BPMA Tetapkan Target Produksi Migas 10.519 BOEPD di 2026, Hadapi Berbagai Tantangan Operasional
Banda Aceh – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) telah menetapkan target ambisius untuk produksi minyak dan gas bumi (migas) di tahun 2026, dengan angka mencapai 10.519 barel minyak setara per hari (BOEPD). Target ini merupakan hasil kesepakatan antara BPMA dengan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi di wilayah Aceh. Produksi tersebut mencakup gas alam, minyak mentah, dan kondensat yang bersumber dari berbagai lapangan migas yang ada di Serambi Mekkah.
Secara rinci, target produksi untuk tahun 2026 mencakup 48,40 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) untuk produksi gas, dan 1.876 barel minyak per hari (BOPD) untuk produksi minyak. Gabungan dari kedua komponen ini menghasilkan total lifting gabungan sebesar 10.519 BOEPD. Angka ini menjadi tolok ukur kinerja operasional dan pencapaian target produksi nasional di wilayah Aceh.
Saat ini, terdapat tiga wilayah kerja (WK) migas yang berada di bawah pengelolaan BPMA dan dalam status produksi aktif. Ketiga WK tersebut adalah Blok A di Aceh Timur yang dikelola oleh Medco EP Melaka, Blok B di Aceh Utara yang dioperasikan oleh Pema Global Energi (PGE), dan Blok Pase yang juga berlokasi di Aceh Utara dan dikelola oleh Triangle Pase.
Tantangan dan Peluang Peningkatan Produksi di 2026
Menurut Kepala Divisi Hubungan Eksternal dan Humas BPMA, Doddy Artanto, kesepakatan target produksi ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kontribusi Aceh terhadap target produksi migas nasional. “Prospek lifting di tahun 2026 bagi BPMA masih memiliki peluang untuk peningkatan melalui pengawasan yang ketat dan tindakan yang tepat sasaran. Oleh karena itu, kenaikan target lifting di tahun 2026 ini merupakan tantangan yang sangat signifikan bagi BPMA,” ujar Doddy.
Peningkatan target produksi ini bukanlah tanpa tantangan. Tahun 2025 diwarnai oleh beberapa kejadian tak terduga yang berpotensi mempengaruhi capaian produksi di tahun berikutnya. Salah satu insiden penting adalah bencana alam berupa banjir yang melanda beberapa wilayah kerja, serta kebakaran pada tangki penyimpanan kondensat harian (F-2101) milik PT Pema Global Energi (PGE) di kawasan Perta Arun Gas (PAG), Lhokseumawe, pada November 2025.
“Kejadian bencana banjir dan longsor di tahun 2025 tersebut cukup memberikan dampak pada kemampuan operasional produksi, terutama terhadap capaian lifting di tahun 2026 pada KKKS,” jelas Doddy.
Selain itu, beberapa faktor lain juga berpotensi menjadi kendala dalam mencapai target produksi. Di antaranya adalah kebutuhan mendesak untuk peremajaan fasilitas produksi yang sudah menua. Ketergantungan pada fasilitas pihak ketiga juga menjadi perhatian, di mana operasi dan perawatan fasilitas tersebut tidak selalu dapat dikelola secara langsung oleh KKKS. Ketersediaan peralatan yang memadai untuk kegiatan peningkatan produksi seperti pengeboran (drilling), kerja ulang sumur (workover), dan servis sumur (well service) juga menjadi faktor krusial yang dapat mempengaruhi realisasi target produksi. Insiden kebakaran tangki F-2101 di Arun juga berdampak pada produksi kondensat, sehingga memerlukan penyesuaian dalam mekanisme penyaluran.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan tersebut, BPMA menegaskan komitmennya untuk terus berupaya. “Namun demikian, BPMA bersama KKKS sedang mengupayakan langkah-langkah strategis agar produksi minyak pasca insiden Tangki F-2101 tetap dapat direalisasikan. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas pencapaian lifting minyak serta meminimalkan penurunan total lifting minyak sesuai dengan target WP&B tahun 2026,” tambah Doddy.
Progres Pengembangan Wilayah Kerja Baru Menjanjikan
Di tengah upaya menjaga produksi eksisting, BPMA juga terus mendorong penambahan Wilayah Kerja (WK) baru. Upaya ini menunjukkan hasil yang positif. Saat ini, terdapat beberapa WK yang berstatus “Open Area” atau terbuka untuk penawaran, dan telah menarik perhatian dari sejumlah calon KKKS, baik perusahaan nasional maupun investor dari luar negeri. Potensi penemuan cadangan baru dari WK-WK ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi migas Aceh di masa mendatang. Perkembangan ini menjadi angin segar bagi sektor energi di Aceh dan memberikan optimisme dalam mencapai target produksi migas yang lebih besar.

















