Tragedi Longsor Cisarua: 17 Nyawa Melayang, Proses Identifikasi Berlanjut
Bencana longsor yang mengguncang Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu dini hari (24/1) meninggalkan duka mendalam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 17 korban meninggal dunia akibat peristiwa nahas ini. Dari jumlah tersebut, Tim DVI (Disaster Victim Identification) telah berhasil mengidentifikasi 11 jenazah, sementara 6 jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi lebih lanjut.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa Tim SAR Gabungan telah menyerahkan total 25 kantong jenazah pada Minggu (25/1). Seluruh kantong jenazah tersebut segera ditindaklanjuti oleh Tim DVI.
“Tim SAR gabungan kemarin telah berhasil menyerahkan total 25 kantong jenazah. Jumlah ini sudah termasuk dari 11 jenazah yang berhasil teridentifikasi serta 6 yang masih proses identifikasi,” ungkap Abdul Muhari dalam keterangan resminya pada Senin (26/1).
Proses identifikasi, menurut Abdul Muhari, dapat berjalan lebih cepat apabila kondisi jenazah utuh dan didukung dengan data identitas pendukung yang memadai. Namun, untuk jenazah yang ditemukan dalam kondisi terfragmentasi atau hanya berupa potongan tubuh, proses pencocokan data ante mortem (data sebelum kematian) memerlukan waktu yang lebih lama.
“Proses identifikasi terhadap kantong jenazah yang sudah diserahkan ke Tim DVI terus berjalan,” tegasnya, menunjukkan komitmen untuk segera memulangkan para korban kepada keluarganya.
Operasi Pencarian Diperluas, Ribuan Personel Turun Tangan
Seiring dengan berjalannya proses identifikasi, operasi pencarian korban hilang kembali dilanjutkan oleh Tim SAR Gabungan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Titik-titik pencarian difokuskan pada area yang sebelumnya telah dipetakan menggunakan teknologi drone, memungkinkan pemetaan area terdampak secara lebih akurat.
Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, memimpin langsung operasi SAR yang melibatkan ribuan personel gabungan. Dua area utama yang menjadi fokus pencarian hari ini adalah Sektor A dan Sektor B di Desa Pasirlangu, yang diduga menjadi lokasi terparah terdampak longsor.
Pelibatan ribuan personel ini menunjukkan skala upaya yang dikerahkan untuk menemukan seluruh korban. Tim SAR Gabungan ini terdiri dari berbagai elemen, meliputi:
- Basarnas
- TNI
- Polri
- Kementerian Pekerjaan Umum
- Kementerian Kesehatan
- BNPB
- BUMN (Badan Usaha Milik Negara)
- BUMD (Badan Usaha Milik Daerah)
- Pemerintah Provinsi Jawa Barat
- Berbagai relawan dan komunitas SAR yang berasal dari Jawa Barat dan wilayah sekitarnya.
“Tim SAR Gabungan melaksanakan pencarian dengan berbagai metode. Mulai dari manual, alkon (alat bantu evakuasi), hingga penggunaan alat berat,” jelas Yudhi Bramantyo, menggambarkan keseriusan dan kelengkapan sumber daya yang dikerahkan untuk memaksimalkan peluang penyelamatan dan penemuan korban. Penggunaan berbagai metode ini diharapkan dapat menjangkau setiap celah dan potensi lokasi persembunyian korban di bawah timbunan longsor.
Upaya pencarian yang masif ini merupakan bukti nyata dari solidaritas dan kepedulian berbagai pihak dalam menghadapi bencana alam. Diharapkan, dengan kerja keras dan koordinasi yang baik, seluruh korban dapat segera ditemukan dan keluarga yang ditinggalkan dapat menemukan kejelasan serta ketenangan.

















