Bisnis

InJourney Genjot Portofolio Hotel: 39 Jadi 106 Unit di 2024

×

InJourney Genjot Portofolio Hotel: 39 Jadi 106 Unit di 2024

Sebarkan artikel ini

Transformasi InJourney: Ekspansi Bisnis Hotel dan Pelestarian Warisan Budaya

PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero), yang dikenal sebagai InJourney, tengah menggarap rencana ambisius untuk memperluas portofolio hotelnya secara signifikan. Perusahaan BUMN yang bergerak di sektor aviasi dan pariwisata ini berencana meningkatkan jumlah hotel yang dikelolanya dari 39 unit menjadi 106 unit pada tahun 2026.

Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyampaikan rencana besar ini dalam sebuah konferensi pers yang bertajuk “4 Tahun InJourney: Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia”. Menurut Maya, proses konsolidasi hotel-hotel ini sedang berjalan dan melibatkan diskusi intensif dengan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, selaku pemegang saham InJourney. Meskipun detail mengenai alasan spesifik di balik konsolidasi ini masih dirahasiakan hingga beberapa bulan ke depan, Maya menekankan bahwa tujuan utamanya adalah menyelaraskan kegiatan bisnis dengan core business atau bisnis inti masing-masing perusahaan di bawah naungan InJourney.

“Hotel, sekarang ini kami kelola 39, tapi tahun ini akan konsolidasi ke 106 hotel,” ujar Maya Watono. Ia melanjutkan, “Jadi, semua kami kembalikan sesuai dengan core business. Tujuannya supaya kami juga fokus terhadap bisnis dan melakukan business model yang fundamental dan berkelanjutan ke depan.”

Strategi Penguatan Fondasi BUMN

Lebih lanjut, Maya Watono mengungkapkan ambisinya untuk membangun fondasi yang kokoh bagi seluruh BUMN yang berada di bawah payung InJourney. Dengan fondasi yang kuat, Maya meyakini bahwa BUMN-BUMN tersebut akan mampu bertransformasi menjadi perusahaan yang berkelanjutan dan mampu bersaing di kancah global.

Baca Juga :  Kegagalan Perdamaian dan Ancaman Blokade Trump, Harga Minyak Tembus 100 Dolar

“Kami harus membangun fondasi yang kuat agar BUMN di bawah InJourney bisa menjadi perusahaan yang kuat, sustainable, dan bisa berkompetisi dengan global benchmark lainnya,” tegas Maya.

Menghidupkan Kembali Ikon Sejarah: Grand Hotel De Djokja

Salah satu inisiatif menarik yang juga diungkapkan dalam kesempatan tersebut adalah rencana peluncuran hasil transformasi Grand Hotel De Djokja. Hotel bersejarah yang berlokasi strategis di Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini memiliki nilai sejarah yang sangat kaya sejak didirikan pada tahun 1911. Hotel ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah bangsa, bahkan pernah menjadi markas bagi Jenderal Sudirman.

Maya Watono berharap peluncuran kembali Grand Hotel De Djokja ini dapat menjadi ikon pariwisata baru di tahun 2026. Upaya ini merupakan wujud komitmen InJourney dalam melestarikan kekayaan budaya Indonesia.

“Ini adalah usaha kami, InJourney, untuk melestarikan budaya Indonesia. Kami ingin mengembalikan De Djokja ini seperti tahun 1911,” ujar Maya dengan penuh semangat.

Rencana transformasi Grand Hotel De Djokja ini mencakup berbagai aspek, mulai dari renovasi fisik untuk mengembalikan keagungan arsitekturnya, hingga penyesuaian layanan agar sesuai dengan standar hotel modern tanpa kehilangan sentuhan historisnya. Tujuannya adalah menciptakan pengalaman menginap yang unik, memadukan kenyamanan masa kini dengan pesona masa lalu, sehingga menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.

Baca Juga :  Honda NXR 160 Bros 2026 resmi meluncur: penantang serius KLX dan WR di Indonesia

Dampak Ekspansi Bisnis Hotel

Ekspansi portofolio hotel InJourney ini diharapkan tidak hanya memperkuat posisi perusahaan di industri pariwisata, tetapi juga memberikan dampak positif yang lebih luas. Beberapa potensi dampak tersebut antara lain:

  • Peningkatan Kapasitas Akomodasi: Dengan penambahan jumlah hotel, InJourney akan mampu menampung lebih banyak wisatawan, yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan sektor pariwisata secara keseluruhan.
  • Penciptaan Lapangan Kerja: Pembangunan dan operasional hotel baru akan membuka berbagai peluang kerja, mulai dari tenaga konstruksi, manajemen hotel, hingga staf operasional.
  • Pengembangan Ekonomi Lokal: Keberadaan hotel-hotel baru dapat merangsang pertumbuhan ekonomi di daerah sekitarnya, melalui peningkatan permintaan terhadap produk dan jasa lokal.
  • Penguatan Merek Pariwisata Indonesia: Dengan memiliki jaringan hotel yang kuat dan beragam, InJourney dapat berkontribusi dalam mempromosikan pariwisata Indonesia di kancah internasional.
  • Revitalisasi Aset Bersejarah: Upaya seperti transformasi Grand Hotel De Djokja menunjukkan komitmen InJourney dalam menjaga dan memanfaatkan aset-aset bersejarah, memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus edukasi budaya.

Proyeksi InJourney untuk mencapai 106 hotel pada tahun 2026 menandakan sebuah langkah strategis yang matang. Fokus pada core business dan pembangunan fondasi yang kuat diharapkan akan menjadikan InJourney sebagai pemain utama yang tangguh dan berkelanjutan di industri pariwisata global, sembari tetap menjaga warisan budaya bangsa.