Bencana Longsor di Kuningan Akibat Hujan Ekstrem
Hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Kuningan selama lebih dari delapan jam pada Senin, 10 November 2025, memicu bencana longsor di Desa Purwasari, Garawangi. Insiden ini terjadi pada malam hari sekitar pukul 22.15 WIB dan menimpa satu rumah warga.
Tembok penahan tanah (TPT) milik Bapak Endy Rohandi (61 tahun) ambrol akibat intensitas hujan yang sangat tinggi. Material longsoran setinggi 2,5 meter tersebut menghantam rumah Ibu Anah Maryanah (57 tahun), yang berada tepat di bawah TPT. Dampaknya sangat parah, dengan bagian dapur dan kamar tidur rumah Anah rusak total. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, satu keluarga yang terdiri dari tiga orang harus mengungsi sementara ke rumah kerabat.
Kepala Pelaksana BPBD Kuningan, Indra Bayu Permana, membenarkan insiden ini. Ia menjelaskan bahwa struktur tanah di lokasi menjadi labil akibat hujan deras yang terus-menerus. Tim asesmen BPBD telah diterjunkan ke Dusun Sampora untuk pendataan dan distribusi bantuan logistik darurat. Saat ini, tim gabungan dari aparat desa, masyarakat, TNI, dan Polri masih bekerja keras untuk membersihkan material longsoran.
Rentetan Bencana di Sembilan Titik
Bencana longsor dan pergerakan tanah tidak hanya terjadi di Desa Purwasari, tetapi juga di sembilan lokasi berbeda di Kuningan. Daerah-daerah yang terdampak antara lain Kecamatan Ciniru, Hantara, Kuningan (kota), Kadu Gede, Garawangi, dan Japara.
Indra Bayu mengatakan bahwa rentetan bencana ini sesuai dengan peringatan dini cuaca yang dirilis oleh BMKG. “Peringatan dini BMKG memprediksi hujan lebat dari jam 15.00 sampai 20.00 WIB, dan itu terbukti terjadi,” ujarnya. Penanganan bencana dilakukan dengan memprioritaskan rumah-rumah yang rusak serta sarana prasarana vital.
Longsor di Purwasari dipastikan sebagai salah satu dampak terparah. Rumah Ibu Anah mengalami kerusakan berat, sehingga penghuni harus mengungsi. “Alhamdulillah, hasil asesmen di lapangan, tidak sampai menimbulkan korban jiwa di semua titik,” tambah Indra melegakan.
Dampak pada Infrastruktur Vital
Selain rumah, infrastruktur vital seperti jembatan di Desa Cijemit yang berada di atas Sungai Cipedak juga terdampak. Jembatan ini merupakan akses utama bagi warga Desa Gunung Manik, Cipedak, dan Cijemit. Jika jembatan ini putus, aktivitas ekonomi warga akan lumpuh total karena harus memutar sangat jauh.
Memasuki puncak musim hujan, Indra Bayu kembali mengingatkan seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap informasi peringatan dini dari BMKG. Ia juga meminta warga di daerah rawan bencana untuk selalu waspada jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah.
Upaya Pemulihan dan Kesiapsiagaan
BPBD Kuningan telah menerjunkan tim asesmen ke seluruh lokasi bencana untuk memetakan kerusakan dan kebutuhan darurat. Proses pemulihan dilakukan secara bertahap, dengan prioritas pada daerah yang paling terdampak. Selain itu, koordinasi dengan berbagai pihak seperti aparat desa, TNI, dan Polri terus dilakukan untuk memastikan keamanan dan kelancaran proses evakuasi serta pembersihan material longsoran.
Warga diharapkan tetap tenang dan mengikuti anjuran dari pihak berwenang. Mereka juga diminta untuk tidak melakukan aktivitas di area yang dianggap rawan longsor hingga kondisi benar-benar stabil. Dengan kesadaran dan kesiapsiagaan yang tinggi, diharapkan dapat meminimalisir risiko bencana yang bisa terjadi kembali.

















