Mangrove: Benteng Alami Pesisir Indonesia yang Perlu Diperkuat
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan luas, memiliki potensi besar sekaligus kerentanan terhadap berbagai bencana alam. Di tengah ancaman tersebut, pohon mangrove hadir sebagai solusi ekologis yang memegang peranan krusial. Mantan Menteri Sosial, Tri Rismaharini, menekankan pentingnya penanaman mangrove secara masif di seluruh kawasan pesisir Indonesia sebagai benteng pertahanan alami terhadap bencana.
“Indonesia kan negara kepulauan, kalau semua wilayah pesisir ditanami mangrove, maka bukan hanya kita yang terjaga dari bencana alam,” ujar Risma saat mengunjungi Kebun Raya Mangrove Surabaya. Penanaman mangrove bukan hanya sekadar menanam pohon, melainkan investasi jangka panjang untuk kelangsungan hidup dan perlindungan masyarakat serta ekosistem.
Manfaat Ganda Mangrove: Perlindungan dan Kehidupan Laut
Keberadaan hutan mangrove menawarkan manfaat yang sangat luas, tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi kelestarian biota laut. Risma menjelaskan bahwa mangrove berfungsi sebagai “natural sea wall” atau dinding laut alami. Dinding laut ini memiliki kemampuan luar biasa untuk meredam gelombang pasang, abrasi, dan bahkan dampak tsunami, sehingga melindungi kawasan pesisir dari kerusakan parah.
Lebih dari sekadar pelindung fisik, mangrove juga merupakan habitat vital bagi berbagai jenis biota laut. Akar-akar mangrove yang kompleks menyediakan tempat berlindung, tempat berkembang biak, dan sumber makanan bagi ikan, udang, kepiting, serta organisme laut lainnya. Dengan demikian, kualitas dan kuantitas sumber daya protein yang berasal dari laut akan tetap terjaga. “Kualitas dari protein kita, yaitu ikan-ikan dan makanan-makanan laut, itu akan terjaga,” tegas Risma.
Pelajaran dari Bencana: Thailand vs. Indonesia
Untuk mengilustrasikan efektivitas mangrove, Risma menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Thailand. Ia pernah mendapatkan penghargaan di Phuket dan menyempatkan diri untuk berkeliling. Pemandunya menceritakan kisah pilu tentang sebuah pulau yang terkenal sebagai lokasi syuting film James Bond, “The Man with the Golden Gun”. Pulau tersebut, yang bernama Khao Phing Kan, mengalami kehancuran total akibat tsunami Samudra Hindia pada tahun 2004.
“Semua hancur, termasuk hotel yang ditempati [pemeran dan tim] James Bond saat itu,” ungkapnya. Perbandingan ini sangat mencolok ketika dikaitkan dengan kondisi di Indonesia. Risma mengungkapkan adanya sebuah wilayah di Indonesia yang, meskipun berdekatan dengan lokasi terdampak tsunami Aceh, justru tidak mengalami kerusakan berarti.
“Itu karena terlindung oleh pohonan cemara udang. Sampingnya bahkan bangunannya sangat jelek, maksudnya bangunan semi permanen itu dia masih utuh, tidak tersentuh tsunami,” jelasnya. Kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa keberadaan vegetasi pantai yang kuat, seperti cemara udang dan mangrove, dapat menjadi peredam bencana yang efektif.
Perlunya Penguatan Status Hukum Kawasan Mangrove
Melihat potensi dan manfaat luar biasa dari mangrove, mantan Wali Kota Surabaya dua periode ini menekankan perlunya penanaman mangrove secara masif di seluruh Indonesia. Namun, upaya penanaman saja tidak cukup. Penguatan status hukum kawasan mangrove juga menjadi kunci agar kelestariannya terjaga dan tidak mudah dialihfungsikan.
Risma mencontohkan Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya sebagai model yang baik. Dengan luas 34 hektare yang mencakup kawasan Gunung Anyar, Medokan Sawah, dan Wonorejo, KRM Surabaya memiliki status hukum yang kuat sebagai kebun raya. “Jika statusnya kebun raya, kekuatan hukumnya jauh lebih kuat dan tidak bisa dialihfungsikan sembarangan,” pungkasnya.
Penetapan status hukum yang jelas dan kuat akan memberikan perlindungan hukum yang memadai bagi kawasan mangrove dari ancaman alih fungsi lahan untuk kepentingan lain yang dapat merusak ekosistem. Hal ini penting untuk memastikan bahwa hutan mangrove dapat terus menjalankan fungsinya sebagai pelindung pesisir dan penyangga kehidupan laut bagi generasi mendatang. Upaya konservasi dan rehabilitasi mangrove harus didukung dengan kebijakan yang tegas dan implementasi yang konsisten.
Pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait perlu bersinergi untuk memperluas area tanam mangrove, melakukan restorasi kawasan yang rusak, serta meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem mangrove. Dengan demikian, Indonesia dapat lebih tangguh dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan bencana alam, sekaligus menjaga kekayaan hayati lautnya.

















