Nasional

Pertemuan Prabowo-Paloh Bahas Kepemimpinan Bersama NasDem dan Gerindra

×

Pertemuan Prabowo-Paloh Bahas Kepemimpinan Bersama NasDem dan Gerindra

Sebarkan artikel ini



Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Februari 2026 menjadi sorotan utama dalam berita yang diterbitkan oleh media Tempo. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa pertemuan ini terjadi sebelum Prabowo melakukan perjalanan ke Washington DC, Amerika Serikat.

Ini adalah pertemuan pertama antara Surya dan Prabowo sejak Prabowo dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 2024. Sebelumnya, keduanya pernah bertemu saat Prabowo masih berstatus sebagai presiden terpilih, yaitu ketika ia mengunjungi kantor NasDem di Gondangdia, Jakarta Pusat, pada Maret 2024.

Dalam pertemuan di Hambalang, Surya datang dengan rombongan yang terbatas. Berbeda dengan biasanya, pertemuan ini dilakukan secara tertutup. Keduanya berbicara empat mata selama lebih dari satu jam. Konfirmasi tentang pertemuan ini diberikan oleh Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Harian Partai Gerindra, yang menyatakan bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi.

Beberapa politikus yang dekat dengan Surya dan seorang pengurus Gerindra mengungkapkan bahwa awal pembicaraan dalam pertemuan tersebut membahas ambang batas parlemen. Hal ini terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi pada Februari 2024 yang memerintahkan Dewan Perwakilan Rakyat untuk menghitung ulang ambang batas perolehan suara partai sebagai syarat masuk Senayan.

Baca Juga :  Permudah Distabilitas, Mahasiswa UGM Luncurkan Aplikasi

Surya kemudian mengusulkan agar ambang batas parlemen dinaikkan dari 4 persen menjadi 8 persen. Namun, Prabowo menilai bahwa jika ambang batas dinaikkan, partai-partai kelas menengah dan kecil seperti NasDem akan sulit bertahan dalam pemilihan legislatif.

Hasil pemilu sejak 2014 menunjukkan bahwa NasDem hanya mampu meraih perolehan suara antara 6 hingga 9 persen. Berdasarkan data Pemilu 2024, Prabowo mengusulkan penggabungan Gerindra dan NasDem, yang akan mengumpulkan hampir 35 juta suara nasional atau sekitar 23 persen.

Namun, tiga pejabat teras NasDem menilai bahwa skema penggabungan ini tidak realistis. Menurut mereka, NasDem konsisten berada di peringkat kelima dalam dua kali pemilu legislatif terakhir. Selain itu, NasDem belum siap melepas partai yang dirintisnya sejak awal. Meski demikian, partai ini tetap mendukung pemerintahan Prabowo meskipun tidak mendapatkan kursi menteri di Kabinet Merah Putih.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Terbitkan Perpres 86/2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional

Di sisi lain, lingkaran dekat Prabowo memberikan narasi berbeda. Seorang kolega yang intens berkomunikasi dengan NasDem menyatakan bahwa ide penggabungan berasal dari Surya sendiri. Alasan yang disampaikan Surya adalah bahwa merger bisa menjadi cara menyederhanakan jumlah partai di Indonesia.

Namun, pengurus Gerindra mengkhawatirkan kerumitan yang muncul akibat penggabungan. Contohnya, calon legislator dan daerah pemilihan bisa bertabrakan di wilayah yang selama ini dikuasai NasDem dan Gerindra. Mereka juga memprediksi bahwa merger justru akan membuat perolehan suara partai baru menurun.

Narasumber ini menyarankan agar Gerindra dan NasDem fokus pada usaha masing-masing untuk lolos ambang batas parlemen.

Hingga saat ini, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi belum memberikan respons terhadap permintaan wawancara Tempo untuk mengkonfirmasi informasi ini.

Egi Adyatama, Francisca Christy Rosana, Daniel Ahmad Fajri, Hussein Abri Dongoran, Novali Panji Nugroho, dan Septhia Ryanthie turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul “Ide Merger dari Hambalang”.