Berita

Penurunan Konten, Moderasi AI, dan Pengunduran Diri Kompasianer

×

Penurunan Konten, Moderasi AI, dan Pengunduran Diri Kompasianer

Sebarkan artikel ini

Peran Moderasi Artikel di Platform Kompasianer

Beberapa waktu lalu, terjadi diskusi menarik di grup WhatsApp salah satu komunitas yang saya ikuti. Topik utamanya adalah mengenai sebuah tulisan seorang Kompasianer yang dihapus dari tayangan. Menurut penulis tersebut, tulisan yang ia buat berisi kritik yang komprehensif dan didasarkan pada sumber kredibel, tanpa niat menyudutkan pihak tertentu. Saya belum membaca tulisan tersebut karena memang sudah tidak tersedia lagi. Namun, saya mencoba memahami perasaan penulis tersebut. Rasa kecewa muncul karena admin membuat topik pilihan mengenai refleksi 1 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Dari topik ini, tentu akan banyak tulisan yang mengkritik pemerintahan presiden RI ke-8 tersebut.

Saya tidak ingin mengomentari masalah ini secara langsung karena belum membaca tulisan lengkapnya. Hanya saja, saya ingin memberikan beberapa pendapat tentang interaksi penulis dengan aturan di platform ini.

Moderasi Artikel yang Menggunakan Teknologi AI

Pertama, saya ingin menyoroti moderasi artikel yang tayang di . Beberapa Kompasianer mengatakan bahwa kini moderasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang tentu tidak bisa sepenuhnya maksimal dalam membaca artikel Kompasianer. Saya memahami bahwa jumlah artikel yang tayang di platform ini sangat banyak. Penggunaan teknologi AI memang bisa membantu admin dalam melakukan moderasi. Namun, bukan berarti AI digunakan sebagai patokan utama. Saya yakin sebaik apa pun AI, pasti ada kelemahannya. Untuk itulah peran manusia tetap diperlukan.

Sebagai contoh, beberapa bulan lalu saya memenangkan blog tentang kereta api. Ada salah satu pemenang yang tulisannya benar-benar dibuat oleh AI. Sampai-sampai saya heran, bagaimana tulisan seperti ini bisa lolos moderasi dan bahkan menang. Jika lolos moderasi saja tidak masalah, tapi justru menang. Kejadian ini bisa menjadi pelajaran agar proses moderasi lebih baik lagi.

Baca Juga :  Gov’t to Strengthen National Health Security As COVID-19 Cases Drop

Proses Karantina Artikel yang Ambigu

Kedua, proses karantina artikel juga perlu diperbaiki. Menurut saya, proses ini ambiguitas. Meskipun saya paham tujuannya adalah untuk menahan artikel yang berpotensi melanggar, kadang ada beberapa artikel yang aman-aman saja tapi lama sekali untuk ditayangkan. Beberapa artikel saya yang hanya bercerita tentang pengalaman pribadi ternyata lama sekali tayangnya. Padahal, saya ingin segera membagikannya di media sosial. Sementara itu, ada artikel saya yang menurut saya perlu dikarantina karena ada kritik tajam, eh malah satu menit sudah tayang. Artinya, saya tidak begitu paham standar proses ini.

Perubahan Fokus Platform Kompasianer

Ketiga, rasanya sekarang semakin tumpul. Saya sangat mengapresiasi pergeseran platform Kompasianer ke bidang pendidikan. Saya juga mengapresiasi ruang yang diberikan kepada Kompasianer dengan keilmuan di bidang tertentu untuk berbagi pengetahuan melalui berbagai kanal yang didukung . Bahkan, banyak kegiatan dan agenda yang melibatkan mereka. Bagi saya, ini hal luar biasa.

Namun, saya merasa ruang diskusi mengenai ide atau masalah yang hangat dibicarakan tidak seseru masa lalu. Dulu, saat ada isu terkini, banyak Kompasianer menulis pemikirannya. Bahkan sampai terbelah antara pro dan kontra. Kolom komentar riuh dengan berbagai pendapat saling silang, meski sering tak berujung, tetapi menjadi daya tarik tersendiri.

Baca Juga :  Penataan Ulang Sistem Distribusi Penjualan Ayam Potong Bintan

Kini, kegiatan seperti itu jarang saya temukan di . Banyak Kompasianer yang mungkin bermain aman agar tulisannya tetap tayang. Tidak ingin nasib sama dengan Kompasianer yang tulisannya diturunkan. Riuh rendah mengenai masalah yang hangat pun kini bergeser ke media sosial seperti TikTok, Instagram, maupun X.

Eksodus Kompasianer

Keempat, eksodus Kompasianer. Saya menyadari, kini banyak Kompasianer yang dulunya kritis menjadi tidak lagi menulis di . Ada rekan Kompasianer yang dulu aktif menyuarakan isu tertentu, tapi saat saya cek tulisan terbarunya, ternyata sudah satu tahun lalu. Ada rekan fiksianer yang dulu karyanya dinanti, tapi kini tidak menulis bertahun-tahun. Saat saya cek tulisan terakhirnya, ada tulisan protes kepada admin karena cerpennya dihapus tanpa pemberitahuan jelas. Padahal, ia sudah susah-susah menulis dan mengedit.

Jadi, saya tidak ingin berkomentar lebih banyak lagi. Bagi saya, mungkin sekarang beralih ke platform edukatif dan membangun bangsa. Bagi saya sih tak masalah. Namun, karena jiwa saya suka menulis kritik, maka tidak salah juga saya membatasi kegiatan menulis di tidak seaktif dulu. Saya memilih platform lain untuk menyuarakan aspirasi saya. Daripada nanti menulis panjang lebar, eh malah dihapus. Sayang kan?