Bandung – Para peneliti dari Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan rumah sakit rujukan di Indonesia berhasil mengembangkan sistem kecerdasan buatan (AI) yang mampu mendeteksi gagal jantung dengan tingkat akurasi mencapai 95%. Terobosan ini menggunakan teknologi pembelajaran mesin yang dilatih khusus dengan data pasien Indonesia[2].
Sistem AI ini menganalisis hasil elektrokardiogram (EKG) dengan teknologi low-cost yang dapat diakses di daerah terpencil. Berbeda dengan sistem serupa yang dikembangkan untuk populasi urban, sistem Indonesia ini dioptimalkan untuk karakteristik genetik dan pola penyakit masyarakat Asia Tenggara.
Dr. Andi Kardio, kardiolog senior di RS Hasan Sadikin Bandung, menjelaskan bahwa sistem ini sangat membantu diagnosis dini di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas. “Kami dapat mendeteksi risiko gagal jantung bahkan sebelum gejala klinis muncul, terutama pada pasien diabetes dan hipertensi yang prevalensinya tinggi di Indonesia.”
Teknologi ini menggunakan algoritma deep learning yang telah dilatih dengan lebih dari 50.000 data EKG pasien Indonesia. Sistem dapat memberikan hasil diagnosis dalam waktu kurang dari 30 detik dan terintegrasi dengan sistem informasi rumah sakit nasional.
Kementerian Kesehatan berencana mengimplementasikan teknologi ini di 100 puskesmas di seluruh Indonesia pada tahun 2026. Program ini diharapkan dapat mengurangi angka kematian akibat penyakit kardiovaskular yang masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

















