Krisis Pasokan Ikan di Mamuju Tengah: Cuaca Buruk Picu Kelangkaan dan Kenaikan Harga
Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, tengah menghadapi situasi yang cukup pelik terkait pasokan ikan laut. Para pedagang ikan di daerah ini terpaksa mengimpor stok dari berbagai wilayah lain, termasuk Polewali Mandar (Polman), Pinrang, serta beberapa daerah di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Langkah drastis ini diambil sebagai respons terhadap kelangkaan pasokan ikan laut lokal yang telah berlangsung selama hampir dua bulan terakhir, terhitung sejak awal Desember hingga awal Februari 2026.
Penyebab utama dari krisis pasokan ini adalah kondisi cuaca buruk yang melanda perairan pesisir. Angin kencang yang berembus disertai gelombang tinggi yang kerap kali menerjang membuat mayoritas nelayan lokal memilih untuk menunda aktivitas melaut demi menjaga keselamatan diri. Situasi ini berdampak langsung pada ketersediaan ikan di pasar tradisional, seperti yang terpantau di kompleks Pasar Topoyo pada Minggu, 1 Februari 2026.
Kondisi Pasar dan Dampak Kenaikan Harga
Meskipun pasokan dari nelayan lokal berkurang drastis, ikan-ikan laut yang tersedia di lapak pedagang tetap tersusun rapi. Para pedagang pun tampak sigap menjaga kesegaran dagangan mereka dengan menaburkan es batu, serta mengipas-ngibaskan kipas untuk mengusir lalat yang mungkin hinggap.
Namun, di balik kesibukan menjaga kualitas ikan, tersembunyi dampak signifikan pada harga. Agus, salah seorang pedagang ikan, mengungkapkan bahwa kelangkaan pasokan ini berujung pada kenaikan harga yang cukup mencolok untuk beberapa jenis ikan.
Beberapa jenis ikan yang mengalami lonjakan harga antara lain:
- Ikan Tongkol: Harga naik dari Rp30.000 menjadi Rp50.000 – Rp60.000 per kilogram.
- Ikan Batu: Mengalami kenaikan dari Rp70.000 menjadi Rp90.000 – Rp95.000 per kilogram.
- Ikan Kembung: Melonjak drastis dari Rp35.000 menjadi Rp60.000 per kilogram.
- Ikan Lajang: Kenaikan harga dari Rp25.000 menjadi Rp45.000 per kilogram.
Agus menjelaskan bahwa kenaikan harga ini sudah berlangsung cukup lama, seiring dengan kesulitan mendapatkan pasokan dari nelayan lokal. “Dua bulan ini ikan susah, mulai awal Desember sampai hari ini,” ujarnya sembari menyeka keringatnya, menggambarkan betapa beratnya kondisi yang dihadapi.
Ia menambahkan bahwa banyak nelayan langganannya yang terpaksa tidak melaut akibat cuaca buruk yang tak kunjung reda. Hal ini memaksa para pedagang untuk mencari alternatif pasokan dari luar wilayah Mamuju Tengah.
Minat Konsumen Tetap Tinggi, Harapan untuk Perbaikan Cuaca
Menariknya, meskipun harga ikan mengalami kenaikan yang signifikan, minat masyarakat untuk membeli ikan laut di Mamuju Tengah justru tetap tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa ikan laut masih menjadi salah satu sumber protein hewani yang dicari oleh masyarakat setempat, bahkan dengan harga yang lebih mahal dari biasanya.
Para pedagang ikan, termasuk Amin dan rekan-rekannya, memiliki harapan besar agar kondisi cuaca segera membaik. Mereka mendambakan kembalinya aktivitas melaut nelayan lokal secara normal. Dengan pulihnya pasokan ikan dari sumber lokal, diharapkan harga ikan di Mamuju Tengah dapat kembali stabil dan terjangkau oleh masyarakat luas. Situasi ini menjadi pengingat betapa eratnya keterkaitan antara kondisi alam dengan roda perekonomian masyarakat, khususnya yang bergantung pada hasil laut.















