Penelusuran dan Dugaan Keterlibatan Sindikat Curanmor di Mendalo
Rahman, seorang pemilik rumah indekos yang juga korban pencurian kendaraan bermotor (curanmor), menunjukkan keberanian luar biasa dengan nekat masuk ke sel Polsek Jaluko. Dari seberang jeruji, dia mencoba mengorek informasi dari para tersangka yang ditahan. Dengan cara ini, Rahman mendapatkan bekal informasi awal untuk menelusuri keberadaan sindikat curanmor yang telah menggasak puluhan kendaraan di kawasan Mendalo, Kabupaten Muaro Jambi.
“Semua informasi cocok dengan keterangan pelaku,” ujarnya saat diwawancarai Tribun Jambi. Rahman merupakan salah satu dari ratusan korban pencurian motor di kawasan tersebut. Ia tergabung dalam grup WhatsApp korban curanmor, di mana para korban saling bertukar informasi tentang aksi pencurian. Dari sana, mereka menemukan dugaan kuat bahwa aksi ini adalah sistematis dan ada yang mengorganisir.
Beberapa dugaan menguatkan hal ini dari rekaman CCTV yang mereka kumpulkan dari beberapa aksi pencurian. Misalnya, waktu operasi pelaku di kisaran dini hari hingga subuh. Pelaku juga mengenakan jaket dan bercelana pendek. Temuan lainnya adalah CCTV yang selalu tidak merekam bagian pelaku membuka pintu garasi. Kamera baru merekam ketika pelaku sudah berada di dalam.
“Biasanya, kamera menangkap semua. Tapi malam itu hilang. Seperti mereka menyadap sinyal. Semua korban alami hal yang sama,” ujar Rahman. Dia menduga para pelaku merupakan jaringan pencurian yang terorganisasi.
Berbekal dugaan itu, Rahman kemudian menemui Polsek Jaluko. Informasi dari Kanit Jaluko dan Kanit Pidum Polres Muaro Jambi menyebutkan bahwa total motor yang berhasil mereka ambil ada delapan unit. Namun, khusus motor-motor korban yang tergabung dalam grup tersebut ada sekitar 23 unit. Baru satu yang ditemukan, yaitu motor mahasiswa di kos miliknya.
Menurutnya, motor yang dicuri di tempatnya seluruhnya adalah Honda Beat. Sementara motor yang tersisa pada malam kejadian adalah jenis Scoopy yang memiliki alarm, satu Yamaha matic, dan Honda Blade miliknya. “Motor saya tidak mereka ambil, mungkin karena jelek,” ujarnya.
Jawaban Mengejutkan dari Pelaku
Rahman mengaku nekat menemui pelaku yang kini berada di tahanan, yakni Bed dan Eko. Dari keduanya, dia mendapatkan jawaban mengejutkan. Pengakuan Eko menyebutkan bahwa dirinya hanya seorang juru masak yang dijanjikan pekerjaan di Jambi. Dia dibawa dari Musi Rawas untuk bekerja di bengkel milik Hendri, terduga pelaku utama, pemilik bengkel di kawasan Simpang Tiga Telanaipura, Kota Jambi.
“Tapi katanya dia malah dijebak. Disuruh antar motor, lalu ikut terseret kasus curanmor,” kata Rahman. Setelah mendapat informasi dari polisi dan tersangka, Rahman sendirian melakukan penelusuran. Tempat pertama yang dituju adalah lokasi kontrakan dan tempat usaha H, terduga pelaku utama.
“Rumah kontrakannya ada di belakang Mitra Bangunan, dekat sungai. Kami sempat datang. Tapi, kata istrinya, baru pindah ke situ dua-tiga hari sebelumnya,” jelasnya. Setelah itu, dia memastikan keberadaan bengkel milik Hendri di Simpang Tiga Telanaipura, Kota Jambi. “Bengkel masih buka seperti biasa. Karyawannya tetap kerja. Hanya Hendrinya tidak ada. Saya juga bertemu pemilik kontrakan. Semua informasi cocok dengan keterangan pelaku,” kata dia.
Hasil penelusuran itu membuat Rahman meyakini bahwa jaringan curanmor yang beraksi di Mendalo bergerak rapi dan tersusun. “Pelakunya bukan orang sembarangan. H itu paham betul dunia motor, kunci-kunci, modifikasi. Dia bisa saja dijadikan otak untuk memudahkan jaringan mereka memasarkan motor curian,” katanya.
Kesulitan Polisi di Sungai Nibung
Tak hanya memaparkan hasil penelusuran. Rahman juga menjelaskan keterangan polisi terkait kesulitan utama dalam pengungkapan kasus. Penyidikan polisi terkait curanmor Mendalo, mengantar ke suatu tempat yang bernama Sungai Nibung, di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Provinsi Sumatera Selatan.
“Kata Kanit, motor-motor itu dibawa ke satu kampung bernama Sungai Nibung. Masalahnya, kampung itu punya akses satu jembatan kecil. Begitu ada orang masuk, warga langsung memberi tahu pelaku. Jadi polisi susah masuk,” jelasnya. Menurut penyidik, hampir seluruh warga di lokasi itu memiliki senjata api (senpi) rakitan. “Sangat berbahaya bagi keselamatan anggota kalau masuk ke dalam. Maka polisi menunggu pelaku keluar,” kata Rahman.
Dia berharap polisi dapat segera menangkap Hendri serta dua pelaku lain yang masih buron, agar motor-motor milik mahasiswa maupun warga Jaluko bisa segera ditemukan. “Kasihan anak-anak kos, kasihan korban lainnya. Motor itu bukan sekadar kendaraan, tapi alat mereka untuk kuliah, kerja, dan kegiatan sehari-hari,” ujarnya.
Warga dan Mahasiswa Dilingkupi Kekhawatiran
Setelah empat motor hilang sekaligus, Rahman sebagai pemilik kos mengaku warga kini hidup dalam rasa takut dan berharap adanya pengamanan lebih serius dari kepolisian. Rahman menilai perlunya pos polisi tambahan ataupun kehadiran tim patroli yang mobile di sekitar kawasan kampus yang padat aktivitas mahasiswa.
“Harapan saya sangat-sangat penting. Kalau bisa ditambah pos polisi atau ada tim respon cepat. Kalau kami lihat pelaku beraksi, ada nomor darurat yang bisa dihubungi dan polisi langsung datang,” ujarnya. Menurutnya, warga maupun pemilik kos sering kali bingung ketika mendapati pelaku berada di lokasi.
“Mereka ini ramai, terorganisir. Mau bertindak sendiri pun kami takut,” katanya. Meski pencurian barang lain jarang terjadi, kasus curanmor terus meningkat. Rahman menyebutkan kos tetangga juga pernah dibobol pelaku sebelumnya, dan hingga kini kasus itu belum terungkap. “Motor saja yang rentan. Barang-barang lain alhamdulillah aman,” ucapnya.
Harapan Besar kepada Pihak Berwenang
Rahman juga mengaku aksi pencurian ini berdampak pada kepercayaan orang tua mahasiswa terhadap keamanan kos. “Otomatislah berpengaruh ke ekonomi kami. Tapi terlepas itu semua, saya yakin rezeki diatur Allah. Yang saya minta cuma keamanan.”
Dia lalu menyampaikan harapan besar kepada Kapolda Jambi, Kapolri, hingga Presiden Prabowo Subianto untuk turun tangan. “Ini sudah jadi masalah lama. Dari grup kami saja ada 23 motor hilang dalam dua pekan. Dari pengakuan pelaku, total sampai 60 unit beredar di daerah Sungai Nibung,” jelasnya. Menurut Rahman, kawasan itu menjadi markas sindikat dan tempat peredaran motor curian.
Polisi disebut mengalami kesulitan karena akses masuk ke kampung tersebut diawasi warga dan diduga banyak kepemilikan senpi rakitan, sehingga berisiko tinggi bagi anggota. “Harapan saya tolonglah digerebek. Barang bukti curanmor dari Mendalo semuanya katanya ada di sana. Kalau tidak terungkap, sindikat besar ini bisa melakukan tindakan lebih jauh,” tegasnya.
Rahman meminta aparat tegas mengungkap otak pelaku bernama Hendri yang hingga kini masih buron. “Pelaku sudah ada yang ditangkap, satu motor sudah kembali. Harusnya tiga motor lain bisa terungkap. Tapi karena otaknya belum ditangkap, kasus ini jadi buntu.” Dia menutup percakapan dengan Tribun dengan menyampaikan harapan dengan suara berat. “Kami di Mendalo ini jauh dari rasa aman. Ribuan mahasiswa beraktivitas setiap hari. Tolong Pak Kapolri, Pak Presiden, bantu kami. Jangan biarkan keamanan di kampus sebesar ini lemah seperti sekarang,” ujarnya.
Modus Berubah-ubah
Kapolsek Jaluko, Iptu Chandra, mengatakan selama dia 11 bulan menjabat sudah ada puluhan laporan. Sejauh ini, delapan unit motor berhasil diamankan hasil kolaborasi Polsek Jaluko dengan Polda, Polsek Kota Baru, Polsek Jelutung, serta Polres Muaro Jambi. Penadah asal Musi Rawas turut ditangkap. Dua tersangka pencuri sudah ditahan, sementara dua pelaku lainnya masih dalam pengejaran.
“Para pelaku ini sebagian besar dari luar Jambi, dari Sumatera Selatan. Mereka menjadikan pencurian motor sebagai mata pencaharian,” ungkapnya. Modus para pelaku berubah-ubah. Ada yang langsung membawa motor ke luar daerah menggunakan joki, ada yang menitipkan motor hasil curian di semak-semak sebelum dijemput mobil. Polsek Jaluko bahkan pernah menemukan motor KLX yang disembunyikan pelaku di semak-semak sebelum rencananya diangkut oleh penadah.

















