Kisah Pilu Nunun Lusida: Rp700 Juta Lenyap, Janji Modal Politik Vicky Prasetyo Tak Terpenuhi
Kisah mengejutkan datang dari Nunun Lusida, seorang wanita berusia 60 tahun, yang secara terbuka mengaku menjadi korban dari aktor dan presenter ternama, Vicky Prasetyo. Nunun mengklaim telah meminjamkan uang dengan jumlah fantastis, mencapai Rp700 juta, kepada Vicky Prasetyo. Dana tersebut konon diperuntukkan sebagai modal politik, sebuah janji yang kini berujung pada kekecewaan mendalam bagi Nunun.
Dengan nada suara yang dipenuhi kepedihan, Nunun menceritakan kronologi kejadian yang membuatnya terjerat dalam utang piutang dengan sosok publik yang kerap tampil glamor. Ia mengaku memberikan kepercayaan penuh kepada Vicky, tergerak oleh narasi perjuangan dan ambisi politik yang disampaikan oleh sang artis. Namun, harapan untuk melihat Vicky sukses dalam kontestasi politik, sekaligus mengembalikan dananya, kini pupus. Pelunasan yang dijanjikan tak kunjung terealisasi, meninggalkan Nunun dalam situasi finansial yang sulit.
“Saya lihat di media sosial, usahanya terlihat maju, membuka bisnis, beli rumah miliaran. Tapi kenapa uang saya tidak dikembalikan?” ujar Nunun sambil menahan tangis saat menggelar jumpa pers di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Pernyataan ini mencerminkan rasa frustrasi dan ketidakpercayaan Nunun terhadap itikad baik Vicky Prasetyo. Gaya hidup mewah Vicky yang kerap terpampang di berbagai platform media sosial, mulai dari potret liburan eksotis, koleksi kendaraan mewah, hingga berbagai aktivitas glamor lainnya, dinilai sangat kontras dengan kondisi utang yang belum terselesaikan.
Nunun menambahkan bahwa hingga saat ini, belum ada itikad baik yang ditunjukkan oleh Vicky Prasetyo untuk mengembalikan uang yang telah dipinjamnya. Setiap kali ditagih, Vicky selalu memberikan dalih. Komunikasi terakhir Nunun dengan Vicky terjadi pada bulan lalu. Saat itu, Vicky kembali berjanji akan memenuhi kewajibannya dan meminta nomor rekening Nunun. Nunun pun telah memberikan detail rekeningnya, dan Vicky berjanji akan mentransfer dana pada hari Senin, dengan pesan agar Nunun mengingatkannya kembali. Namun, hingga hari Senin tiba, janji tersebut tak kunjung ditepati.
“Tidak ada jawaban, tidak ada balasan. Sampai detik ini tidak ada jawaban apa pun ke saya,” ungkap Nunun dengan nada kecewa. Situasi ini semakin diperparah dengan pengakuan Nunun bahwa ia kini harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Perjuangan Finansial Nunun dan Janji Politik yang Gagal
Kondisi Nunun Lusida yang tengah berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari turut menjadi sorotan. Kuasa hukum Nunun, James Tambunan, menjelaskan bahwa kliennya kini harus memikirkan biaya hidup sehari-hari, sementara Vicky Prasetyo, yang berstatus sebagai figur publik, masih aktif tampil di layar kaca dan menjalankan berbagai usaha.
Nunun berharap agar Vicky Prasetyo segera melunasi utang tersebut. Ia menegaskan bahwa keinginannya sederhana, yaitu agar uangnya dikembalikan demi kelangsungan hidupnya dan anak-anaknya. “Saya tidak minta lebih. Saya hanya ingin uang saya dikembalikan untuk kehidupan saya dan anak-anak,” tuturnya penuh harap.
Akar permasalahan ini bermula ketika Vicky Prasetyo berhasil meyakinkan keluarga Nunun untuk meminjamkan dana sebesar Rp700 juta sebagai modal politik. Dalam kesepakatan awal, Vicky juga berjanji akan menggandeng mantan suami Nunun sebagai calon wakil bupati di Kabupaten Bandung Barat pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 lalu. Nunun mengungkapkan bahwa Vicky pada saat itu menjanjikan pengembalian dana tersebut dalam jangka waktu tiga hari.
Namun, janji tersebut tak pernah terwujud. Tidak hanya Vicky tidak jadi menggandeng mantan suami Nunun dalam kontestasi politik, tetapi dana pinjaman senilai ratusan juta rupiah itu hingga kini belum juga dikembalikan. Ketidakjelasan dan penundaan ini telah menimbulkan kerugian materiil dan emosional yang signifikan bagi Nunun Lusida.
Upaya untuk mendapatkan klarifikasi dari pihak Vicky Prasetyo terkait tudingan ini telah dilakukan. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi yang diterima. Kasus ini menjadi sorotan publik, mengingatkan kembali pentingnya transparansi dan integritas, terutama ketika melibatkan dana masyarakat dan kepercayaan yang telah diberikan.

















