Human Interest

Mediasi jadi titik temu polemik MBG di Kampar, BGN tegaskan hak anak terlindungi

×

Mediasi jadi titik temu polemik MBG di Kampar, BGN tegaskan hak anak terlindungi

Sebarkan artikel ini

Ringkasan Berita:

  • Mediasi di Kampar meluruskan polemik dugaan intimidasi orang tua murid PAUD terkait kritik menu MBG.
  • Badan Gizi Nasional minta maaf dan tegaskan keterbukaan terhadap kritik demi perbaikan program.

 

, PEKANBARU – Upaya mediasi menjadi jalan penyelesaian polemik dugaan intimidasi terhadap orang tua murid PAUD di Kabupaten Kampar yang sempat viral di media sosial. 

Mediasi tersebut mempertemukan KPPG Pekanbaru, pengelola PAUD, orang tua murid, serta unsur pemerintah daerah, dan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar. 

Hadir pula Camat dan Forkopincam Kecamatan Kampar, Kepala Desa Air Tiris, serta pihak terkait lainnya untuk meluruskan informasi yang berkembang sekaligus memastikan hak anak tetap terlindungi.

Dalam forum mediasi tersebut, Kepala KPPG Pekanbaru untuk Wilayah Provinsi Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat, Dr Syartiwidya, menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua murid yang merasa terintimidasi usai menyampaikan kritik terhadap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Saya mewakili Badan Gizi Nasional di daerah menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua siswa yang merasa terintimidasi oleh pihak sekolah setelah menyampaikan kritik terhadap menu Program Makan Bergizi Gratis,” ujar Syartiwidya, Rabu (31/12/2025).

Baca Juga :  Dedi Mulyadi Tegaskan Tidak Masalah Dibenci Usai Tutup Tambang, Fokus Bantu Warga Terdampak

Ia menegaskan, pada prinsipnya Badan Gizi Nasional (BGN) terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat. 

Menurutnya, saran yang disampaikan justru menjadi bagian penting dalam proses evaluasi dan perbaikan program.

“Pada prinsipnya BGN sangat terbuka dan justru mengucapkan terima kasih atas kritik dan saran yang disampaikan langsung kepada kami, karena itu menjadi bahan evaluasi dan perbaikan program MBG yang mulia ini,” katanya.

Syartiwidya juga berharap seluruh pihak dapat bersama-sama mengawal pelaksanaan Program MBG agar tujuan utamanya benar-benar tercapai.

“Kami berharap semua pihak mengawal Program MBG ini sehingga sasarannya tercapai, yaitu peningkatan kualitas gizi anak sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Pelemik MBG Viral di Medsos

Sebelumnya, polemik mencuat setelah beredar unggahan di media sosial yang menyebut seorang anak berinisial A dikeluarkan dari satuan PAUD lantaran orang tuanya mengkritik menu MBG. 

Pihak sekolah kemudian memberikan klarifikasi bahwa tidak pernah ada keputusan mengeluarkan anak didik. 

Informasi tersebut disebut sebagai dampak kesalahpahaman komunikasi internal, terutama di grup percakapan WhatsApp.

Kepala SPPG setempat juga memastikan tidak pernah ada instruksi, ancaman, maupun intimidasi terhadap orang tua murid terkait unggahan di media sosial. 

Baca Juga :  Nadiem Makarim's Mother Meets Ex-ASDP Director at Tipikor Court

Program MBG, justru membuka ruang masukan sebagai bagian dari evaluasi layanan.

Hasil klarifikasi menunjukkan persoalan bermula dari kesalahpahaman terkait durasi menu MBG. 

Menu yang diterima anak selama tiga hari disangka sebagai menu untuk lima hari, sehingga memicu persepsi yang tidak utuh mengenai porsi dan variasi makanan.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menegaskan bahwa Program MBG tidak boleh menimbulkan dampak negatif terhadap hak anak, terutama hak untuk memperoleh pendidikan.

“Program Makan Bergizi Gratis adalah kebijakan negara untuk melindungi dan meningkatkan kualitas gizi anak. Tidak boleh ada anak yang dirugikan, apalagi sampai kehilangan akses pendidikan, hanya karena adanya perbedaan persepsi atau kritik dari orang tua,” ujar Dadan.

Ia menambahkan, setiap dinamika di lapangan harus diselesaikan melalui dialog terbuka dan komunikasi yang sehat. 

“Kami mendorong penyelesaian melalui dialog yang terbuka antara orang tua, sekolah, dan pelaksana program dengan mengedepankan pendekatan persuasif, transparan, dan humanis,” pungkasnya.(/Rizky Armanda)