Kekhawatiran Pasar Modal dan Sikap BTN Terhadap Buyback Saham
Pergantian pimpinan di pasar modal dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini telah memicu gelombang kekhawatiran di kalangan investor. Mundurnya sejumlah pejabat kunci di tengah kondisi bursa yang bergejolak menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas dan kepercayaan pasar. Namun, di tengah ketidakpastian ini, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menyatakan belum melihat adanya urgensi untuk melakukan pembelian kembali sahamnya sendiri atau buyback.
Nixon LP Napitupulu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk, enggan berspekulasi mengenai alasan di balik pengunduran diri para pejabat tersebut. Menjelang pembukaan perdagangan pada hari Senin, Nixon juga belum bersedia memberikan prediksi mengenai arah pergerakan pasar, meskipun ia mencatat adanya indikasi pemulihan pada saham-saham yang ada. “Kita lihat Senin saja,” ujarnya saat ditemui di Jakarta pada Sabtu, 31 Januari 2026.
Terkait langkah strategis perseroan dalam menjaga nilai saham BTN, Nixon menegaskan bahwa saat ini belum ada rencana untuk melakukan buyback. “Belum. Kami sedang memikirkan, tapi harus bicara dulu dengan Danareksa,” jelasnya. Danareksa adalah lembaga keuangan yang memiliki peran penting dalam pengelolaan aset dan pasar modal di Indonesia.
Menariknya, BTN justru sedang mempertimbangkan opsi pembelian saham dari pasar untuk memenuhi kebutuhan internal, bukan untuk tujuan buyback tradisional. “Kami sedang memikirkan untuk membeli dari pasar, tapi bukan untuk kami simpan, melainkan untuk bonus karyawan. Jadi, bonus kami berikan dalam bentuk saham saja,” ungkap Nixon.
Skema pemberian bonus dalam bentuk saham ini, menurut Nixon, akan dilakukan dalam skala yang terbatas. Hal ini didasari oleh keyakinan perseroan terhadap prospek kinerja BTN yang dinilai masih solid. “Jika melihat kinerja tahun 2025, kami yakin ke depan juga akan bagus. Namun, skalanya tetap kecil. Karyawan akan mendapatkan porsi bonus yang kami berikan dalam bentuk saham. Itu yang paling mungkin kami pikirkan,” lanjut Nixon.
Kendala dan Pertimbangan BTN dalam Buyback
Sementara itu, opsi buyback saham untuk disimpan sebagai saham treasuri belum menjadi prioritas bagi BTN. Nixon menjelaskan bahwa melakukan buyback untuk disimpan sendiri oleh BTN menghadapi kendala yang cukup signifikan. “Kalau buyback untuk disimpan di BTN, belum ada rencana. Karena BTN itu sulit untuk melakukan buyback,” tuturnya.
Kendala utama yang dihadapi BTN dalam melakukan buyback saham terkait erat dengan struktur kepemilikan sahamnya. “Kita kan 40 persen milik publik, 60 persen milik negara. Itu batas terakhir, threshold, supaya dapat tax benefit,” jelas Nixon.
Jika BTN melakukan buyback saham hingga kepemilikan publik turun di bawah batas tersebut, misalnya menjadi 39 persen, maka perseroan akan kehilangan keuntungan pajak yang signifikan. “Kalau begitu (kepemilikan publik) jadi 39 persen saja, karena dibeli oleh BTN, tax benefit kita jadi hilang 5 persen, sayang,” tegas Nixon.
Ketika kembali ditanyakan mengenai kemungkinan buyback saham, Nixon menutup percakapan dengan jawaban yang lugas, menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah pada implikasi pajak. “Belum. Concern-nya pajak,” pungkasnya.
Situasi ini menyoroti kompleksitas keputusan strategis perusahaan, terutama ketika menyangkut buyback saham, yang tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi pasar dan kinerja internal, tetapi juga oleh regulasi perpajakan dan struktur kepemilikan saham. Investor akan terus memantau perkembangan lebih lanjut mengenai langkah-langkah BTN dalam mengelola nilai sahamnya di tengah dinamika pasar modal yang senantiasa berubah.

















