Pemetaan Risiko Bencana Hingga Tingkat Individu: Kunci Strategis NTT Hadapi Ancaman Bencana dan El Nino
KUPANG – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi tantangan besar dalam penanganan bencana, terutama dengan ancaman fenomena El Nino yang diprediksi berdampak luas. Menyadari hal ini, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menekankan perlunya pendekatan strategis yang lebih mendalam, yaitu pemetaan risiko bencana hingga menyentuh tingkat individu masyarakat. Langkah ini dianggap krusial untuk meningkatkan efektivitas penanganan bencana, khususnya di wilayah yang memiliki karakteristik kering dan rentan mengalami bencana berulang.
“Kita harus memetakan secara rinci dengan pendekatan ‘by name by address’, tidak hanya wilayahnya, tetapi juga siapa saja masyarakat yang terdampak,” ujar Gubernur Melki saat menerima Tim SIAP SIAGA Provinsi NTT di Rumah Jabatan Gubernur, Sabtu (28/3/2026). Pendekatan ini, menurutnya, akan memastikan bahwa bantuan dan mitigasi dapat menjangkau pihak yang paling membutuhkan secara tepat sasaran.
Pentingnya pemetaan berbasis data ini semakin mendesak mengingat potensi dampak El Nino yang diperkirakan akan meluas di NTT. Wilayah dengan curah hujan rendah dan kondisi alam yang kering menjadi lebih rentan terhadap bencana seperti kekeringan, kebakaran hutan, dan krisis air bersih.
Antisipasi Skenario Terburuk dan Pendekatan Multidimensi
Gubernur Melki juga mengingatkan agar NTT tidak hanya fokus pada potensi bencana yang terlihat, tetapi juga perlu mengantisipasi skenario terburuk dengan mempertimbangkan dinamika global. Perubahan lingkungan, kondisi ekonomi yang fluktuatif, hingga dinamika geopolitik dapat memicu eskalasi dampak bencana di berbagai sektor.
“Berdasarkan informasi BMKG, kita perlu mengantisipasi kemungkinan terburuk. Kondisi alam, ekonomi, dan geopolitik saat ini bisa memicu eskalasi dampak di berbagai sektor,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gubernur Melki menekankan bahwa penanganan bencana harus dilakukan secara komprehensif dan multidimensi. Ini berarti bahwa upaya penanganan tidak hanya terbatas pada fase tanggap darurat ketika bencana telah terjadi, melainkan juga harus mencakup tahap pra-bencana (pencegahan dan mitigasi) serta pascabencana (rehabilitasi dan rekonstruksi).
“Penanganan bencana bukan hanya tanggung jawab BPBD, tetapi harus melibatkan seluruh sektor sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan masyarakat NTT,” tambahnya. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat, instansi pemerintah, sektor swasta, dan organisasi non-pemerintah menjadi kunci dalam membangun ketahanan bencana yang kuat.
Peran Program SIAP SIAGA dalam Penguatan Kesiapsiagaan
Dalam pertemuan tersebut, Silvia Fanggidae dari Tim SIAP SIAGA Provinsi NTT menjelaskan bahwa program yang telah berjalan sejak Maret 2020 ini berfokus pada penguatan sistem pra-bencana. Salah satu fokus utamanya adalah kolaborasi dengan BPBD Provinsi NTT dalam mendorong integrasi aspek kebencanaan ke dalam perencanaan pembangunan daerah.
Silvia menyoroti pentingnya kesiapsiagaan menghadapi El Nino yang diprediksi kuat tahun ini. Kolaborasi lintas sektor menjadi sangat vital dalam menghadapi ancaman ini. “Berbagai kejadian bencana di daerah seperti Kabupaten Flores Timur menjadi pengingat bahwa setiap bencana membawa dampak signifikan bagi masyarakat,” ujarnya, merujuk pada pengalaman pahit akibat siklon tropis Seroja beberapa waktu lalu.
Tim SIAP SIAGA Provinsi NTT tidak hanya fokus pada pendampingan dan penguatan kapasitas, tetapi juga berkontribusi dalam dokumentasi dan pembelajaran. Mereka telah menyusun buku pembelajaran pascabencana Siklon Tropis Seroja yang rencananya akan diluncurkan pada April 2026. Selain itu, mereka juga akan menggelar peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2026 sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana.
BPBD dan Sinergi dengan Tim SIAP SIAGA
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT, Mahadin Sibarani, menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan kontribusi Tim SIAP SIAGA. Menurutnya, kehadiran tim tersebut sangat membantu dalam pelaksanaan tugas kebencanaan. Bantuan tersebut mencakup berbagai tahapan, mulai dari pra-bencana, tanggap darurat, hingga pascabencana dan evaluasi. Sinergi antara BPBD dan tim SIAP SIAGA diharapkan dapat terus ditingkatkan untuk efektivitas penanganan bencana di NTT.
Menutup pertemuan, Gubernur Melki menegaskan kembali komitmennya bahwa tahun 2026 harus menjadi momentum penting untuk memperkuat proyeksi dan pengendalian risiko bencana di seluruh kabupaten dan kota di NTT. Dengan pemetaan risiko yang detail, antisipasi skenario terburuk, dan kolaborasi yang kuat, NTT diharapkan dapat lebih tangguh dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan.

















