dan higienis.
- 3.595 unit tong komposter: Alat ini akan didistribusikan kepada rumah tangga dan komunitas untuk mendorong praktik pengomposan sampah organik di tingkat lokal.
Selain itu, upaya optimalisasi juga dilakukan pada fasilitas yang sudah ada:
- Optimalisasi 24 TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah – Reduce, Reuse, Recycle): Fasilitas ini akan ditingkatkan efektivitas operasionalnya untuk memaksimalkan proses daur ulang dan pengurangan sampah.
- Pengaktifan kembali 338 bank sampah: Bank sampah yang sebelumnya tidak aktif akan dihidupkan kembali untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Tantangan Klasik TPS3R dan Penguatan PDU
Namun, Arya Wibawa mengakui bahwa implementasi solusi ini tidak lepas dari tantangan. Kendala klasik yang sering dihadapi oleh TPS3R, yaitu overload, menjadi perhatian utama. Kapasitas mesin di TPS3R yang rata-rata hanya mampu mengolah 5 ton sampah per hari sering kali tidak mampu menampung volume sampah yang masuk, yang bisa mencapai 10 ton.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Denpasar juga terus memperkuat Pusat Daur Ulang (PDU). Tiga PDU yang berlokasi di Padangsambian Kaja, Kertalangu, dan Tahura kini telah diperkuat dengan tambahan 9 unit mesin baru. Mesin-mesin ini memiliki kapasitas total pengolahan sebesar 30 ton per hari. Selain itu, dua mesin tambahan lainnya sedang dalam tahap perakitan dan diharapkan segera memperkuat kapasitas pengolahan di PDU.
Mencegah Pemindahan Masalah: Ancaman Sampah di Ruang Publik
Arya Wibawa menekankan kekhawatirannya yang mendalam terkait dampak ikutan dari kebijakan penutupan TPA Suwung. Ia sangat mewanti-wanti agar solusi yang diterapkan tidak justru memindahkan masalah sampah ke tempat lain.
“Kami tidak ingin menyelesaikan masalah di TPA Suwung, tetapi justru sungai dan fasilitas umum lainnya yang kemudian dipenuhi oleh sampah rumah tangga,” tegasnya.
Kesadaran akan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah juga menjadi catatan penting. Arya Wibawa menyadari bahwa membiasakan masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya bukanlah tugas yang bisa dipaksakan dalam hitungan minggu. Dibutuhkan edukasi dan waktu yang berkelanjutan untuk membentuk kebiasaan tersebut.
Solusi Jangka Panjang: Proyek PSEL Berteknologi Tinggi
Sebagai solusi permanen untuk mengatasi permasalahan sampah di Denpasar, Pemerintah Kota Denpasar tengah mempersiapkan sebuah proyek ambisius: Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dengan teknologi tinggi. Proyek ini diklaim mampu membakar sampah pada suhu di atas 1.000 derajat Celcius, sebuah metode yang efektif untuk mengurangi volume sampah secara drastis sambil menghasilkan energi.
Proyek PSEL ini ditargetkan akan memulai tahap groundbreaking pada awal tahun 2026. Investasi yang dibutuhkan untuk proyek monumental ini diperkirakan mencapai kurang lebih Rp3 triliun. Kabar baiknya, dukungan investasi telah siap dari 24 investor asing, yang berasal dari berbagai negara seperti Tiongkok, Eropa, dan Finlandia, menunjukkan kepercayaan internasional terhadap kelayakan dan potensi proyek ini.

















