Berita Utama

Marinir Gorontalo: Syahid Longsor Cisarua

×

Marinir Gorontalo: Syahid Longsor Cisarua

Sebarkan artikel ini

Prajurit Marinir Gugur dalam Tugas Mulia, Menjadi “Tameng Keluarga” di Gorontalo

Kisah kepahlawanan seringkali muncul dari sosok-sosok yang tak terduga, dan salah satunya adalah Serda Mar (Anumerta) Rein Pasau. Sosok prajurit muda ini telah gugur dalam tugas latihan pra-tugas Satgas Gobang 7 di Cisarua, Bandung Barat, akibat bencana tanah longsor yang merenggut nyawanya. Namun, kepergiannya meninggalkan duka mendalam tidak hanya bagi institusi TNI Angkatan Laut, tetapi juga bagi sebuah keluarga di Kelurahan Pauwo, Kecamatan Kabila, Bone Bolango, Gorontalo. Rein bukan sekadar seorang abdi negara, ia adalah tulang punggung ekonomi dan harapan bagi ibu serta adik-adiknya.

Di rumah duka yang dipenuhi bendera kuning dan karangan bunga, suasana haru menyelimuti setiap sudut. Isak tangis yang pecah menggambarkan betapa besar arti kehadiran Rein bagi orang-orang terkasihnya. Ia dikenal sebagai pribadi yang pendiam namun memiliki tindakan yang luar biasa, terutama dalam memastikan kesejahteraan keluarganya. Sejak kecil, Rein telah terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan, sebuah pengalaman yang membentuk mental baja saat ia memutuskan untuk mengabdi pada negara.

Pahlawan Keluarga yang Berjuang Mengubah Nasib

Kakak sulungnya, Rendi Pasau, mengenang Rein sebagai sosok dengan jiwa pengorbanan tinggi sejak remaja. Bagi Rendi, Rein adalah pahlawan tanpa tanda jasa di tengah kesederhanaan keluarga mereka. Perjalanan Rein untuk menjadi seorang anggota Marinir TNI Angkatan Laut tidaklah mudah. Ia harus melalui berbagai tahapan seleksi yang ketat dengan modal tekad kuat untuk mengubah nasib keluarganya. Kelulusannya dan pelantikan sebagai anggota Marinir pada tahun 2022 menjadi titik balik penting bagi ekonomi keluarganya. Sejak saat itu, Rein secara sadar mengambil alih tanggung jawab sebagai penopang utama.

Rendi menyebut adiknya sebagai “tameng keluarga”, sebuah istilah yang menggambarkan bagaimana Rein melindungi mereka dari badai kesulitan ekonomi. Ia tak pernah membiarkan ibu atau adik-adiknya merasa kekurangan, selama ia masih memiliki kekuatan untuk bekerja. Meski memiliki seorang kakak laki-laki, Rein kerap mengambil inisiatif lebih besar dalam urusan domestik maupun finansial. Kedewasaan yang ia tunjukkan melampaui usianya yang masih tergolong muda di dunia militer.

Setiap bulan, sebagian besar gajinya dikirimkan ke kampung halaman tanpa pernah ada keluhan. Ia lebih memilih hidup sederhana di perantauan demi memastikan orang tuanya di Gorontalo bisa tidur nyenyak dan perut mereka terisi. Sifat rendah hatinya juga terpancar dari cara ia memperlakukan rekan-rekan sejawatnya di Yon Komlek 1 Marinir. Ia dikenal sebagai prajurit yang disiplin, setia kawan, dan selalu sigap membantu rekan yang membutuhkan.

Ayah sambungnya, Azis Rabiu, memberikan kesaksian bahwa Rein adalah anak yang paling bisa diandalkan dalam segala situasi. Jika ada masalah mendesak di rumah, Rein adalah orang pertama yang akan mencari solusi tercepat, meskipun terpisah jarak yang jauh. Kepekaan sosialnya tidak hanya terbatas pada keluarga inti, tetapi juga menjangkau para tetangga. Ia sering membantu warga sekitar saat pulang pesiar atau cuti, membuat kehadirannya selalu dinantikan. Kehilangan Rein membuat warga Kelurahan Pauwo merasa kehilangan salah satu pemuda terbaik yang pernah mereka miliki.

Baca Juga :  Satgas Yonif Raider 300/Bjw Tingkatkan Keamanan Di Perbatasan RI-PNG

Duka Mendalam Sang Ibu dan Penghormatan Tertinggi

Ibu kandungnya, Hasna Biga, adalah sosok yang paling terpukul atas tragedi yang menimpa anak kebanggaannya. Bagi Hasna, Rein bukan hanya anak, tetapi cahaya yang menerangi masa tuanya. Ketika berita duka itu sampai, Hasna sempat tak sadarkan diri karena sulit menerima kenyataan pahit tersebut. Ia terus memanggil nama anaknya, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk.

Peti jenazah yang dibalut bendera Merah Putih akhirnya tiba di Gorontalo pada Sabtu dini hari, membawa pulang raga yang telah tiada. Kedatangan jenazah di Bandara Djalaluddin disambut dengan upacara militer yang khidmat dan penuh penghormatan. Para prajurit rekan sejawatnya berdiri tegak memberikan hormat terakhir kepada kawan seperjuangan yang gugur dalam latihan pra-tugas. Suasana bandara yang biasanya ramai menjadi sunyi senyap, digantikan oleh derap langkah sepatu lars yang membawa peti jenazah.

Jenazah kemudian dibawa menuju rumah duka untuk kesempatan terakhir keluarga melihat wajah almarhum. Tangis kembali pecah saat peti diletakkan di tengah ruangan yang dipenuhi pelayat. Hasna Biga terlihat terus mengelus peti mati anaknya, seolah ingin memberikan kehangatan terakhir sebelum ia dikembalikan ke bumi. Meski sulit, keluarga mencoba tegar demi menghormati dedikasi Rein sebagai prajurit.

Rein dimakamkan di pemakaman keluarga, tepat di samping makam ayah kandungnya yang telah lebih dulu berpulang. Permintaan keluarga ini agar Rein selalu dekat dengan sosok yang ia cintai selama hidupnya. Prosesi pemakaman dilakukan secara militer, dengan tembakan salvo sebagai tanda penghormatan tertinggi dari negara bagi seorang pahlawan. Dentuman senjata itu seolah menjadi saksi bahwa tugas Rein di dunia ini telah tuntas dengan mulia.

Tragedi Longsor di Bandung Barat

Ia gugur saat sedang mempersiapkan diri untuk tugas yang lebih besar, yakni menjaga perbatasan kedaulatan NKRI di Papua Nugini. Latihan Satgas Gobang 7 di Cisarua adalah “kawah candradimuka” terakhir yang ia jalani sebelum diberangkatkan ke medan tugas. Tragedi itu terjadi di bawah guyuran hujan lebat yang ekstrem, yang melumpuhkan perbukitan di wilayah Bandung Barat. Alam seolah sedang menguji ketangguhan para prajurit yang berlatih di medan berat.

Rein dan puluhan rekannya sedang berada di lokasi latihan ketika material tanah tiba-tiba merosot menimbun apa saja yang ada di bawahnya. Kejadian yang berlangsung pada dini hari itu membuat para prajurit tidak sempat menyelamatkan diri dari kepungan tanah. Upaya pencarian oleh tim SAR gabungan berlangsung dramatis di tengah cuaca yang masih tidak menentu dan medan yang berlumpur. Ribuan doa dipanjatkan agar Rein dan kawan-kawannya ditemukan selamat, namun takdir berkata lain.

Apresiasi Negara dan Warisan Inspiratif

Jenazah Rein ditemukan bersama beberapa rekan lainnya dalam kondisi yang memilukan setelah tertimbun material longsor selama beberapa hari. Kepergian mereka meninggalkan duka mendalam bagi institusi TNI Angkatan Laut, khususnya Korps Marinir. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menegaskan bahwa para prajurit yang gugur adalah putra-putra terbaik yang sedang mengemban misi suci. Negara memberikan apresiasi setinggi-tingginya dengan kenaikan pangkat luar biasa anumerta bagi almarhum.

Baca Juga :  Jazz Hujan Bogor: Harmoni Seni & Ekonomi Kreatif

Kini, pangkat Serda Mar (Anumerta) tersemat di depan namanya, sebuah gelar yang dibayar dengan nyawa dan dedikasi tanpa batas. Meski raga telah tiada, semangat dan teladan yang ditinggalkan Rein akan terus hidup di hati setiap orang yang mengenalnya. Rein telah membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk menjadi seseorang yang berarti bagi nusa dan bangsa. Ia menunjukkan bahwa cinta kepada orang tua adalah bahan bakar terkuat dalam meraih cita-cita setinggi langit.

Keluarga Pasau kini harus belajar berjalan tanpa kehadiran “tameng” mereka, namun dengan kenangan indah yang takkan pernah luntur. Mereka bangga karena memiliki seorang anak yang gugur dalam keadaan terhormat sebagai pelindung kedaulatan negara. Pemerintah daerah Bone Bolango juga turut menyampaikan bela sungkawa yang mendalam atas gugurnya salah satu putra daerah terbaik mereka. Kehadiran pejabat daerah di rumah duka menunjukkan betapa berartinya sosok Rein bagi masyarakat Gorontalo.

Meskipun tangis Hasna Biga belum sepenuhnya reda, ada raut kebanggaan di balik matanya yang sembab saat melihat penghormatan militer untuk anaknya. Ia tahu bahwa anaknya tidak mati sia-sia, melainkan gugur sebagai seorang ksatria. Pelajaran besar yang ditinggalkan almarhum adalah tentang tanggung jawab seorang anak laki-laki terhadap keluarganya. Ia tidak hanya memberikan materi, tetapi juga memberikan martabat dan harga diri bagi nama keluarga Pasau.

Keberangkatan Rein ke Jawa untuk menempuh pendidikan dan tugas militer dua tahun lalu kini berakhir dengan kepulangan yang abadi. Ia pergi dengan seragam kebanggaan dan pulang dengan kehormatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Bagi adik-adiknya, Rein adalah contoh nyata bahwa kejujuran dan kerja keras akan membuahkan hasil yang diakui oleh dunia. Mereka bertekad untuk meneruskan cita-cita kakak mereka untuk terus mengangkat derajat keluarga.

Selamat jalan, Serda Mar (Anumerta) Rein Pasau. Tugasmu telah selesai di dunia yang fana ini. Engkau telah menjaga keluarga dengan seluruh jiwamu, dan kini biarkan Tuhan yang menjaga mereka untukmu. Bumi Gorontalo menyambutmu kembali dengan pelukan tanah yang dingin, namun nama dan jasamu akan tetap hangat dalam ingatan. Perjuanganmu mengubah nasib keluarga dari nol akan menjadi legenda kecil yang menginspirasi banyak pemuda di desa. Kisah Rein Pasau akan selalu menjadi pengingat bahwa di balik seragam militer yang gagah, ada hati seorang anak yang sangat mencintai ibunya. Dan di balik setiap prajurit yang gugur, ada keluarga yang telah mengikhlaskan segalanya demi bangsa.