Alreinamedia.com – Belum terungkapnya apakah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut menjadi sasaran penyadapan menjadi salah satu pertanyaan penting dalam membaca perkara yang menyeret mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Pengamat politik sekaligus Direktur SCL Taktika Konsultan, Iqbal Themi, menilai kasus tersebut dapat menguji arah hubungan politik Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo.
Menurut Iqbal, kepastian mengenai sasaran penyadapan diperlukan untuk memahami pola serta kepentingan di balik perkara. Posisi Gibran, yang juga putra Jokowi, membuat informasi itu relevan dalam menilai dinamika hubungan kedua tokoh, meski belum ada kepastian bahwa ia ikut menjadi target.
Penyidik menyebut dugaan penyadapan terhadap Prabowo berlangsung sejak 2025. Iqbal meminta proses penyidikan mengungkap motif dan jalur informasi yang diduga diperoleh, serta menjelaskan pihak yang berkepentingan terhadap informasi Presiden.
“Kalau Presiden diduga disadap sejak 2025, pertanyaan politik yang paling mendasar adalah siapa yang berkepentingan terhadap informasi tersebut,” kata Iqbal. Ia menekankan, penyidikan perlu menjawab apakah tindakan itu hanya terkait para tersangka atau juga memiliki kepentingan lain.
Perhatian terhadap Listyo, kata Iqbal, tidak lepas dari perjalanan kariernya di lingkar pemerintahan Jokowi. Ia menyebut Listyo memiliki kedekatan dengan Jokowi sejak di Solo, kemudian pernah menjadi ajudan Presiden sebelum dipercaya menjabat Kapolri. Latar belakang itu, menurutnya, memunculkan pertanyaan politik setelah Listyo terseret dugaan penyadapan terhadap Prabowo.
Iqbal juga mengingatkan bahwa pergantian presiden belum tentu menghapus pengaruh kelompok yang sebelumnya berada dalam kekuasaan. Jaringan loyalitas, ujarnya, dapat bertahan dan membawa kepentingan sendiri; persoalan dapat timbul jika kepentingan tersebut berbenturan dengan kewenangan pemerintahan yang sedang berjalan.
Ia menilai, kedekatan personal Prabowo dan Jokowi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kepentingan politik mereka masih sejalan. “Ujian sesungguhnya bukan apakah Prabowo dan Jokowi masih terlihat akrab, melainkan apakah pengaruh politik Jokowi masih memiliki ruang yang sama dalam pemerintahan Prabowo,” tutur Iqbal. Menurutnya, ruang pengaruh tersebut dapat menjadi petunjuk apakah hubungan politik keduanya mengalami keretakan atau berubah melalui kompromi baru.

















