Cemas Akan Eskalasi Global, SBY Ingatkan Kemiripan Situasi dengan Latar Perang Dunia
Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), baru-baru ini menyuarakan keprihatinannya yang mendalam terkait dinamika geopolitik global yang semakin memanas dalam beberapa bulan terakhir. Melalui unggahan di platform X, SBY menyatakan kekhawatiran terbesarnya akan potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga. Analisisnya didasarkan pada pengamatannya yang telah berlangsung puluhan tahun terhadap perkembangan dunia, perdamaian, keamanan internasional, serta sejarah peperangan lintas abad.
“Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini. Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,” ungkap SBY dalam pernyataannya di akun X pribadinya.
SBY tidak ragu untuk menyatakan bahwa sangat mungkin konflik global yang tengah terjadi saat ini akan berujung pada skenario terburuk, yaitu Perang Dunia Ketiga. Ia melihat adanya pola yang mengkhawatirkan, yang sangat mirip dengan kondisi yang melingkupi latar belakang pecahnya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945).
Pola Sejarah yang Mengkhawatirkan
Menurut SBY, kesamaan situasi global saat ini dengan periode sebelum kedua perang dunia tersebut terlihat jelas dalam beberapa aspek krusial:
- Munculnya Pemimpin yang Agresif: Teridentifikasi adanya pemimpin-pemimpin negara yang menunjukkan ambisi dan kecenderungan untuk berperang, yang berpotensi memicu konflik.
- Pembentukan Aliansi yang Saling Berhadapan: Terbentuknya blok-blok atau persekutuan negara yang memiliki kepentingan berlawanan dan cenderung saling mengancam, menciptakan ketegangan geopolitik yang tinggi.
- Perlombaan Senjata dan Persiapan Militer: Terjadi pembangunan kekuatan militer secara besar-besaran, termasuk kesiapan ekonomi dan industri pertahanan untuk mendukung potensi perang.
- Kondisi Geopolitik yang Memanas: Secara keseluruhan, peta perpolitikan dunia menunjukkan tanda-tanda ketegangan yang ekstrem dan potensi konflik yang meningkat.
SBY menambahkan bahwa catatan sejarah menunjukkan bahwa meskipun tanda-tanda perang besar sudah terlihat jelas, kesadaran, kepedulian, dan upaya nyata untuk mencegah konflik seringkali minim atau bahkan tidak terjadi.
“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini,” jelasnya.
Ancaman Kehancuran dan Pentingnya Aksi Nyata
Lebih lanjut, SBY menekankan betapa mengerikannya dampak jika perang dunia benar-benar terjadi, terutama jika melibatkan senjata nuklir. Ia mengutip berbagai studi yang memprediksi kehancuran dunia yang tak terhindarkan, dengan potensi korban jiwa mencapai lebih dari 5 miliar manusia. Skenario terburuk ini juga berarti lenyapnya peradaban manusia dan musnahnya harapan.
“Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia,” ujar SBY.
Namun, SBY menegaskan bahwa sekadar harapan dan doa saja tidak akan cukup untuk mencegah bencana ini. Ia berpandangan bahwa upaya kolektif dari seluruh umat manusia sangatlah krusial.
“Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya,” tegasnya.
Seruan untuk PBB dan Langkah Nyata
Menyikapi kekhawatiran tersebut, SBY mengajukan serangkaian saran dan usulan konkret, terutama yang berkaitan dengan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia mendorong PBB untuk mengambil inisiatif proaktif guna mencegah eskalasi krisis global.
“Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru,” ungkap SBY.
Meskipun menyadari keterbatasan dan potensi ketidakberdayaan PBB di era saat ini, SBY berharap agar badan dunia tersebut tidak memilih sikap pasif atau melakukan pembiaran terhadap situasi yang mengkhawatirkan ini.
“Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing,” imbuhnya.
SBY juga mengakui bahwa pandangannya mungkin tidak akan mendapat perhatian dari para penguasa dunia. Namun, ia tetap meyakini bahwa setiap upaya akan membuka peluang.
“Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu ‘bagai berseru di padang pasir’. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way,” tuturnya, mengutip peribahasa yang menekankan bahwa di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

















