Human Interest

Larungan Kepala Kerbau: 300 Kapal Iringi Pesta Lomban Jepara

×

Larungan Kepala Kerbau: 300 Kapal Iringi Pesta Lomban Jepara

Sebarkan artikel ini

Perayaan Syawalan: Tradisi Unik dan Penuh Makna di Berbagai Penjuru Jawa Tengah

Momen Syawalan, seminggu setelah Hari Raya Idulfitri, tidak hanya menjadi waktu untuk bersilaturahmi, tetapi juga menjadi ajang pelestarian tradisi unik di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Beragam kegiatan meriah digelar, mencerminkan kekayaan budaya dan rasa syukur masyarakat setempat. Mulai dari ritual sedekah laut yang penuh khidmat, arak-arakan ketupat yang meriah, hingga pemotongan lopis raksasa yang menjadi daya tarik utama. Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa Tengah merayakan berakhirnya bulan Ramadan dengan cara yang penuh makna dan kegembiraan.

Pesta Lomban Jepara: Larungan Kepala Kerbau Sebagai Ungkapan Syukur

Di Kabupaten Jepara, tradisi Pesta Lomban menjadi puncak perayaan syawalan yang selalu dinanti. Ribuan nelayan dan warga memadati perairan Jepara untuk menyaksikan ritual larungan kepala kerbau. Tradisi ini merupakan bentuk sedekah laut yang telah diwariskan turun-temurun, dilaksanakan setiap tahun pada H+7 Lebaran.

Prosesi dimulai dengan keberangkatan sebuah kapal utama yang membawa miniatur kapal “Joyo Samudro”. Di dalam miniatur kapal inilah terdapat sesajen berupa kepala kerbau yang akan dilarung ke laut. Sedikitnya 300 kapal nelayan turut mengiringi, menciptakan pemandangan laut yang megah.

Kapal utama bertolak dari TPI Ujungbatu pada pagi hari, diikuti oleh dua kapal pengiring dan ratusan kapal nelayan lainnya. Setelah berlayar selama kurang lebih 45 menit, sesajen kepala kerbau akhirnya dilarung ke tengah laut. Momen ini selalu menarik perhatian, di mana sejumlah pengunjung dengan antusias menceburkan diri ke laut untuk berebut kepala kerbau tersebut. Bahkan, miniatur kapal Joyo Samudro pun tak luput dari serbuan warga dan akhirnya terbalik. Kepala kerbau yang berhasil didapatkan kemudian dibawa kembali ke atas kapal nelayan dan dilarung kembali ke laut, menandakan siklus keberkahan yang tak terputus.

Bagi para nelayan, seperti Khumaedi, tradisi Lomban adalah pesta mereka. Ia mengaku selalu mengikuti prosesi ini setiap tahun bersama keluarga dan rekan-rekannya. “Lomban selayaknya pestanya para nelayan. Lewat tradisi itu, nelayan mengucap syukur atas hasil panen ikan laut yang sudah didapatkan dan berharap berkah rezeki selanjutnya,” ujarnya.

Baca Juga :  2026: Zodiak Berjaya di Karier, Rezeki, dan Kehidupan

Kunarsih, salah seorang pengunjung, datang sejak pagi ke kawasan TPI Ujungbatu hanya untuk menyaksikan Lomban Jepara. Baginya, tradisi ini adalah salah satu momen yang paling dinantikan dalam perayaan Syawal. “Senang bisa melihat langsung tradisi larungan. Sayangnya belum pernah ikut ke tengah laut lihat langsung pelarungan. Semoga ke depan bisa mendapatkan kesempatan ikut berlayar,” ungkapnya penuh harap.

Makna Mendalam di Balik Larungan Kepala Kerbau

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara, Ali Hidayat, menjelaskan bahwa tradisi larungan kepala kerbau ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki yang diberikan dari laut. Selain itu, ini juga menjadi doa agar seluruh masyarakat Jepara, khususnya para nelayan, selalu diberikan keselamatan dan keberkahan dalam setiap pelayaran mereka.

“Hari ini (Sabtu kemarin) pelaksanaan larungan kepala kerbau berlangsung lancar dan meriah. Semoga pelaksanaan tradisi ini di tahun-tahun ke depan lebih meriah lagi,” terang Ali Hidayat.

Ia menambahkan bahwa kepala kerbau yang dipilih sebagai sesajen larungan adalah jenis kerbau bule dengan bobot sekitar 350 kilogram, yang harganya mencapai Rp 50 juta. Sehari sebelum prosesi larungan, kerbau bule tersebut diarak dari TPI Ujungbatu menuju RPH Jobokuto sejauh 1,1 kilometer. Setelah dipotong, kepala kerbau dijadikan sesajen, sementara dagingnya diolah menjadi pindang untuk disantap bersama saat pagelaran wayang, yang menjadi penutup rangkaian acara.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menekankan bahwa Pesta Lomban adalah wujud ekspresi budaya dan rasa syukur masyarakat Jepara. Ia berharap agar perayaan Pesta Lomban di tahun-tahun mendatang dapat digelar lebih meriah lagi dengan penambahan wahana dan pertunjukan air di dermaga penyeberangan kapal untuk meningkatkan daya tarik wisatawan. “Ini upaya melestarikan leluhur kita, yang senantiasa kita budayakan dan lestarikan,” ujar Bupati yang akrab disapa Wiwit.

Baca Juga :  Lucky Widja, Vokalis Element, Berpulang Setelah 3 Tahun Melawan TB Ginjal

Puncak acara Pesta Lomban 2026 di Jepara ditutup dengan Festival Kupat Lepet di Pantai Kartini, di mana ratusan warga berebut ketupat dan lepet, melengkapi kemeriahan tradisi syawalan.

Tradisi Syawalan di Berbagai Daerah Lain

Selain di Jepara, tradisi syawalan juga dirayakan dengan meriah di daerah lain di Jawa Tengah.

  • Kabupaten Pati: Tradisi syawalan di Pati berpusat di Kecamatan Tayu dan Juwana.
    • Lomban Kupatan Tayu: Dilaksanakan di Desa Sambiroto, Tayu. Tradisi ini memiliki kemiripan dengan sedekah laut, di mana kepala kerbau dilarung ke laut setelah sebelumnya diarak keliling desa.
    • Sedekah Laut Juwana: Digelar di Desa Bendar, Juwana. Masyarakat setempat akan menggelar arak-arakan sebelum melarung sesaji di muara Sungai Juwana.

  • Kota Pekalongan: Kota Batik ini merayakan syawalan dengan dua acara utama yang unik.
    • Pekalongan Balloon Festival: Festival balon tambat ini diadakan di Stadion Hoegeng. Konsep balon tambat memungkinkan balon tetap diterbangkan namun dalam kondisi terikat, sehingga aman dan tidak mengganggu jalur penerbangan. Penonton diarahkan ke tribun stadion untuk menikmati acara dengan lebih nyaman dan aman.
    • Pemotongan Lopis Raksasa: Ribuan warga memadati Kampung Sembawan, Kelurahan Krapyak, untuk menyaksikan dan mendapatkan potongan lopis berukuran jumbo seberat 2 ton. Lopis raksasa ini menjadi ikon perayaan syawalan di Kota Pekalongan.
      • Ukuran lopis raksasa ini mencapai panjang 239 sentimeter dengan diameter 262 sentimeter, dan bobot mencapai 2.083 kilogram setelah matang.
      • Proses pembuatannya melibatkan warga, dimasak selama 3 hari 2 malam menggunakan dandang raksasa dan tungku kayu bakar.

Perayaan syawalan di berbagai wilayah Jawa Tengah ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga merupakan cerminan kekayaan budaya, semangat kebersamaan, dan ungkapan rasa syukur yang mendalam dari masyarakat terhadap segala berkah yang telah diterima. Tradisi-tradisi ini terus dijaga kelestariannya, menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.