Tiongkok Tunda Impor Daging Sapi Irlandia Akibat Wabah Virus Bluetongue
Dublin, Irlandia – Tiongkok kembali mengambil langkah penangguhan impor daging sapi dari Irlandia, efektif mulai 27 Januari 2026. Keputusan mendadak ini diambil hanya berselang dua minggu setelah pasar tersebut dibuka kembali untuk produk daging sapi Irlandia. Penangguhan ini dipicu oleh laporan resmi dari otoritas Irlandia mengenai adanya wabah Virus Bluetongue (BTV) yang terdeteksi pada empat kelompok ternak sapi di County Wexford.
Meskipun penyakit ini tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia maupun keamanan konsumsi daging, wabah BTV telah memicu penerapan protokol perdagangan yang lebih ketat. Dampak langsung dari penangguhan ini terasa pada pengiriman daging sapi Irlandia yang telah dijadwalkan menuju Tiongkok.
Penangguhan Berdasarkan Protokol Perdagangan Irlandia-Tiongkok
Protokol yang mengatur perdagangan daging sapi antara Irlandia dan Tiongkok mengharuskan Irlandia untuk segera memberitahukan kepada pihak berwenang Tiongkok apabila terjadi wabah penyakit tertentu, termasuk Virus Bluetongue. Menteri Pertanian Irlandia, Martin Heydon, mengonfirmasi bahwa departemennya telah menyampaikan informasi mengenai wabah BTV kepada Administrasi Umum Bea Cukai Tiongkok (GACC).
Heydon menyatakan kekecewaannya atas penangguhan ini, namun mengakui bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya mengejutkan mengingat penyebaran virus yang telah meluas di wilayah Inggris, Wales, dan sebagian besar Eropa. Ia menambahkan bahwa pemerintah Irlandia saat ini sedang aktif bernegosiasi dengan Beijing dengan tujuan untuk meyakinkan pihak Tiongkok bahwa wabah BTV telah berhasil dikendalikan.
“Kami akan menyampaikan rincian epidemiologi yang lengkap kepada mereka. Kami memiliki sistem pelacakan hewan yang sangat canggih,” ujar Heydon, menekankan komitmen Irlandia terhadap transparansi dan ketertelusuran dalam rantai pasokannya.
Sejarah Penangguhan Impor dan Dampak Virus Bluetongue
Ini bukan kali pertama Tiongkok menangguhkan impor daging sapi Irlandia. Pada tahun 2024, ekspor produk daging sapi Irlandia ke Tiongkok juga sempat dihentikan menyusul ditemukannya kasus atipikal Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE), yang lebih dikenal sebagai penyakit sapi gila. Namun, larangan tersebut dicabut pada 12 Januari 2026, setelah serangkaian pembicaraan ekonomi dan perdagangan yang komprehensif antara Perdana Menteri Irlandia, Micheal Martin, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di Beijing.
Di sisi lain, otoritas Irlandia menegaskan bahwa penyakit Bluetongue diperkirakan tidak akan berdampak signifikan pada perdagangan produk daging atau susu. Dampaknya terhadap perdagangan dengan negara-negara di Eropa juga dinilai sangat kecil. Namun, penangguhan ini dapat menimbulkan implikasi lebih luas bagi perdagangan hewan hidup dengan negara-negara di luar Eropa. Hal ini dikarenakan setiap negara memiliki keleluasaan untuk menetapkan persyaratan sertifikat perdagangan tersendiri saat menjalin hubungan dagang dengan Irlandia.
Mengenal Penyakit Bluetongue pada Hewan Ternak
Penyakit Bluetongue (BTV) merupakan penyakit pada hewan ternak yang ditularkan melalui gigitan nyamuk dari genus Culicoides. Penyakit ini menyerang hewan ruminansia, termasuk sapi, kambing, domba, llama, dan alpaka.
Gejala umum BTV meliputi:
* Pembengkakan pada mulut dan lidah, yang dapat menyebabkan kesulitan makan dan minum.
* Hewan menunjukkan tanda-tanda penyakit yang parah.
* Munculnya kelainan bentuk pada hewan yang baru lahir, yang disebabkan oleh infeksi pada induk selama kehamilan.
Tingkat kematian akibat penyakit ini dapat mencapai 60 persen pada hewan yang terinfeksi.
Virus BTV pertama kali terdeteksi di Belanda pada September 2023. Sejak itu, virus ini dilaporkan menyebar luas ke seluruh daratan Eropa dan Inggris. Kasus pertama di Irlandia sendiri dilaporkan ditemukan di County Down pada November 2025. Tingkat keparahan dampak BTV dapat bervariasi antar wilayah dan individu hewan. Beberapa hewan mungkin hanya menunjukkan sedikit tanda infeksi dan berhasil pulih tanpa memerlukan intervensi medis yang intensif.

Penyebaran penyakit ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi industri peternakan global dan memicu diskusi mengenai strategi mitigasi serta penyesuaian protokol perdagangan internasional untuk meminimalkan risiko penyebaran penyakit zoonosis dan penyakit hewan strategis lainnya.

















