Bisnis

Denza Surabaya: Bidik Konsumen Jatim

×

Denza Surabaya: Bidik Konsumen Jatim

Sebarkan artikel ini

Peresmian showroom Denza Haka Ciputra World Surabaya pada Sabtu (13/12) menandai sebuah tonggak penting dalam kehadiran resmi merek mobil listrik premium Denza di Jawa Timur. Lokasi strategis di pusat perbelanjaan Mall Ciputra World Surabaya ini bukan sekadar penambahan jangkauan dealer, melainkan sebuah langkah ekspansif yang signifikan setelah Denza sebelumnya telah hadir di Jakarta dan Bali.

CEO Haka Auto, Hariyadi Kaimuddin, mengungkapkan bahwa pembukaan showroom ini mencerminkan pemahaman mendalam terhadap pergeseran perilaku konsumen kendaraan listrik (EV). Konsumen kini tidak lagi memandang mobil listrik hanya sebagai pilihan untuk mobilitas perkotaan semata, melainkan telah bertransformasi menjadi solusi mobilitas utama mereka, bahkan untuk perjalanan jarak jauh.

Denza, yang diposisikan sebagai merek mewah dari BYD, secara khusus menargetkan segmen konsumen kelas atas. Namun, yang membedakan Denza adalah pendekatannya yang menawarkan kemewahan dan kecanggihan dengan harga yang lebih rasional jika dibandingkan dengan mobil premium konvensional. “Selama ini mobil luxury identik dengan harga yang sangat mahal. Denza mencoba mendefinisikan ulang bahwa mobil canggih dan mewah itu tidak harus unreachable,” ujar Hariyadi Kaimuddin.

Saat ini, Denza mengandalkan model MPV listrik premium sebagai ujung tombak penjualannya. Namun, perusahaan telah merencanakan untuk memperkenalkan berbagai model lain di masa mendatang. Diversifikasi produk ini bertujuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan konsumen, mulai dari segmen sedan hingga SUV, memastikan bahwa Denza dapat menjangkau spektrum pasar yang lebih luas.

Menghapus Keraguan Terhadap Mobilitas Jarak Jauh

Hariyadi Kaimuddin mengakui bahwa keraguan konsumen mengenai kemampuan mobil listrik untuk melakukan perjalanan jarak jauh perlahan-lahan mulai terkikis. Meskipun penetrasi kendaraan listrik di Indonesia baru mencapai sekitar 12 persen dari total penjualan mobil baru, tren ini menunjukkan peningkatan yang konsisten. “Tahun depan diprediksi bisa tembus 20 persen. Ini bukan tren sesaat, tapi pergeseran yang akan terus naik,” katanya optimis.

Baca Juga :  Cara Memilih Jasa Pembuatan Website yang Tepat untuk Bisnis Anda

Ia memberikan contoh negara-negara dengan tingkat adopsi EV yang tinggi, seperti Tiongkok dan Norwegia. Di negara-negara tersebut, penggunaan mobil listrik telah memberikan dampak nyata pada peningkatan kualitas udara dan kenyamanan lingkungan perkotaan. “Kalau EV sudah dominan, udara lebih bersih, jalan tidak berisik. Itu benefit nyata yang sering tidak dihitung,” tegasnya, menyoroti manfaat lingkungan yang seringkali terabaikan.

Infrastruktur Pengisian Daya dan Dukungan Pemerintah

Menjawab kekhawatiran umum mengenai jarak tempuh dan ketersediaan infrastruktur pengisian daya, Hariyadi Kaimuddin menyatakan bahwa pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) kini mulai bergerak seiring dengan pertumbuhan populasi kendaraan listrik, terutama di Pulau Jawa. “Ini memang fase telur dan ayam. Populasi naik, infrastruktur ikut tumbuh. Sekarang di rest area Jawa sudah banyak fast charging dan akan terus bertambah,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dorongan pemerintah terhadap pengembangan kendaraan listrik tidak terlepas dari upaya strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan beban subsidi energi. Selain itu, inisiatif ini juga bertujuan untuk mendukung kemandirian energi nasional.

Ekspansi Agresif di Jawa Timur dan Proyeksi Pasar

Secara pasar, Jawa Timur dinilai sebagai wilayah dengan potensi terbesar kedua setelah Jabodetabek. Oleh karena itu, Haka Auto menargetkan ekspansi yang agresif dengan rencana pembukaan 13 hingga 15 cabang di seluruh Jawa Timur dalam beberapa tahun ke depan. “Kami tidak berpikir jangka pendek. Kalau kami tidak hadir dulu, masyarakat tidak akan berani mencoba. EV itu begitu dipakai, biasanya tidak mau kembali ke mobil konvensional,” ujar Hariyadi.

Setiap cabang yang dibuka akan dilengkapi dengan layanan purnajual yang komprehensif dan fasilitas pengisian daya. Tujuannya adalah untuk membangun kepercayaan konsumen dan memberikan rasa aman dalam menggunakan kendaraan listrik.

Baca Juga :  Berbeda dari Bank Dunia, Waka MPR Eddy Yudhoyono Optimis Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5%

Meskipun segmen MPV listrik premium mungkin tidak sebesar kendaraan mass market, Hariyadi menilai bahwa pasar ini telah terbentuk dengan baik dan relatif stabil. “Secara nasional mungkin sekitar 600 unit per bulan. Saat ini Denza sudah menjadi mayoritas di segmen tersebut,” klaimnya, menunjukkan dominasi Denza di segmennya.

Keunggulan Denza: Kemewahan yang Terjangkau

Keunggulan utama Denza, menurut Hariyadi, terletak pada kombinasi kenyamanan superior, fitur-fitur canggih, dan harga yang jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan merek-merek premium dari Eropa. “Keyword-nya itu affordability luxury. Fitur lebih banyak, tapi harganya lebih masuk akal,” tegasnya, menggarisbawahi proposisi nilai unik Denza.

Menjelang tahun 2026, beberapa insentif kendaraan listrik yang saat ini berlaku dipastikan akan berakhir. Hariyadi mengakui bahwa pihaknya masih menunggu kepastian regulasi lebih lanjut, terutama terkait kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan kebijakan produksi lokal. “Yang jelas, arah kebijakan pemerintah mendorong produksi di dalam negeri dengan TKDN minimal 40 persen,” katanya, merujuk pada Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Ia memprediksi bahwa harga kendaraan listrik di masa depan akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebijakan pajak hingga kesiapan industri manufaktur lokal.

Selain Surabaya, Denza juga tengah mempersiapkan ekspansi ke kota-kota besar lainnya seperti Makassar, Bandung, dan Medan. Langkah ini diambil untuk memperluas jangkauan pasar nasional dan menjangkau lebih banyak konsumen potensial. “Kami tidak menunggu semuanya sempurna. Kalau menunggu, masyarakat keburu tertinggal,” tutup Hariyadi. Ia memiliki optimisme yang tinggi bahwa seiring dengan pertumbuhan infrastruktur dan populasi kendaraan listrik, mobil listrik, termasuk di segmen premium, akan semakin relevan dan menjadi pilihan utama di pasar Indonesia.