Human Interest

Jasad Petani Banyuwangi Ditemukan Mengambang di Jembrana

×

Jasad Petani Banyuwangi Ditemukan Mengambang di Jembrana

Sebarkan artikel ini

Penemuan Mayat di Perairan Pengambengan: Kisah Tragis Petani Banyuwangi yang Hanyut

Sebuah penemuan mengejutkan terjadi di perairan Pengambengan, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali, pada Minggu malam, 11 Januari. Sesosok mayat ditemukan mengambang di Selat Bali, menimbulkan kesedihan dan keprihatinan mendalam bagi masyarakat setempat maupun keluarga korban. Penemuan ini mengakhiri upaya pencarian yang telah dilakukan selama beberapa hari oleh tim SAR gabungan.

Kronologi Penemuan yang Mengejutkan

Mayat tersebut pertama kali ditemukan oleh para nelayan yang sedang beraktivitas di perairan Pengambengan. Lokasi penemuan berada di koordinat 8°24’29.51″ LS – 114°35’58” BT, dengan jarak sekitar 16 nautical mile (NM) dari Muara Bomo ke arah Tenggara. Kondisi mayat yang mengambang di laut menandakan bahwa korban telah terbawa arus cukup jauh dari titik awal hilangnya.

Identitas Korban Terungkap

Setelah dilakukan identifikasi, korban diketahui bernama Alapi Hariyono, seorang pria berusia 64 tahun. Beliau berprofesi sebagai petani dan merupakan warga Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Jawa Timur. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Alapi Hariyono telah dilaporkan hanyut sejak hari Rabu, 7 Januari, lalu. Jarak antara lokasi hilangnya korban di Sungai Gumirih, Banyuwangi, dengan lokasi penemuan di perairan Pengambengan, Bali, menunjukkan betapa kuatnya arus yang membawanya.

Baca Juga :  Prestasi Kalimantan di Puteri Indonesia: Jumlah Terbanyak!

Upaya Pencarian yang Intensif

Mengetahui adanya laporan orang hilang, tim SAR gabungan segera bergerak melakukan operasi pencarian. Upaya pencarian telah dimulai sejak hari pertama Alapi Hariyono dilaporkan menghilang. Awalnya, tim SAR memfokuskan pencarian di sepanjang Sungai Gumirih, tempat korban terakhir kali terlihat. Namun, pencarian di sungai tersebut belum membuahkan hasil yang diharapkan.

Operasi pencarian terus dilakukan dengan gigih selama empat hari berturut-turut. Tim SAR gabungan, yang terdiri dari berbagai unsur, mengerahkan seluruh kemampuan dan sumber daya yang ada untuk menemukan korban. Berbagai teknik pencarian dan penyisiran dilakukan, baik di darat maupun di perairan.

Harapan yang Terwujud di Perairan Bali

Pada hari keempat operasi pencarian, harapan keluarga dan tim SAR mulai membuahkan hasil. Kabar mengenai ditemukannya sesosok mayat di perairan Pengambengan, Negara, Jembrana, Bali, akhirnya sampai kepada tim SAR Banyuwangi. Penemuan ini menjadi titik akhir dari rentetan upaya pencarian yang penuh ketegangan.

Kepala Kantor SAR Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam operasi pencarian ini.

“Pada hari keempat operasi SAR, korban yang hanyut di Sungai Gumirih berhasil ditemukan di Perairan Laut Pengambengan (Bali),” ujar I Made Oka Astawa. Beliau menambahkan, “Kami ucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh unsur SAR gabungan serta masyarakat yang telah terlibat aktif dalam proses pencarian. Terima kasih, korban akhirnya berhasil ditemukan.”

Baca Juga :  Kawih Sunda: Mengembalikan Kejayaan Melalui Sarasehan

Evakuasi dan Penyerahan Jenazah

Setelah berhasil ditemukan, jenazah Alapi Hariyono segera dievakuasi oleh tim SAR gabungan. Proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati mengingat kondisi jenazah. Setelah berhasil diangkat dari perairan, jenazah kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses selanjutnya, termasuk pemakaman.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan kekuatan alam yang terkadang tidak terduga dan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana. Keberhasilan tim SAR gabungan dalam menemukan korban, meskipun dalam kondisi yang tragis, menunjukkan dedikasi dan profesionalisme mereka dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Solidaritas dan kerja sama antara berbagai unsur, termasuk masyarakat, menjadi kunci dalam keberhasilan operasi pencarian ini.

Kisah Alapi Hariyono, seorang petani yang harus mengakhiri hidupnya di perairan yang jauh dari kediamannya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabatnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. Kejadian ini juga menekankan pentingnya kesadaran akan keselamatan diri, terutama bagi mereka yang beraktivitas di dekat perairan atau sungai.