Ringkasan Berita:RS Ramela Jayapura, yang telah memperoleh Akreditasi Paripurna, berkomitmen menjadi pusat pelayanan bagi ibu dan anak.
Kepala Rumah Sakit Ramela menghadapi tantangan berupa pengurangan anggaran (menjadi Rp16 miliar) serta kekurangan peralatan penting. Meskipun keterbatasan tersebut, rumah sakit ini tetap berkomitmen untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan memberikan layanan kepada seluruh pasien, termasuk mereka yang tidak memiliki asuransi kesehatan. Kepemimpinan Rumah Sakit Ramela dihadapkan pada masalah pemotongan dana (hingga Rp16 miliar) dan keterbatasan alat kritis. Meski begitu, rumah sakit ini terus berupaya memperbaiki kualitas sumber daya manusia serta melayani semua pasien, termasuk yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Pemimpin RS Ramela menghadapi kesulitan dalam hal pengurangan anggaran (menjadi Rp16 miliar) dan kurangnya peralatan penting. Meskipun demikian, rumah sakit ini tetap menekankan peningkatan mutu staf serta memberikan pelayanan kepada seluruh pasien, termasuk yang tidak memiliki asuransi kesehatan.
Laporan Wartawan ,Taniya Sembiring
, JAYAPURA – Rumah Sakit Ramela terus melakukan perbaikan guna memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya dalam bidang kesehatan ibu dan anak.
Sementara Direktur RS Ramela, Fredriks Y. Hisage, menegaskan komitmennya untuk menjadikan rumah sakit tersebut sebagai pusat rujukan pelayanan ibu dan anak di kawasan Muara Tami hingga Kota Jayapura.
Selama delapan bulan menjabat, Fredriks menganggap pelayanan di RS Ramela telah berjalan sesuai standar rumah sakit Tipe D. Bahkan, rumah sakit ini telah memperoleh akreditasi penuh, sebagai bukti peningkatan kualitas layanan baik dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) maupun fasilitas dan infrastruktur.
“Kami terus berupaya memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana agar pelayanan ke depan dapat optimal dan sesuai dengan standar rumah sakit,” kata Fredriks di Jayapura, Rabu (5/11/2025).
Saat ini, Rumah Sakit Ramela sedang membangun gedung baru yang khusus digunakan untuk layanan kesehatan ibu dan anak, termasuk ruangan untuk perawatan bayi.
Namun, pihak rumah sakit masih membutuhkan beberapa peralatan kesehatan penting, seperti ventilator, alat pemantau pasien, dan peralatan pendukung operasi.
Fredriks mengatakan, rumah sakit baru saja mendapatkan bantuan alat sterilisasi dari TP3KB guna mendukung prosedur operasi, khususnya untuk ibu yang menjalani tindakan sterilisasi.
Ia berharap dukungan pemerintah daerah tetap berlanjut, khususnya dalam penambahan dana untuk melengkapi fasilitas yang masih kurang.
“Tahun 2025 kami menerima anggaran sekitar Rp26 miliar, tetapi berkat efisiensi turun menjadi Rp16 miliar. Padahal, jumlah pasien terus bertambah setiap tahun, bahkan mencapai lebih dari seribu kunjungan dalam sebulan,” katanya.
Selain peningkatan fasilitas, Rumah Sakit Ramela juga memperhatikan pengembangan kemampuan tenaga medis dan perawat. Pelatihan berkala diadakan agar kualitas layanan di ruang perawatan intensif maupun rawat inap terus meningkat.
“Kami telah menyediakan pelatihan untuk para perawat agar meningkatkan kompetensi mereka, khususnya dalam pelayanan keperawatan di ruang intensif,” tambahnya.
Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan, RS Ramela tetap menunjukkan komitmennya dalam memberikan layanan terbaik. Bahkan, rumah sakit ini masih menerima pasien yang tidak memiliki asuransi kesehatan dengan menerapkan kebijakan jaminan langsung dari pihak rumah sakit.
“Jika pasien datang tanpa asuransi, kami tetap memberikan pelayanan. Saya bertanggung jawab sebagai direktur agar layanan kepada masyarakat terus berjalan,” tegas Fredriks.
Dengan berbagai upaya perbaikan yang sedang dilakukan, Fredriks berharap pemerintah daerah terus memberikan dukungan, baik berupa bantuan alat kesehatan maupun penambahan anggaran, agar RS Ramela benar-benar menjadi rumah sakit unggulan masyarakat Papua, khususnya dalam bidang kesehatan ibu dan anak. (*)

















