Berita

KNKT: ELT ATR Rusak Akibat Tabrak Lereng

×

KNKT: ELT ATR Rusak Akibat Tabrak Lereng

Sebarkan artikel ini

Tragedi Pesawat ATR 42-500: ELT Rusak Akibat Tabrakan Lereng Gunung, Pencarian Masih Berlangsung

Sebuah pesawat jenis ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak beberapa waktu lalu, menimbulkan kekhawatiran dan upaya pencarian intensif. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah memberikan pernyataan mengenai salah satu komponen penting pesawat yang teridentifikasi. Menurut KNKT, Emergency Locator Transmitter (ELT) atau alat pemancar sinyal darurat pada pesawat nahas tersebut ditemukan rusak. Kerusakan ini diindikasikan akibat benturan keras dengan lereng gunung.

Peran dan Kerusakan ELT

Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menjelaskan bahwa ELT pada pesawat ATR 42-500 tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. “ELT rusak akibat pesawat menabrak lereng,” ujar Soerjanto, mengonfirmasi temuan awal.

ELT sendiri merupakan perangkat krusial dalam keselamatan penerbangan. Perangkat ini berfungsi sebagai penentu lokasi pesawat dan menjadi bagian dari peralatan standar yang wajib ada di setiap pesawat. Prinsip kerjanya sangat vital dalam situasi darurat. ELT biasanya dipasang di bagian belakang pesawat dan dirancang untuk aktif secara otomatis ketika terjadi benturan keras. Selain itu, pilot juga dapat mengaktifkannya secara manual melalui sakelar jarak jauh yang terhubung dengan indikator di kokpit.

Ketika sebuah kecelakaan pesawat terjadi, ELT akan mengirimkan sinyal marabahaya pada frekuensi tertentu. Sinyal ini sangat penting bagi tim pencari dan penyelamat (SAR) untuk melacak lokasi pesawat yang hilang, terutama di medan yang sulit dijangkau. Namun, dalam kasus pesawat ATR 42-500 ini, kerusakan ELT akibat tabrakan lereng gunung membuat fungsinya terganggu, sehingga tidak dapat memberikan sinyal yang diharapkan.

Baca Juga :  Disejalankan Dengan Penyerahan Bantuan Pangan Pemerintah Tahap 2

Misteri Penyebab Hilangnya Kontak

Meskipun KNKT telah mengidentifikasi kerusakan pada ELT, penyebab pasti hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 ini masih menjadi misteri. Soerjanto Tjahjono menegaskan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan penyebab utama kejadian tersebut. Investigasi mendalam masih terus dilakukan oleh tim terkait untuk mengungkap seluruh kronologi dan faktor-faktor yang berkontribusi pada insiden ini.

Upaya Pencarian yang Berkelanjutan

Pencarian pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Badan SAR Nasional (Basarnas). Kepala Basarnas, Marsekal Madya Mohammad Syafii, mengungkapkan bahwa upaya pencarian melalui udara telah dilanjutkan. Keputusan untuk melanjutkan pencarian udara diambil setelah mempertimbangkan kondisi cuaca yang sempat menghambat operasi pada hari sebelumnya.

Pada hari Sabtu (17/1/2026), pencarian udara belum dapat dilakukan secara maksimal karena cuaca yang tidak mendukung. “Setelah terbang di sana, memang karena kondisi cuaca yang in-out nabrak awan keluar awan, sehingga pencarian dari udara belum maksimal dan akan dilanjutkan besok pagi,” kata Syafii dalam sebuah tayangan televisi. Ia juga menambahkan bahwa pencarian udara pada malam hari cenderung kurang efektif.

Baca Juga :  Cara Menyimpan Beras Supaya Tahan Lama dan Tidak Basi

Sementara itu, pencarian melalui jalur darat terus dilakukan secara simultan oleh tim gabungan bersama dengan masyarakat setempat. Upaya ini diharapkan dapat menjangkau area yang sulit diakses oleh udara.

Kronologi Hilangnya Kontak

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat melintasi wilayah Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, dengan tujuan akhir Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Berdasarkan jadwal penerbangan yang telah ditetapkan, pesawat tersebut seharusnya mendarat di Makassar sekitar pukul 12.20 WITA. Namun, hingga melewati batas waktu pendaratan yang ditentukan, pesawat tidak kunjung tiba di tujuan. Keberadaan pesawat pun tidak dapat dipastikan, sehingga statusnya dinyatakan hilang kontak dan memicu dimulainya operasi pencarian besar-besaran.

Situasi ini menyoroti pentingnya teknologi keselamatan penerbangan seperti ELT dan perlunya investigasi yang komprehensif untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Fokus saat ini adalah menemukan pesawat dan memastikan keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam operasi pencarian.