Breaking News

NTT Waspada: BMKG Peringatkan Bencana Hidrometeorologi Akibat Cuaca Ekstrem

×

NTT Waspada: BMKG Peringatkan Bencana Hidrometeorologi Akibat Cuaca Ekstrem

Sebarkan artikel ini

Peringatan BMKG: Cuaca Ekstrem Mengancam Nusa Tenggara Timur, Potensi Bencana Hidrometeorologi Meningkat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan imbauan penting kepada seluruh masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Imbauan ini menekankan perlunya kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan akan melanda wilayah tersebut dalam beberapa hari ke depan. Cuaca ekstrem yang dimaksud meliputi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan sangat lebat, yang disertai dengan angin kencang. Kondisi ini berpotensi besar menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.

Fenomena cuaca yang sedang terjadi di NTT ini dipicu oleh aktifnya dua gelombang atmosfer yang signifikan, yaitu gelombang atmosfer low dan gelombang Kelvin. Kedua gelombang ini secara kolektif memberikan dampak besar terhadap pola cuaca di seluruh wilayah NTT, meningkatkan kelembapan udara dan memicu pembentukan awan hujan. Selain itu, terdeteksi adanya sistem tekanan rendah yang berpusat di sekitar wilayah Teluk Carpentaria, Australia bagian Utara. Sistem ini telah teridentifikasi sebagai Bibit Siklon Tropis 98P.

Keberadaan Bibit Siklon Tropis 98P ini sangat krusial karena membentuk daerah pertemuan dan perlambatan angin. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan potensi terjadinya hujan lebat di wilayah NTT. Berdasarkan pantauan, Bibit Siklon Tropis 98P diperkirakan akan bergerak ke arah barat. Meskipun demikian, dalam periode 24 jam ke depan, peluangnya untuk berkembang menjadi siklon tropis penuh masih tergolong rendah.

Baca Juga :  Bule Amerika Tewas Saat Trekking di Taman Nasional: Penyebab Terungkap

Meskipun potensi menjadi siklon tropis penuh masih rendah, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenotek, menegaskan pentingnya kewaspadaan. Dalam keterangannya yang disampaikan melalui media sosial pada Sabtu, 31 Januari 2026, beliau mengimbau masyarakat agar tetap siaga terhadap potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat hingga sangat lebat yang disertai angin kencang di wilayah NTT selama beberapa hari mendatang.

Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Sedang hingga Sangat Lebat di NTT

BMKG merinci wilayah-wilayah yang diperkirakan akan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat, serta potensi angin kencang, pada tanggal-tanggal tertentu.

  • 01 Februari 2026:

    • Manggarai Barat
    • Manggarai
    • Manggarai Timur
    • Ngada
    • Nagekeo
    • Ende
    • Sikka
    • Flores Timur
    • Lembata
    • Alor
    • Belu
    • Timor Tengah Selatan (TTS)
    • Timor Tengah Utara (TTU)
    • Rote Ndao
    • Sabu Raijua
    • Kota Kupang
    • Kabupaten Kupang
    • Seluruh Pulau Sumba
  • 02 Februari 2026:

    • Manggarai Barat
    • Manggarai
    • Manggarai Timur
    • Ngada
    • Nagekeo
    • Ende
    • Sikka
    • Flores Timur
    • Lembata
    • Alor
    • Belu
    • Malaka
    • Timor Tengah Utara (TTU)
    • Timor Tengah Selatan (TTS)
    • Kota Kupang
    • Kabupaten Kupang
    • Rote Ndao
    • Sabu Raijua

Dampak Cuaca Ekstrem di Flores Timur dan Sikka

Cuaca buruk yang melanda NTT pada pertengahan Januari 2026 lalu, berupa hujan deras dan angin kencang, telah menimbulkan dampak yang cukup signifikan di beberapa wilayah. Salah satu daerah yang terdampak parah adalah Kabupaten Flores Timur.

Baca Juga :  Polri: 3.183 kecelakaan terjadi selama Nataru 2025/2026, 403 orang tewas

Di Kabupaten Flores Timur, angin kencang dilaporkan menyebabkan kerusakan pada sedikitnya 16 rumah warga. Kerusakan ini bervariasi, mulai dari kerusakan ringan hingga berat, yang tentu saja menimbulkan kerugian materiel dan moril bagi para pemilik rumah.

Selain itu, infrastruktur vital di Kabupaten Sikka juga terancam. Jalur Pantai Utara (Pantura) yang menghubungkan Kabupaten Sikka dengan Flores Timur kini dalam kondisi terancam putus. Ancaman ini disebabkan oleh abrasi pantai yang semakin parah, dipicu oleh gelombang tinggi yang datang bersamaan dengan cuaca ekstrem. Kondisi ini dapat mengganggu mobilitas transportasi dan aktivitas perekonomian masyarakat yang bergantung pada jalur tersebut.

Hingga saat ini, penanganan lebih lanjut dari pemerintah terkait dampak kerusakan akibat cuaca ekstrem tersebut masih dalam proses. Jika kondisi cuaca ekstrem terus berlanjut seperti yang diprediksi, masyarakat yang tinggal di daerah yang terdampak abrasi atau kerusakan infrastruktur lainnya mungkin harus menempuh jarak yang lebih jauh dan lebih sulit untuk mencapai pusat perekonomian, seperti kota Larantuka, yang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi penting di wilayah tersebut. Kewaspadaan dan kesiapan masyarakat serta pemerintah daerah menjadi kunci dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem ini.