Alreinamedia.com – Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo (GCP), H. Kurniawan, mendorong evaluasi menyeluruh terhadap lingkaran dalam Istana menyusul dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto. Menanggapi wacana konsolidasi antarpartai yang disampaikan Sekjen Partai Gerindra Sugiono, ia menilai perombakan kabinet lebih mendesak untuk dilakukan. Kurniawan menyampaikan pandangannya dalam program Kompas Petang yang diunggah di kanal YouTube KompasTV Merauke, Jumat (6/11/2026).
Kurniawan mengatakan konsolidasi politik tetap dapat dilakukan, tetapi menurutnya langkah itu tidak menjawab persoalan keamanan di lingkungan pemerintahan. Ia menilai dugaan penyadapan yang melibatkan orang dalam menunjukkan perlunya pemeriksaan ulang terhadap pihak-pihak di sekitar Presiden. “Yang jelas begini ya, dari jauh-jauh hari sudah saya ingatkan berkali-kali bahwa istana enggak steril,” kata Kurniawan.
Ia membandingkan kemungkinan ancaman dari pihak luar dengan dugaan keterlibatan pejabat yang berada di dalam pemerintahan. Menurut Kurniawan, pihak luar tidak dapat beraktivitas di lingkungan Istana tanpa adanya akses dari orang dalam. Ia menyebut dugaan penyadapan yang disebut melibatkan seorang Kapolri saat masih aktif sebagai persoalan serius, tetapi pernyataannya merupakan penilaian terhadap kasus yang masih berstatus dugaan.
Kasus tersebut berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan akses ke peladen Lawful Interception Management System (LIMS). Berdasarkan materi sumber, penyadapan diduga menyasar Prabowo serta sejumlah pejabat, politikus, media, dan lembaga swadaya masyarakat. Bareskrim Polri disebut telah menetapkan empat jenderal polisi sebagai tersangka dalam perkara itu.
Tiga tersangka diumumkan pada Selasa (3/11/2026), yakni mantan Kapolri yang menjabat Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo; Kepala Divisi Hukum Polri Irjen Pol. Ahrie Sonta Nasution; dan Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri, Irjen Pol. Eko Hadi Santoso. Ahrie pernah menjadi ajudan Prabowo pada 2024-2025. Ketiganya disebut ditahan di Rumah Tahanan Mako Brimob sejak Selasa sore.
Tersangka keempat, mantan Kepala Divisi Teknologi, Informasi, dan Komunikasi Polri Irjen Pol. Slamet Uliandi, diumumkan pada Kamis (5/11/2026). Ia belum ditahan karena masih menjalani pemulihan setelah stroke. Secara terpisah, Sugiono pada Rabu (4/11/2026) menyatakan Gerindra akan berkonsolidasi dengan partai lain dan mempertanyakan maksud di balik dugaan penyadapan terhadap Presiden.
Kurniawan mengaku marah dan kecewa karena dugaan penyadapan itu, menurutnya, tidak hanya menyasar kepala negara, tetapi juga pejabat Kabinet Merah Putih. Ia meminta pemerintah memeriksa kembali susunan orang di sekitar Istana, alih-alih berhenti pada konsolidasi politik. “Saya lebih sepakat dikocok ulang saja, konsolidasi boleh tapi intinya, bersihkan kembali lingkaran dalam Istana. Itu yang paling, lebih penting,” ujarnya.
















