Di Balik Ruang Sidang: Jurnalis, Ibu, dan Perjuangan Kebenaran
Rabu, 14 Januari 2026, menjadi saksi bisu bagi seorang jurnalis perempuan muda yang duduk di bangku kayu panjang ruang sidang Mahkamah Konstitusi. Kertas catatan di tangannya mulai kusut, bukan hanya karena keringat, tetapi juga oleh beban kecemasan yang kian menumpuk. Ruangan berpendingin itu terasa dingin menusuk tulang, namun pikirannya justru riuh oleh berbagai suara: detak jam yang tak henti berdentang, dengus napas pengunjung yang gelisah, dan gema suara-suara dari masa lalu yang tak pernah benar-benar lenyap. Ia adalah seorang jurnalis, seorang ibu dari tiga orang anak. Idealisme yang dulu kerap dipuji di bangku kuliah, kini terasa seperti beban berat yang harus dipikul sendirian di tengah realitas yang keras.
Sidang uji materiil Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (TNI) dibuka dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Nama saksi itu adalah Eva Meliani Pasaribu. Saat Eva berdiri, tubuhnya tampak rapuh, namun suaranya memancarkan kekuatan yang tak terduga. Dari kejauhan, sang jurnalis menatapnya, dan tanpa disadari, bayangan ketiga buah hatinya melintas satu per satu di benaknya: rambut mereka yang masih beraroma matahari sore, seragam sekolah yang terkadang terlupa untuk disetrika, dan pertanyaan polos yang selalu mereka ajukan, “Ibu pulang jam berapa?” Pertanyaan sederhana itu seringkali menjadi pengingat akan tanggung jawab ganda yang diemban: sebagai pencari kebenaran dan sebagai pelindung keluarga.
Eva mulai bercerita tentang ayahnya, Riko Sempurna Pasaribu, seorang wartawan. Kata “wartawan” itu seolah menghantam dada sang jurnalis lebih keras daripada detail pembakaran yang disampaikan Eva dengan nada datar, seolah luka itu telah membeku dan tak lagi terasa menyakitkan. Ayahnya menulis tentang dugaan praktik bisnis judi yang diduga mendapat beking dari oknum TNI. Ia menulis, sama seperti sang jurnalis menulis: dengan keyakinan teguh bahwa kebenaran harus dicatat dan diungkapkan, bahkan ketika tangan gemetar karena rasa takut.
Sang jurnalis mencatat dengan cepat, namun getaran di tangannya tak bisa disembunyikan. Ingatannya melompat ke masa lalu, ke sebuah malam ketika ia bersikeras untuk tidak menurunkan berita tentang penggusuran paksa. Redakturnya melabelinya sebagai orang yang terlalu idealis, sementara suaminya saat itu memintanya untuk bersikap realistis. “Kita punya anak,” katanya, sebuah kalimat yang seringkali menjadi alasan untuk mengubur idealisme. Mereka bertengkar hebat, dan akhirnya berpisah. Sang jurnalis memilih untuk tetap menulis, dan sejak saat itu, setiap keputusan yang diambil terasa seperti sebuah perjudian besar dengan masa depan ketiga buah hatinya.
Eva melanjutkan kesaksiannya, menceritakan bagaimana sebelum peristiwa pembakaran itu terjadi, ayahnya didatangi oleh seorang prajurit TNI bernama Koptu Herman Bukit. Permintaannya sederhana namun penuh ancaman: turunkan berita itu. Sang jurnalis menelan ludah, sebuah reaksi spontan atas ingatan yang kembali menyeruak. Ia pernah menerima telepon serupa, meskipun peneleponnya tidak mengenakan seragam. Suara di ujung sana terdengar ramah, bahkan terlalu ramah, sebuah taktik yang justru menimbulkan kecurigaan. Sejak pengalaman itu, ia selalu lebih sering memeriksa kaca spion mobilnya, sebuah kebiasaan baru yang lahir dari ketakutan yang tak terucapkan.
Eva kemudian menyoroti perbedaan perlakuan hukum yang mencolok. Para pelaku sipil diproses secara terbuka, dengan segala transparansi yang diharapkan. Namun, ketika melibatkan anggota militer, prosesnya menjadi tertutup, minim informasi, dan tanpa pengawasan publik yang memadai. Kata-kata Eva bergaung di kepala sang jurnalis, seolah menjadi judul berita yang tak pernah berhasil dimuat. Ia menuliskannya dengan tinta tebal, seolah ketebalan huruf dapat memberikan kekuatan untuk mewujudkan keadilan.
Waktu terasa seolah melipat dirinya sendiri. Sang jurnalis kembali ke pagi hari sebelum berangkat ke sidang: menyiapkan bekal makan siang untuk anak-anaknya, mencium kening mereka dengan penuh kasih sayang, dan berjuang melawan rasa bersalah yang terus menggerogoti. Bagaimana jika suatu hari ia tidak pulang? Bagaimana jika idealisme yang ia yakini justru menelan keluarganya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuinya, namun kini bercampur dengan wajah Eva yang tangguh, seorang perempuan yang harus kehilangan ayah, ibu, adik, dan anaknya dalam satu malam yang kelam. Eva berdiri tegak, sementara ia yang masih memiliki segalanya, justru merasa gemetar.
Kesaksian Eva akhirnya berakhir. Di luar ruang sidang, lini masa media sosial riuh dengan berbagai tanggapan. Dukungan mengalir deras, doa-doa dipanjatkan, dan kemarahan diluapkan oleh publik yang mengikuti perkembangan kasus ini. Sang jurnalis membaca komentar-komentar tersebut sambil menunggu konferensi pers. Ada yang menulis betapa luar biasa energi yang dimiliki Eva, bagaimana ia merasa sendirian di dunia namun tetap berani bersuara lantang. Ia menutup ponselnya, merenungkan betapa mudahnya kata-kata ditulis di dunia maya, namun betapa sulitnya keberanian untuk dijalani di dunia nyata.
Malam itu, setelah anak-anaknya tertidur lelap, sang jurnalis mulai menulis laporannya. Alur pikirannya bergerak maju-mundur, antara fakta-fakta persidangan yang dingin dan denyut psikologis yang tak mampu ia sembunyikan. Ia menulis tentang harapan Eva agar Mahkamah Konstitusi mempertimbangkan uji materiil UU TNI, agar tidak ada lagi perbedaan perlakuan hukum antara sipil dan militer, dan agar kebebasan pers benar-benar terlindungi. Dalam tulisannya, ia juga menulis tentang dirinya sendiri, meski tanpa mencantumkan namanya: seorang jurnalis yang merasa takut, namun tetap memilih untuk hadir dan bersuara.
Ketika naskah laporannya selesai dan terkirim, ia mematikan laptopnya dan menatap wajah anak-anaknya yang terlelap dalam damai. Idealismenya belum sepenuhnya terwujud; ia hanya belajar untuk bernapas lebih pelan, lebih sabar. Jika suatu hari nanti anak-anaknya bertanya mengapa ibunya memilih jalan yang penuh risiko ini, ia ingin bisa menjawab: karena ada Eva yang berdiri tegak di hadapan ketidakadilan, dan karena kebenaran—sekalipun berisiko besar—masih layak diperjuangkan, demi masa depan kita semua.

















