Human Interest

Marcello Tahitoe untuk Aurelie Moeremans: Apresiasi Luar Biasa

×

Marcello Tahitoe untuk Aurelie Moeremans: Apresiasi Luar Biasa

Sebarkan artikel ini

Ello Beri Ucapan Selamat untuk Aurelie Moeremans atas Rilis Buku “Broken Strings”

Buku “Broken Strings” karya Aurelie Moeremans belakangan ini menjadi sorotan publik, terutama setelah versi Bahasa Indonesianya resmi diluncurkan. Karya literasi yang mengangkat kisah kelam masa lalu sang aktris ini menuai beragam respons dari masyarakat, tak terkecuali dari mantan kekasihnya, Marcello Tahitoe, yang akrab disapa Ello.

Ditemui awak media usai tampil di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Ello memberikan tanggapan singkat mengenai buku yang kini ramai diperbincangkan tersebut. Ia tampak memilih untuk tidak berlama-lama membahas isu sensitif di hadapan publik.

“Oke habis ini gua harus cabut ya. Tipis tapi padat,” ujar Ello saat ditemui di kawasan yang sama pada Sabtu, 17 Januari 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Ello tak lupa menyampaikan ucapan selamat atas peluncuran karya literasi Aurelie. Ia mengapresiasi upaya sang mantan kekasih dalam menghasilkan buku tersebut, namun memilih untuk tidak mengorek lebih dalam mengenai isi buku, termasuk kisah mengenai pengalaman child grooming yang diungkapkan Aurelie.

“Oke, saya cuma mau bilang selamat atas rilis karya literasinya. Luar biasa diterima apresiasinya,” lanjut Ello.

Setelah menyampaikan pernyataannya, Ello segera berpamitan. Ia menegaskan bahwa prioritasnya saat itu adalah kembali ke rumah untuk berkumpul bersama istri dan anak-anaknya.

“Sekarang saya mau pulang, ketemu sama istri dan saya. Terima kasih,” tutupnya.

Buku “Broken Strings” memang menjadi topik hangat di kalangan netizen Indonesia. Dalam memoar tersebut, Aurelie Moeremans secara terbuka menceritakan pengalaman traumatisnya menjadi korban child grooming dan manipulasi emosional oleh seorang pria yang ia samarkan namanya sebagai Bobby. Tak hanya itu, Aurelie juga menyinggung berbagai fase dalam perjalanan hidupnya, termasuk kisah asmaranya pasca-terlepas dari sosok Bobby. Beberapa pihak menduga bahwa bagian tersebut turut mengulas hubungannya dengan Ello, yang diketahui pernah menjalin kasih pada tahun 2015. Sayangnya, kisah cinta mereka harus kandas setelah berjalan hampir empat tahun.

Isu Child Grooming dalam “Broken Strings” Menggema di DPR

Keberanian Aurelie Moeremans untuk membongkar sisi gelap masa lalunya melalui buku “Broken Strings” tampaknya telah memicu gelombang dukungan dan perhatian yang signifikan, bahkan hingga ke ranah kebijakan publik. Isu sensitif mengenai child grooming yang diangkat dalam buku tersebut tidak lagi sekadar menjadi perbincangan viral di media sosial, melainkan telah resmi dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Gedung DPR, Senayan, pada Kamis, 15 Januari 2026.

Baca Juga :  Jejak Farhan: Smartwatch Ungkap Langkah Terakhir Sang Co-Pilot

Sosok yang mengambil peran penting dalam membawa isu ini ke meja parlemen adalah Rieke Diah Pitaloka, anggota Komisi XIII DPR RI. Dengan lantang, Rieke menyuarakan keresahan publik di hadapan perwakilan Komnas Perempuan dan Komnas HAM. Ia tampak begitu emosional saat mengupas tuntas bahaya predator anak yang kerap kali bersembunyi di balik kedok kedekatan emosional.

Suara dari Masa Lalu yang Dicuri

Isu ini pertama kali mencuat ke permukaan setelah Aurelie Moeremans merilis e-book gratis berjudul “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth”. Dalam memoar tersebut, Aurelie dengan jujur menceritakan pengalamannya menjadi korban child grooming sejak usia 15 tahun. Pengalaman pahit ini berujung pada pernikahan di bawah umur yang diwarnai kekerasan dan meninggalkan trauma mendalam.

Rieke Diah Pitaloka memberikan apresiasi tinggi atas langkah berani Aurelie yang dinilainya telah berhasil mendobrak tembok tabu yang selama ini mengungkung di Indonesia.

“Saya ingin menyampaikan, kasus yang sedang ramai di media sosial adalah child grooming. Ini adalah sesuatu yang tabu untuk Indonesia selama ini. Tapi ada seorang perempuan bernama Aurelie Moeremans yang mengeluarkan buku e-book secara gratis yang berjudul Broken Strings Fragments of a Stolen Youth bagaimana masa mudanya dihancurkan, bukan hanya dirampas,” ujar Rieke dengan nada prihatin di tengah persidangan.

Kritik Tajam untuk Lembaga Negara

Dengan nada bicara yang semakin meninggi, Rieke Diah Pitaloka melayangkan kritik tajam terhadap sikap diam lembaga negara, khususnya Komnas Perempuan dan Komnas HAM, dalam menyikapi fenomena child grooming. Menurutnya, kasus ini bukan sekadar masalah asmara biasa, melainkan sebuah modus operandi kejahatan yang bersifat sistematis.

“Ini adalah memoar yang terindikasi kisah hidup yang nyata. Dan ini bisa terjadi pada siapa saja, juga kepada anak-anak kita, ketika negara diam, kita yang ada di dalam posisi harusnya bersuara, memberikan introspeksi kita diam, saya belum dengar ada suara dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan secara utuh, secara serius kepada kasus ini,” tegas Rieke.

Baca Juga :  8 Tipe Kepribadian Pengguna Pasif Media Sosial Menurut Psikologi

Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa pelaku atau groomer biasanya membangun hubungan kepercayaan dengan korban dalam jangka waktu yang lama. Tujuannya adalah untuk mengeksploitasi korban secara seksual.

“Child grooming ini bukan tindak pidana yang berdiri sendiri melainkan modus operandi, prosesnya sistematis, ketika pelaku atau groomer membangun kedekatan emosional kepercayaan dan ketergantungan pada anak atau remaja. Tujuan akhir adalah kekerasan atau eksploitasi seksual,” tambahnya.

Sentilan Pedas untuk Terduga Pelaku dan Ancaman Intimidasi

Rieke Diah Pitaloka juga menyoroti adanya upaya pembelaan diri dari terduga pelaku yang justru terkesan menormalisasi kekerasan. Ia bahkan mengindikasikan adanya intimidasi terhadap rekan artis lain, seperti Hesti Purwadinata, yang turut menyuarakan dukungan kepada Aurelie.

Lebih jauh lagi, Rieke tidak ragu untuk mengusulkan pemanggilan sosok yang diduga sebagai pelaku, yaitu Roby Tremonti, untuk dimintai keterangan dalam rapat DPR.

“Bisa ada hukuman berlapis. Yang terindikasi pelaku itu berkoar-koar, kalau perlu komnas perempuan pangil dong. Atau kalau boleh dipanggil ke sini. Karena menurut saya dia campaign soal child grooming kalau seperti ini caranya, normalisasi kekerasan seksual atas nama pernikahan berbasis keyakinan agama,” ujar Rieke dengan tegas.

Di akhir pernyataannya, Rieke memberikan peringatan keras bagi siapa pun yang melakukan praktik serupa di luar sana.

“Pelaku di luar sana, enggak bisa anteng-anteng ya,” pungkasnya.

Respons Haru Aurelie Moeremans

Mendengar perjuangannya untuk menyuarakan isu penting ini mendapat panggung di level tertinggi legislatif, Aurelie Moeremans tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Melalui pesan singkat, ia menyampaikan apresiasinya yang mendalam kepada Rieke Diah Pitaloka. Ia merasa lega karena isu ini kini mendapat perhatian serius dan diharapkan tidak lagi disepelekan.

“Terima kasih,” tulis Aurelie singkat namun penuh makna.

Kini, perhatian publik tertuju pada pemerintah dan lembaga terkait untuk memastikan bahwa kasus serupa dengan “Broken Strings” berikutnya tidak akan pernah terjadi lagi di Indonesia.