Human Interest

Janda Empat Anak Aceh Singkil: Gubuk Reyot Berubah Jadi Rumah Impian

×

Janda Empat Anak Aceh Singkil: Gubuk Reyot Berubah Jadi Rumah Impian

Sebarkan artikel ini

Kisah Mawarni: Perjuangan Ibu Tunggal Membesarkan Empat Anak dalam Gubuk Reyot

Di Desa Tanah Bara, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, sebuah kisah haru tentang keteguhan seorang ibu tunggal tengah menjadi sorotan. Mawarni, seorang janda berusia 30 tahun, kini harus memikul tanggung jawab penuh sebagai tulang punggung bagi keempat buah hatinya yang masih kecil. Kehidupan mereka jauh dari kata layak, terpaksa tinggal dalam sebuah gubuk reyot berukuran hanya 4×4 meter. Kondisi hunian yang memprihatinkan ini memaksa ruang gerak mereka sangat terbatas, di mana satu-satunya ruangan yang ada harus berfungsi ganda sebagai tempat tidur, ruang keluarga, sekaligus dapur.

Tragedi menimpa Mawarni dua tahun lalu ketika sang suami meninggal dunia. Sejak saat itu, ia berjuang sendirian untuk menghidupi dan membesarkan keempat anaknya yang kini berstatus yatim. Demi memastikan anak-anaknya tidak kelaparan, Mawarni rela melakukan pekerjaan serabutan apa pun yang bisa ia temukan. Segala upaya dilakukannya, tak peduli beratnya pekerjaan, demi satu tujuan mulia: memberikan sesuap nasi kepada buah hatinya.

Kondisi kehidupan Mawarni yang penuh keterbatasan ini akhirnya menyentuh hati banyak orang, termasuk Gerakan Relawan Rumah Dhuafa (Garda) Indonesia. Melihat perjuangan luar biasa Mawarni, Garda Indonesia menyatakan komitmen kuat untuk membangunkan sebuah rumah yang layak huni bagi ibu dan keempat anaknya. Kepastian pembangunan rumah ini semakin terbuka setelah pihak keluarga mendiang suami Mawarni, melalui Tianna (70) selaku ibu dari almarhum, bersedia menghibahkan sebidang tanah.

Baca Juga :  Bentrok Konvoi Bantuan Aceh: Akademisi USK Prihatin

“Kami berharap Garda Indonesia bersedia membangun rumah layak huni untuk Mawarni dan anak-anaknya. Kami sudah menyiapkan surat hibah sebidang tanah untuk keperluan tersebut,” ujar Tianna saat menyambut kedatangan tim relawan Garda Indonesia di lokasi. Dukungan dari keluarga almarhum suami menjadi angin segar dan harapan baru bagi Mawarni untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik.

Garda Indonesia Jadikan Pembangunan Rumah Mawarni Prioritas Utama

Bagi Garda Indonesia, kasus Mawarni menjadi salah satu prioritas utama yang harus segera ditangani. Darwis, ST, selaku Penggerak Utama Garda Indonesia Kabupaten Aceh Singkil, menegaskan bahwa berdasarkan kesepakatan para pengurus, pembangunan rumah untuk Mawarni telah ditetapkan sebagai program prioritas tertinggi.

“Pembangunan rumah Mawarni sudah ditetapkan menjadi prioritas Garda Indonesia,” tegas Darwis pada Kamis (25/12/2025). Pernyataan ini memberikan jaminan bahwa upaya bantuan akan segera dilakukan.

Inisiator Garda Indonesia, Aduwina Pakeh, turut menyambut baik usulan dari tim lapangan. Ia mengaku sangat tersentuh dan sedih melihat kenyataan pahit yang dihadapi Mawarni dan keempat anaknya. “Sangat sedih melihat kondisi Ibu Mawarni dan empat anaknya,” ungkapnya dengan nada prihatin. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana keempat anak tersebut harus tumbuh besar dalam kondisi hunian yang jauh dari standar kelayakan.

Baca Juga :  Shammie Zacky: Debut Dakar 2026 Indonesia

Kolaborasi Donasi Rp 10.000 Per Bulan untuk Rumah #R007

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Garda Indonesia sepakat untuk membangun rumah bagi Mawarni melalui program donasi kolektif dengan skema Rp 10.000 per bulan. Rumah yang akan dibangun untuk Mawarni ini akan diberi kode #R007, menandakan sebagai rumah ketujuh yang berhasil dibangun oleh komunitas Garda Indonesia.

“Kami menetapkan rumah tersebut sebagai #R007 atau rumah ketujuh yang dibangun oleh komunitas ini,” jelas Aduwina Pakeh. Pembangunan rumah #R007 ini akan sepenuhnya didanai oleh kekuatan kolektif dari gerakan berbagi Rp 10.000 per bulan yang digalakkan oleh Garda Indonesia.

Aduwina Pakeh juga secara khusus mengajak seluruh penggerak dan donatur tetap, terutama yang berada di wilayah Aceh Singkil dan Kota Subulussalam, untuk kembali mengaktifkan sosialisasi program ini. Tujuannya adalah agar semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk terlibat dalam gerakan berbagi ini.

“Semakin banyak yang bergabung, semakin banyak duafa dan anak yatim yang bisa kita bantu memiliki hunian layak,” pungkas Aduwina Pakeh, menekankan pentingnya partisipasi publik dalam mewujudkan mimpi Mawarni dan anak-anaknya untuk memiliki rumah yang aman dan layak. Gerakan ini menunjukkan bahwa kepedulian sekecil apapun, jika dilakukan secara kolektif, mampu memberikan dampak yang luar biasa bagi mereka yang membutuhkan.