Berita Utama

Gembok Keraton Solo: Budaya Terancam Pasca Pertemuan Gibran

×

Gembok Keraton Solo: Budaya Terancam Pasca Pertemuan Gibran

Sebarkan artikel ini

Ketegangan Memuncak di Keraton Kasunanan: Perebutan Akses Fisik dan Dampaknya pada Warisan Budaya

Konflik internal di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali memanas, kali ini dengan isu perebutan akses fisik melalui aksi penggantian gembok. Peristiwa ini menjadi babak baru dalam perseteruan yang semakin rumit, bahkan terjadi tak lama setelah upaya mediasi yang melibatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Penguasaan pintu-pintu strategis oleh salah satu pihak dinilai merugikan masyarakat luas dan menghambat pelestarian cagar budaya.

Akses yang Terkunci, Warisan yang Terancam

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi, menyatakan keprihatinannya atas tindakan penguasaan pintu-pintu strategis oleh pihak yang mengatasnamakan Sinuhun Purbaya. Menurutnya, aksi penggantian gembok secara sepihak ini bukan sekadar persoalan keluarga, melainkan telah menimbulkan dampak signifikan terhadap hajat hidup masyarakat dan kelestarian sejarah.

Penutupan akses ini bahkan sempat menyebabkan lumpuhnya operasional Museum Keraton bagi para wisatawan. Akibatnya, publik kehilangan haknya untuk menikmati warisan budaya yang berharga, sementara agenda konservasi bangunan cagar budaya yang seharusnya berjalan lancar justru terhenti.

Baca Juga :  Pemkot Tanjungpinang Masukkan Sapi dari Luar Daerah

“Digembok-gembok paksa merugikan masyarakat juga mengganggu program konservasi,” tegas KPH Eddy Wirabhumi, menyoroti kerugian ganda yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut.

Balas-Membalas di Gerbang Keraton

Situasi memanas pada Jumat sore, 16 Januari 2026. Menanggapi aksi kubu Purbaya yang dikabarkan menggunakan gerinda untuk membongkar gembok lama demi mendapatkan akses masuk, LDA bersama Maha Menteri KG Panembahan Agung Tedjowulan mengambil langkah tegas. Mereka melakukan penggantian kembali kunci-kunci di sejumlah titik yang sebelumnya dikuasai oleh kubu Purbaya.

Manuver ini dilakukan oleh LDA, yang secara organisasi mendukung Pakubuwono XIV Hangabehi, sebagai upaya untuk merebut kembali kendali atas wilayah-wilayah strategis di lingkungan keraton. Aksi saling kunci-mengunci ini menciptakan gambaran ketegangan yang nyata di gerbang-gerbang bersejarah keraton.

Di Balik Pesan Sejuk Wapres Gibran

Ironisnya, drama penggantian gembok ini terjadi hanya berselang beberapa jam setelah pertemuan kedua belah pihak dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sebelumnya, usai menunaikan salat Jumat di Masjid Agung, Gibran telah menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya menjaga kondusivitas Kota Solo.

“Kami titip ke Pak Wali mohon selalu dijaga kondusifitasnya. Aset-aset yang sudah terbangun mohon bisa ter-maintain dengan baik. Kota Solo yang penuh kebudayaan dijaga semua. Itu aja,” ungkap Gibran, menyampaikan harapannya agar situasi tetap stabil dan aset-aset budaya terawat dengan baik. Pesan tersebut tampaknya belum sepenuhnya meredam ketegangan yang ada.

Baca Juga :  Catut Nama Kajari Natuna, Oknum Minta Uang Lewat WhatsApp – Masyarakat Diminta Waspada

Akar Konflik: Dua Matahari di Satu Langit

Perselisihan yang memicu ketegangan ini berakar dari dualitas kepemimpinan yang muncul pasca wafatnya Sinuhun Pakubuwono XIII pada November 2025. Sejak saat itu, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat seolah memiliki dua figur yang mengklaim takhta:

  • PB XIV Purbaya: Ia mendeklarasikan diri sebagai penerus takhta saat prosesi pemakaman ayahandanya.
  • PB XIV Hangabehi: Ia kemudian dinobatkan oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) dalam sebuah upacara di Sasana Handrawina.

Hingga kini, pintu-pintu kayu jati keraton yang memiliki nilai sejarah tinggi masih menjadi saksi bisu atas perebutan legitimasi kekuasaan. Selama kunci dan gembok masih menjadi objek sengketa, masa depan pemugaran keraton dan kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke pusat kebudayaan Jawa ini akan terus diliputi ketidakpastian.