Human Interest

Kawih Sunda: Mengembalikan Kejayaan Melalui Sarasehan

×

Kawih Sunda: Mengembalikan Kejayaan Melalui Sarasehan

Sebarkan artikel ini

Menelisik Kekayaan Kawih Sunda: Upaya Memperjelas Identitas Melalui Sarasehan Budaya

Bandung – Diskusi mendalam mengenai seluk-beluk kawih Sunda telah mengemuka dalam sebuah forum yang menghadirkan para budayawan, seniman, dan akademisi. Kegiatan yang bertajuk “Sarasehan Kawih” ini berlangsung di Bale Rumawat Universitas Padjadjaran, Bandung, sejak Rabu, 14 Januari 2026. Acara ini merupakan inisiatif dari Pusat Budaya Sunda, yang berkolaborasi dengan Kadamas Puseur dan Pangauban Kawih Sunda.

Acara sarasehan ini dibuka dengan pemaparan oleh Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA. Beliau menekankan urgensi dari kegiatan ini, yaitu untuk merumuskan pemahaman yang lebih presisi dan akurat mengenai kawih Sunda. Menurut Prof. Ganjar, kawih tidak seharusnya dipandang hanya sebagai istilah umum yang mencakup segala jenis lagu berbahasa Sunda. Jika kekeliruan dalam penggunaan istilah ini dibiarkan, dikhawatirkan akan mengaburkan kekayaan sejarah, nilai estetika, serta fungsi sosial yang melekat pada setiap genre seni suara Sunda yang berbeda.

“Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Rumusan yang dihasilkan dari sarasehan ini nantinya akan menjadi acuan, pegangan konseptual, dan landasan akademis yang disepakati oleh masyarakat luas,” ujar Prof. Ganjar dalam pidato pembukaannya.

Sarasehan ini menghadirkan delapan narasumber terkemuka yang masing-masing memiliki keahlian di bidangnya. Mereka adalah Dr. Lili Suparli, M.Sen; Dr. Ismet Ruhimat, M.Hum; Dr. HM Yusuf Wiradiredja, M.Hum; Dika Dzikriawan, M.Hum; Rita Tila, S.Pd, MSen; Dr. Indra Ridwan, MA; Oman Resmana, M.Hum; dan Mustika Iman, MSen. Kehadiran mereka menunjukkan keseriusan dalam mengupas berbagai aspek kawih Sunda.

Pergeseran Zaman dan Krisis Otoritas Estetik dalam Kawih Kapasindenan

Sesi awal diskusi berfokus pada kawih kapasindenan, sebuah genre yang erat kaitannya dengan seni sinden. Pembahasan menitikberatkan pada kedudukan juru kawih (sinden) di tengah dinamika perubahan sosial yang terus berkembang. Dr. Lili Suparli mengemukakan pandangannya bahwa permasalahan yang dihadapi kawih kapasindenan saat ini bukan sekadar persoalan teknis musikal semata, melainkan telah merambah pada krisis otoritas estetik.

Baca Juga :  Meraih Ridha di Ambang Waktu

“Tanpa pijakan konseptual yang jelas, kita akan mudah tergelincir pada standar-standar luar yang belum tentu selaras dengan nilai-nilai luhur budaya Sunda,” tegas Dr. Lili Suparli.

Sementara itu, Dr. Ismet Ruhimat menyoroti sebuah paradoks yang kini tengah dihadapi oleh seni tradisi Sunda. Di satu sisi, seni tradisi ini digembar-gemborkan untuk dilestarikan, namun di sisi lain, seringkali terlepas dari akar filosofisnya.

“Modernisasi pertunjukan Sunda sering kali menjauhkan juru kawih dari fungsi awalnya sebagai penyampai nilai-nilai budaya. Akibatnya, kawih berisiko hanya direduksi menjadi sekadar produk hiburan semata,” jelas Dr. Ismet Ruhimat.

Estetika dan Relasi Rasa dalam Kawih Cianjuran

Perjalanan diskusi kemudian berlanjut ke ranah kawih Cianjuran, yang dikenal dengan keindahan estetikanya dan kedalaman relasi rasa yang dibawakannya. Dr. HM Yusuf Wiradiredja menegaskan bahwa keindahan yang terpancar dari Cianjuran bukanlah hasil dari satu unsur tunggal, melainkan merupakan perpaduan harmonis antara vokal, melodi lagu, dan iringan musik.

Konsep “dongkari” menjadi kunci penting dalam memahami estetika Cianjuran. Dongkari tidak hanya dipahami sebagai teknik ornamentasi vokal semata, melainkan sebagai sebuah sistem estetika yang mengatur batasan-batasan ekspresi agar keindahan yang ditampilkan tetap proporsional dan tidak berlebihan.

Di sisi lain, Dika Dzikriawan menempatkan tembang Sunda Cianjuran sebagai sebuah tradisi musikal yang terus hidup dan berkembang. Tradisi ini terbentuk melalui proses “genetika kultural”, yang mencakup pewarisan, adaptasi, dan transformasi nilai-nilai estetika dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dika menyoroti adanya tantangan serius yang dihadapi Cianjuran. Tanpa upaya reflektif dan strategis yang matang, Cianjuran berpotensi kehilangan resonansi sosialnya di masa mendatang.

Kawih Kreasi dan Pop Sunda: Bukan Ancaman, Melainkan Adaptasi Budaya

Sesi yang membahas kawih kreasi dan pop Sunda menghadirkan sudut pandang yang optimis. Rita Tila menekankan bahwa kawih kreasi dan pop Sunda bukanlah ancaman bagi kelestarian tradisi, melainkan merupakan bentuk adaptasi yang sah dan perlu diapresiasi, asalkan dikelola dengan kesadaran budaya yang tinggi.

Baca Juga :  Naga: Ayah Buruk untuk Luffy? Fakta Mengejutkan

“Kawih kreasi dan pop Sunda memiliki kedudukan yang saling melengkapi. Keduanya justru berperan penting dalam menjaga keberlanjutan musik Sunda, terutama di kalangan generasi muda,” ujar Rita Tila.

Dr. Indra Ridwan menambahkan bahwa pop Sunda telah menjelma menjadi sebuah ruang negosiasi identitas yang sangat dinamis. “Pop Sunda menunjukkan bahwa identitas Sunda itu fleksibel dan lentur, mampu berinteraksi dengan perkembangan zaman tanpa harus kehilangan ciri khasnya yang mendasar,” tuturnya.

Tembang Ciawian dan Cigawiran: Menjaga Kearifan Lokal dari Pedesaan dan Pesantren

Sesi penutup sarasehan ini mengangkat dua bentuk seni suara yang seringkali luput dari perhatian publik, yaitu tembang Ciawian dan Cigawiran. Oman Resmana menegaskan bahwa kedua genre ini merupakan bentuk karawitan mandiri yang lahir dari konteks sosial dan spiritual masyarakat pedesaan serta lingkungan pesantren.

Mustika Iman melengkapi diskusi dengan menekankan pentingnya pengembangan tembang Ciawian dan Cigawiran melalui pendekatan adopsi dan adaptasi yang beretika. “Mengemas ulang karya-karya ini tentu saja boleh dilakukan, tetapi yang terpenting adalah jangan sampai menghilangkan ciri estetik dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya,” pungkas Mustika Iman.

Secara keseluruhan, seluruh peserta sarasehan sepakat bahwa kawih Sunda tidak hanya patut dikenang sebagai warisan berharga dari masa lalu, tetapi juga harus terus dirawat dan dikembangkan sebagai denyut nadi kebudayaan yang hidup dalam kehidupan masyarakat modern. Upaya ini penting untuk memastikan kekayaan seni suara Sunda tetap relevan dan lestari bagi generasi mendatang.