Human Interest

Putraku Gugur, Bukan oleh Senjata, Tapi Kopral TNI

×

Putraku Gugur, Bukan oleh Senjata, Tapi Kopral TNI

Sebarkan artikel ini

MEDAN – Dugaan penganiayaan yang berujung pada kematian seorang prajurit TNI, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, saat bertugas di Papua, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan menimbulkan pertanyaan serius tentang disiplin internal di kalangan militer. Pratu Farkhan, yang berasal dari Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, dilaporkan meninggal dunia pada 31 Desember 2025.

Kronologi Kejadian Menurut Keluarga

Menurut penuturan Zakaria Marpaung, ayah dari almarhum Pratu Farkhan, kronologi kejadian yang menyebabkan putranya meninggal dunia bermula saat Pratu Farkhan bertugas di Yonif 113/Jaya Sakti Aceh. Tak lama kemudian, ia ditugaskan untuk memperkuat pasukan di wilayah Papua. Zakaria mengungkapkan bahwa ia tidak pernah menyangka musibah sekelam ini akan menimpa anaknya.

“Kabar itu pertama kali disampaikan oleh sepupunya. Awalnya, anak saya mengeluh sakit dan kemudian mencoba menghangatkan badan di dekat perapian di Papua,” ujar Zakaria saat diwawancarai di kediamannya di Desa Hassan Air Genting pada Sabtu, 3 Januari 2026.

Zakaria melanjutkan ceritanya bahwa selang beberapa waktu, seorang prajurit berpangkat Sersan menghampiri Pratu Farkhan untuk menanyakan kondisi kesehatannya. Saat itu, Pratu Farkhan mengaku sedang merasa tidak enak badan.

“Kemudian Sersan tersebut menawarkan untuk memijat. Tak lama setelah itu, seorang prajurit berpangkat Kopral datang dan memanggil anak saya. Ia diajak ke samping, lalu diperintahkan untuk menunduk. Punggungnya dipukul menggunakan ranting,” ungkap Zakaria dengan nada sedih.

Baca Juga :  Setiap Kebaikanmu, Cahaya Abadi

“Mereka melakukan apa yang dalam istilah tentara disebut ‘peluk tobat’, lalu anak saya ditendang. Ia tersungkur dan jatuh. Setelah itu, ia mencoba bangkit dan melakukan pembelaan diri,” tambahnya.

Zakaria Marpaung menyatakan kekecewaannya yang mendalam atas insiden tragis tersebut. Meskipun demikian, ia juga mengungkapkan rasa bangganya terhadap keberanian putranya yang berupaya melawan seniornya demi mempertahankan diri.

“Yang paling membuat saya kecewa adalah anak saya meninggal bukan karena melawan musuh negara, bukan di ujung senjata Gerakan Pengacau Keamanan (GPK). Anak saya meninggal karena sesama anggota TNI, di bawah tangan dan kaki seorang Kopral TNI,” ujar Zakaria dengan suara bergetar.

“Seharusnya mereka saling menguatkan dan melindungi di sana, mengapa justru saling membunuh? Belum kering makam Prada Lucky, kini datang lagi makam Pratu Farkhan,” keluhnya.

Jenazah Pratu Farkhan Syauqi Marpaung telah dimakamkan di Desa Hessa Air Genting, Kabupaten Asahan, pada Sabtu siang.

Tindakan Tegas dari TNI

Menanggapi insiden memilukan ini, pihak TNI bergerak cepat untuk melakukan investigasi. Komandan Brigade Infanteri 25/Siwah, Kolonel Inf Dimar Bahtera, turut hadir dalam upacara pemakaman Pratu Farkhan, didampingi oleh sejumlah prajurit lainnya.

Baca Juga :  Waspada Copet: Tips Aman Mudik Bus AKAP

Kolonel Inf Dimar Bahtera menegaskan bahwa kasus yang menimpa Pratu Farkhan saat ini sedang dalam proses pengusutan oleh satuan TNI Angkatan Darat. Perintah untuk mengusut tuntas kasus ini datang langsung dari Panglima TNI, Jenderal Agus Subianto.

“Terduga pelaku penganiayaan sudah berhasil kami amankan dan saat ini ditahan di Pusat Polisi Militer (POM) Timika. Sejauh ini, kami masih mengidentifikasi satu orang terduga pelaku. Namun, kami masih terus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah ada pelaku lain yang terlibat dalam insiden ini,” ujar Kolonel Inf Dimar Bahtera.

Pihak TNI berkomitmen untuk mengusut tuntas kasus ini demi menegakkan disiplin dan keadilan di lingkungan militer, serta untuk memberikan kepastian hukum bagi semua pihak yang terlibat. Kejadian ini menjadi pengingat penting akan perlunya pengawasan dan pembinaan yang lebih ketat terhadap para prajurit, terutama di daerah penugasan yang rentan terhadap berbagai bentuk tekanan.