Berita

Luhut Singgung Era Jokowi: 10 Tahun Penuh Basa Basi

×

Luhut Singgung Era Jokowi: 10 Tahun Penuh Basa Basi

Sebarkan artikel ini

Kinerja Menteri Keuangan yang Menarik Perhatian Publik

Kinerja Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terus menjadi sorotan publik. Beberapa pernyataannya yang mengejutkan telah memicu berbagai reaksi dari kalangan pengamat dan masyarakat luas. Mulai dari keinginannya untuk memangkas anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) jika masih ada dana yang tidak terserap, hingga penolakannya menggunakan APBN untuk membayar utang proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh.

Pernyataan lain yang juga cukup menyita perhatian adalah kritik terhadap Pertamina yang dianggap malan-malasan dalam membangun kilang baru. Meskipun Purbaya baru saja dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (8/9/2025) di Istana Negara, Jakarta, ia langsung menunjukkan sikap yang tegas dan berbeda dari para pejabat sebelumnya.

Pandangan Pengamat Politik

Pengamat politik Ray Rangkuti menganggap kehadiran Purbaya sebagai pengganti Sri Mulyani sangat fenomenal. Ia menilai bahwa Purbaya merupakan jenis pemimpin yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Menurut Ray, selama 10 tahun era Presiden Joko Widodo (Jokowi), banyak kebijakan yang penuh dengan basa-basi. Bahkan, presiden sendiri sering kali tidak sesuai dengan ucapan yang disampaikan.

“Anak saya belum cukup umur, bahkan demi anaknya aturan pun diubah. Jadi istilah saya itu perlu kembali ke kosmopolitanisme politik. Jadi kalau ngomong A ya A, B ya B, nah Purbaya ini sedikit banyak memberi kesan itu,” ujar Ray.

Mantan Komisioner KPK, Bambang Widjojanto, sepakat dengan pendapat Ray Rangkuti. Ia melihat Purbaya keluar dari jebakan era sebelumnya. “Saya merasa tuh periode sebelumnya tuh sangat manipulatif gitu kan,” kata Bambang.

Ray Rangkuti kemudian mengungkit gaya kepemimpinan pada era Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Di masa itu, lirikan mata hingga baju sangat penting untuk ditafsirkan. “Makanya di zamannya Pak Jokowi itu benar-benar deh, lirikan mata jadi penting ditafsirkan, baju penting ditafsirkan. Bahkan kan ada itu calon wakil presiden saat itu kalau salaman nunduknya minta ampun, nunduknya begini tapi yang nunduk begini ini menghebohkan karena konstitusi diubah dengan itu,” ujar Ray.

Baca Juga :  Sidang Pemalsuan Sertifikat Tanah di Gresik Memanas, Dua Terdakwa Minta Bebas

Selain itu, Ray juga menyoroti gaya bicara Purbaya yang tidak lazim. “Apakah ini sesuatu yang natural atau yang by design,” tambahnya.

Hubungan dengan Luhut Binsar Pandjaitan

Dianggap sebagai ‘orangnya’ Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, Purbaya sering kali memiliki perbedaan pendapat dengan Luhut. Bambang Widjojanto mencontohkan anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG). “Dia terus terang aja penyerapan rendah kalau kalau nanti kurang ya saya saya tarik terus ditentang kan sama Pak Luhut ini,” ujar Bambang.

Ray Rangkuti juga menyoroti sikap Presiden Prabowo Subianto yang tetap membiarkan gaya Purbaya dalam bertugas sebagai Menteri Keuangan. “Pertanyaannya bagi saya begini. Apakah ini akan terus berlanjut atau akan ada lampu merah, lampu kuning itu? Terhadap Purbayanya gitu,” ujar Ray.

“Tapi kalau gaya Pak Purbaya begini nih lagi-lagi mungkin akan ada satu dua pihak yang merasa tersinggung dan itu kuat-kuatan dengan Pak Prabowo kan. Makanya apakah Pak Prabowo akan membiarkan yang beginian atau akan membuat disiplin tertentu gitu,” tambah Ray.

Respons Purbaya Mengenai MBG

Diketahui bahwa Purbaya akan tetap memangkas anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) apabila masih terdapat dana yang tidak terserap. Pernyataan ini disampaikan Purbaya menanggapi permintaan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan yang sebelumnya mengingatkan agar anggaran MBG tidak ditarik kembali.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Minta Menkes Konsultasi ke WHO terkait Status Pandemi

“Tetap saya akan assess. Kalau akhir Oktober saya tahu, nanti sampai Desember, beberapa triliun enggak terpakai (anggaran MBG), ya saya ambil uangnya, Enggak ada bedanya kok. Enggak ada yang berubah, hanya itu aja,” ujar Purbaya dikutip dari Kompas.com saat ditemui di Balai Kota Jakarta, Selasa (7/10/20205).

Purbaya menekankan bahwa uang negara harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kalau tidak dipakai, maka anggaran akan dialihkan ke program lain yang lebih siap.

“Kalau enggak dipakai, ya, diambil. Di sana juga nganggur duitnya. Saya sebarin ke tempat lain yang lebih siap,” kata Purbaya.

Sebelumnya, Luhut menilai penyerapan anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) untuk program MBG kini semakin baik. Karena itu, ia meminta agar Kementerian Keuangan tidak mengalihkan dana yang sudah dialokasikan.

“Tadi kami pastikan juga bahwa penyerapan anggarannya sekarang kelihatan sangat membaik. Sehingga Menteri Keuangan tidak perlu nanti mengambil anggaran yang tidak terserap,” ujar Luhut usai rapat dengan Kepala BGN di Kantor DEN, Jakarta, Jumat (3/10/2025).

Ia menegaskan pentingnya serapan anggaran MBG agar dana yang dialokasikan tidak terbuang percuma dan bisa langsung berdampak pada perekonomian masyarakat.

“Itu kami ingatkan tadi sama Dadan, karena itu cost of fund juga. Jadi jangan sampai dana yang dialokasikan tidak terserap. Tadi kami lihat dana semua akan terserap dengan baik dan itu akan terjadi penyebaran. Dan itu saya kira akan menggerakkan ekonomi di bawah,” tegasnya.