Perubahan Sikap IOC terhadap Indonesia
Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang sebelumnya dikenal sebagai badan olahraga dunia yang sangat ramah terhadap Indonesia, kini menunjukkan sikap yang jauh berbeda. Dalam waktu satu tahun saja, IOC mengubah pendiriannya secara drastis terhadap negara yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia ini.
Beberapa bulan lalu, IOC dilaporkan meminta seluruh federasi olahraga internasional untuk tidak menyelenggarakan acara apa pun di Indonesia. Desakan ini muncul setelah pemerintah Indonesia melarang enam atlet senam Israel mengikuti Kejuaraan Dunia Senam Artistik yang sedang berlangsung di Jakarta. Langkah ini diambil oleh Indonesia dengan alasan “menjaga ketertiban umum”, namun bagi IOC, keputusan tersebut menjadi masalah besar.
Sebaliknya, pada 2024 silam, IOC menunjukkan sikap yang lebih hangat dan ramah. Saat itu, IOC dipimpin oleh Thomas Bach, yang menyambut Prabowo Subianto—yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan—di Hotel Du Collectionneur, Paris, pada hari Sabtu (27/7/2024). Bach memberikan jabat tangan erat kepada Prabowo dan menyampaikan komitmen IOC dalam memperkuat hubungan antara Indonesia dan komunitas olahraga internasional, terutama dalam konteks partisipasi Indonesia dalam Olimpiade Paris 2024.
“Terima kasih banyak. Kehormatan besar, kebahagiaan besar bagi kami. Selamat datang di Olimpiade, Pembukaan yang indah,” ujar Thomas Bach. Prabowo bahkan diberikan plakat berupa medali khusus dari Presiden IOC kala itu. “Ini adalah medali yang dirancang oleh pendiri kami Pierre de Coubertin untuk mengenang pendirian IOC di sini, di Paris, di Universitas Sorbonne pada tanggal 23 Juni 1894,” tambah Bach.
Tidak Ada Even Olahraga di Indonesia
Kini, dengan kepemimpinan baru Kirsty Coventry, sikap IOC berubah sepenuhnya. Lembaga ini tidak ingin Indonesia menjadi tuan rumah even olahraga apapun karena keputusan pemerintah untuk menolak visa bagi pesenam Israel. Keputusan ini diambil oleh Indonesia dalam konteks konflik antara Israel dan Palestina, khususnya terkait genosida di Gaza.
Dewan eksekutif IOC mengeluarkan pernyataan pada Rabu (22/10/2025), menyatakan bahwa mereka merekomendasikan agar badan olahraga dunia tidak menyelenggarakan acara di Indonesia. Pernyataan ini menunjukkan bahwa IOC tidak lagi bersedia bekerja sama dengan Indonesia dalam hal penyelenggaraan even olahraga.
Indonesia, yang merupakan negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan untuk memutus hubungan dengan Israel sampai negara tersebut mengakui kemerdekaan Palestina. Dalam pernyataannya, IOC juga menyatakan bahwa mereka akan menghentikan semua diskusi tentang potensi tawaran Olimpiade oleh Indonesia hingga pemerintah memberikan jaminan bahwa semua atlet, tanpa memandang kewarganegaraannya, dapat berkompetisi di sana di masa mendatang.
Indonesia telah sering menyatakan minatnya untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2036. Namun, keputusan IOC ini nyaris mengubur peluangnya untuk menyelenggarakan Olimpiade dalam waktu 11 tahun.

Indonesia Siap Terima Konsekuensi
Menyusul pernyataan IOC, Menteri Olahraga Erick Thohir menyatakan bahwa Indonesia “memahami konsekuensi dari keputusannya”. Ia menambahkan bahwa langkah ini diambil untuk menjaga ketertiban umum dan kepentingan nasional.
“Kami berpegang teguh pada prinsip menjaga keamanan, ketertiban umum, dan kepentingan umum dalam menyelenggarakan setiap acara internasional,” tulis Thohir di X. Ia menekankan bahwa prinsip ini merupakan bagian dari konstitusi Indonesia dan didasarkan pada kewajibannya untuk menjaga ketertiban dunia.
“Kami memahami bahwa keputusan ini memiliki konsekuensi, yaitu selama Indonesia belum dapat menerima kehadiran Israel, IOC telah memutuskan bahwa Indonesia tidak dapat menjadi tuan rumah kejuaraan dunia, Olimpiade, Youth Olympic Games, dan kegiatan lainnya di bawah payung Olimpiade,” kata Thohir.
IOC juga menyatakan bahwa mereka akan mengubah prinsip kualifikasi untuk mencakup jaminan akses semua atlet, tanpa memandang kewarganegaraannya, untuk setiap acara kualifikasi Olimpiade. Komite Olimpiade Indonesia dan Federasi Senam Internasional (FIG) diperintahkan untuk menghadiri pertemuan di kantor pusat IOC di Lausanne, Swiss, guna membahas masalah tersebut.
Namun, tanggal pertemuan tersebut tidak disebutkan. Minggu lalu, Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menolak banding yang diajukan Federasi Senam Israel untuk diizinkan berkompetisi di kejuaraan tersebut. CAS juga menolak permintaan Israel untuk memaksa FIG menjamin partisipasi Israel, atau sebagai alternatif, membatalkan atau memindahkan dunia seni. FIG tidak mengancam akan membatalkan acara tersebut dari Indonesia sebagaimana diatur dalam statuta mereka untuk kasus-kasus di mana tuan rumah menolak mengeluarkan visa.

















