Local

Tanaman Hama Ulat, Petani Bawang Merah di Polman Kehilangan Jutaan Rupiah

×

Tanaman Hama Ulat, Petani Bawang Merah di Polman Kehilangan Jutaan Rupiah

Sebarkan artikel ini

Petani Bawang Merah di Polman Kehilangan Ribuan Juta Rupiah Akibat Serangan Hama Ulat

Petani bawang merah di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) kini menghadapi kegagalan panen yang sangat besar. Hal ini disebabkan oleh serangan hama ulat yang menyerang tanaman mereka sejak dua minggu setelah masa tanam hingga saat ini. Akibatnya, para petani hanya bisa melihat hasil tanaman mereka rusak dan gagal dipanen.

Kerugian yang dialami para petani diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Namun, angka tersebut belum termasuk biaya operasional seperti pengeluaran untuk pembukaan lahan, pupuk, dan pestisida. Menurut Subaer, salah satu petani bawang merah, kerugian ini terjadi di beberapa titik wilayah Kecamatan Campalagian dan Balanipa.

“Kalau diperkirakan ini semua, miliaran ruginya petani. Itu baru dihitung dari harga bibit, karena kami beli bibit mulai Rp4,5 juta sampai Rp5,7 juta per kuintal,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa biaya operasional yang dikeluarkan selama proses tanam sangat besar. “Mana lagi ongkos pengeluaran saat pembukaan lahan dan biaya pupuk. Jadi banyak betul rugi,” tambahnya.

Baca Juga :  5 tempat makan keluarga nyaman di Klaten Jateng: dekat alun-alun dan luas

Penyebab dan Perkembangan Hama Ulat

Menurut Subaer, serangan hama ulat terjadi setelah dua minggu masa tanam. Ulat-ulat tersebut berkembang biak di antara kerumunan dedaunan bawang merah. Ketika daun bawang habis dan mengering, ulat akan berpindah tempat.

“Kalau habis daunnya bawang, tidak berkembang lagi dan tinggal mengering saja di situ,” katanya.

Para petani telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah hama tersebut, baik dengan metode tradisional maupun penyemprotan obat-obatan. Namun, upaya-upaya ini tidak membuahkan hasil yang signifikan.

“Sudah banyak yang dilakukan, memungut ulat-ulatnya maupun menggunakan obat-obatan pengusir yang dibeli,” ujarnya.

Harapan Petani pada Pemerintah

Situasi ini membuat para petani hanya bisa pasrah dan menerima keadaan. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan untuk menangani hama serta memberikan solusi atas kerugian yang sangat besar.

Subaer menegaskan bahwa apa yang dialami para petani bawang hingga gagal panen seharusnya tidak boleh terjadi. Ia menilai, hal ini membutuhkan perhatian khusus dari pihak berwenang.

Baca Juga :  Jalan Desa Dagen di Karanganyar Diperbaiki Secara Ragu-Ragu, Hanya Tambal Sulam

“Pasrah semua petani. Kalau begini jadinya perlu pemerintah turun tangan, kalau bisa gubernur sekalian supaya dilihat langsung bagaimana menderitanya petani,” pungkasnya.

Tantangan yang Dihadapi Petani

Serangan hama ulat bukan hanya menjadi masalah teknis, tetapi juga menjadi beban psikologis bagi para petani. Mereka harus menghadapi kerugian finansial yang besar sementara usaha mereka tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Beberapa petani bahkan mengatakan bahwa mereka sudah menghabiskan waktu dan tenaga untuk menanam bawang merah, namun hasilnya tidak sesuai harapan. Ini menjadi tantangan besar dalam menjaga kelangsungan usaha pertanian mereka.

Solusi yang Diharapkan

Para petani berharap pemerintah dapat memberikan bantuan berupa alat atau bahan kimia yang lebih efektif untuk mengatasi hama ulat. Selain itu, mereka juga berharap adanya program pendampingan dan pelatihan tentang pengendalian hama secara lebih tepat dan efisien.

Dengan adanya intervensi dari pemerintah, diharapkan para petani dapat kembali bangkit dan menjalankan usaha pertanian mereka dengan lebih baik.