Inovasi Penerbangan Nasional: BRIN Uji Coba Empat Pesawat Nirawak Canggih
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Penerbangan terus mendorong batas inovasi dalam dunia kedirgantaraan Indonesia. Baru-baru ini, tim peneliti BRIN berhasil melaksanakan uji terbang terhadap empat unit pesawat nirawak (drone) bersayap yang memiliki kemampuan dan tujuan berbeda. Keempat drone ini merupakan hasil pengembangan mandiri maupun adaptasi dari desain yang sudah ada, dengan tujuan utama untuk memperkuat kapabilitas pengawasan, pemetaan, dan penelitian aerodinamika di Indonesia.
Salah satu prototipe yang menarik perhatian adalah pesawat bernama LSU 02 VTOL. Drone ini dirancang khusus dengan kemampuan Vertical Take-Off and Landing (VTOL), yang memungkinkannya untuk lepas landas dan mendarat secara vertikal. Keunggulan ini sangat signifikan karena LSU 02 VTOL tidak memerlukan landasan pacu yang panjang, melainkan cukup dengan area yang terbatas.
“Hasil uji terbang menunjukkan performa terbang dan sistem VTOL pesawat berfungsi sesuai harapan,” ujar Danartomo Kusumoaji, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN.
Dalam sesi uji terbang yang dilakukan, LSU 02 VTOL berhasil mengudara pada ketinggian sekitar 300 kaki dengan kecepatan stabil 53 knot selama kurang lebih delapan menit. Menurut Danartomo, drone ini secara spesifik dikembangkan untuk mendukung misi pengawasan wilayah yang luas serta pemetaan area secara detail. Kemampuan VTOL-nya menjadikannya aset berharga untuk operasi di medan yang sulit dijangkau atau ketika kecepatan respons menjadi kunci.
Selain LSU 02 VTOL, tim riset BRIN juga menguji tiga drone bersayap lainnya. Pengujian komprehensif ini dilaksanakan di Pangkalan Udara (Lanud) Rumpin, Kabupaten Bogor, pada tanggal 17 hingga 19 Desember 2025.
Alap-Alap: Optimalisasi Sistem Autopilot untuk Kinerja Maksimal
Pesawat nirawak kedua yang diuji adalah yang diberi nama Alap-Alap. Drone ini menjalani uji terbang dengan misi utama untuk mengoptimalkan sistem autopilotnya. Selama pengujian, Alap-Alap berhasil mencapai ketinggian 800 kaki dengan kecepatan 50 knot, dan mampu terbang selama 30 menit.
“Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem autopilot berfungsi dengan baik,” tegas Danartomo.
Keberhasilan optimalisasi sistem autopilot pada Alap-Alap merupakan langkah krusial dalam meningkatkan kemandirian dan keandalan operasional drone. Sistem autopilot yang presisi sangat penting untuk misi-misi yang memerlukan ketepatan navigasi, seperti survei ilmiah, pengawasan perbatasan, atau bahkan pengiriman barang di masa depan.
Desain Mandiri BRIN: LSU-02 VTOL dan Alap-Alap
Yang membanggakan dari pengembangan LSU-02 VTOL dan Alap-Alap adalah bahwa kedua pesawat nirawak ini sepenuhnya dirancang dan dikembangkan oleh para peneliti BRIN sendiri. Ini mencakup penggunaan teknologi mutakhir seperti Flight Control Computer (FCC), yang merupakan otak dari setiap pesawat modern. Kepemilikan teknologi FCC secara mandiri menandakan kemandirian bangsa dalam mengembangkan solusi penerbangan canggih.
Adaptasi dan Pengembangan: Skywalker dan Krishna
Sementara itu, dua drone lainnya, Skywalker dan Krishna, menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda. Kedua pesawat nirawak ini dikembangkan dengan mengadopsi desain pesawat yang sudah ada, kemudian dimodifikasi dan dikembangkan lebih lanjut oleh para peneliti Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN.
Menurut Danartomo, model drone Krishna secara khusus mencontoh desain pesawat komersial Cessna. Pemilihan desain yang sudah terbukti keandalannya ini didasari oleh tujuan pengujian yang spesifik.
“Karena memang untuk menguji Flight Control Computer, jadi harus dengan pesawat yang memang sudah benar-benar bagus,” jelas Danartomo. Penggunaan platform yang sudah mapan memastikan bahwa parameter yang diuji, dalam hal ini performa FCC, dapat dievaluasi secara akurat tanpa terpengaruh oleh kekurangan desain dasar pesawat.
Hal serupa juga terjadi pada drone Skywalker. Pesawat ini menggunakan desain pesawat lain sebagai basisnya, dengan tujuan utama untuk mengidentifikasi dan menganalisis parameter aerodinamikanya.
Evaluasi Mendalam: Telemetri dan Karakteristik Aerodinamika
Pengujian terhadap drone Krishna difokuskan pada evaluasi sistem telemetri. Sistem ini sangat vital karena memungkinkan pengiriman data penerbangan secara langsung (real-time) ke stasiun kendali di darat. Selama pengujian, drone Krishna diterbangkan selama 10 menit pada ketinggian 300 kaki dengan kecepatan sekitar 50 knot. Data telemetri yang berhasil dikumpulkan akan memberikan gambaran akurat mengenai status operasional drone selama penerbangan.
Di sisi lain, drone Skywalker diterbangkan dengan tujuan untuk mengenali karakteristik aerodinamika pesawat. Ini mencakup analisis mendalam terhadap kestabilan terbang, respons pesawat terhadap input kontrol, dan berbagai parameter lain yang menentukan performa aerodinamika. Data yang diperoleh dari pengujian Skywalker ini akan menjadi fondasi penting untuk penyempurnaan desain pesawat di masa depan, serta peningkatan performa secara keseluruhan.
Manfaat Jangka Panjang untuk Kemajuan Bangsa
Keempat uji coba pesawat nirawak ini merupakan bukti nyata komitmen BRIN dalam memajukan teknologi penerbangan nasional. Pengembangan drone dengan kemampuan VTOL, sistem autopilot yang canggih, serta kemampuan analisis telemetri dan aerodinamika yang presisi, membuka berbagai peluang aplikasi. Mulai dari pengawasan wilayah perbatasan, pemetaan sumber daya alam, penanggulangan bencana, hingga potensi pemanfaatan dalam sektor logistik dan pertanian. Inisiatif seperti ini tidak hanya memperkuat kemandirian teknologi Indonesia, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan keamanan, efisiensi, dan pembangunan di berbagai sektor strategis.

















