Opini

AS Ekspansionis: Apa Hubungannya dengan Greenland?

×

AS Ekspansionis: Apa Hubungannya dengan Greenland?

Sebarkan artikel ini

Ambisi Ekspansi Amerika Serikat: Dari Doktrin Monroe hingga Godaan Greenland

Sejarah Amerika Serikat tidak lepas dari jejak ekspansi teritorial. Sejak didirikan pada tahun 1776, negara adidaya ini telah berulang kali menunjukkan ambisi untuk memperluas wilayah kekuasaannya, baik melalui cara damai maupun melalui konflik. Fenomena ini kembali mencuat dengan adanya wacana pembelian Greenland oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari Denmark. Gagasan ini mengingatkan pada kebijakan luar negeri AS di masa lalu, yang seringkali didasari oleh prinsip-prinsip Doktrin Monroe.

Doktrin Monroe: Fondasi Ekspansionisme Amerika

Doktrin Monroe, yang dicetuskan pada tahun 1823, secara fundamental menyatakan bahwa benua Amerika tidak lagi terbuka untuk kolonisasi oleh kekuatan Eropa. Namun, seiring waktu, doktrin ini seringkali diinterpretasikan dan digunakan sebagai pembenaran atas intervensi serta ekspansi teritorial Amerika Serikat di belahan bumi barat. Para sejarawan berpendapat bahwa semangat Doktrin Monroe tercermin dalam kebijakan Trump saat ini, di mana AS merasa perlu mengamankan wilayah-wilayah strategis sebelum jatuh ke tangan negara lain.

Ekspansi teritorial AS telah berlangsung sejak awal berdirinya negara ini. Berbagai cara ditempuh, mulai dari penaklukan terhadap penduduk asli, pengusiran pemukim Eropa, hingga negosiasi dan pembelian wilayah. Di antara berbagai metode tersebut, pembelian wilayah dari negara berdaulat menjadi salah satu strategi yang kerap digunakan untuk memperluas peta Amerika Serikat.

Sejarah Pembelian Wilayah oleh Amerika Serikat

Untuk memahami lebih dalam ambisi ekspansionis AS, mari kita menilik beberapa episode penting dalam sejarah ketika Amerika Serikat melakukan pembelian wilayah:

1. Pembelian Louisiana (1803)

Salah satu pembelian wilayah terbesar dalam sejarah AS terjadi pada tahun 1803, ketika Presiden Thomas Jefferson memutuskan untuk membeli Louisiana dari Prancis. Keputusan ini menandai ekspansi besar pertama bagi negara yang baru saja terbentuk. Napoleon Bonaparte, yang saat itu berkuasa di Prancis, terpaksa menjual Louisiana karena ambisinya membangun kekaisaran di luar Prancis terhambat, salah satunya oleh pemberontakan budak di Haiti.


Wilayah Louisiana yang dibeli jauh lebih luas dari negara bagian Louisiana saat ini. Thomas Jefferson melihat potensi besar dalam ekspansi ke barat, terutama untuk mengamankan kendali atas Lembah Mississippi dan pelabuhan strategis New Orleans. Pembelian ini juga bertujuan untuk menghilangkan ancaman intervensi Prancis di kawasan tersebut.

Pada November 1803, Louisiana resmi menjadi bagian dari Amerika Serikat setelah AS membayar 15 juta dolar AS kepada Prancis, yang setara dengan ratusan miliar rupiah pada nilai tukar saat ini. Pembelian ini secara dramatis menambah luas wilayah AS lebih dari dua juta kilometer persegi.

Baca Juga :  Volume Peti Kemas Tumbuh, Jumlah Penumpang Melonjak, BP Batam Buka 2026 dengan Kinerja Optimis

2. Penyerahan Wilayah Meksiko (1848)

Pada dekade 1840-an, sebagian besar masyarakat Amerika Serikat menggemakan gagasan “takdir nyata” (manifest destiny) untuk berekspansi ke barat hingga mencapai Samudra Pasifik. Ambisi ini akhirnya terwujud dengan mengorbankan Meksiko.


Presiden James Knox Polk adalah salah satu pendukung utama ekspansi ini. Di bawah pemerintahannya pada tahun 1845, timbul perselisihan dengan Meksiko terkait wilayah Texas. Setahun kemudian, setelah terjadinya bentrokan antara pasukan AS dan Meksiko di perbatasan, Polk meminta Kongres untuk menyatakan perang. Namun, akar konflik ini jauh lebih dalam dari sekadar sengketa perbatasan.

Menurut sejarawan, Amerika Serikat memiliki minat besar pada California, yang saat itu merupakan wilayah Meksiko dan salah satu pusat ekonomi paling dinamis di Amerika. California memiliki pelabuhan air dalam yang sangat berharga untuk perdagangan dengan Asia. Namun, Meksiko menolak untuk menjual California.


Perang antara kedua negara berakhir dengan kemenangan telak Amerika Serikat. Perjanjian Guadalupe-Hidalgo yang ditandatangani pada Februari 1848 mengakhiri konflik tersebut. Melalui perjanjian ini, AS memperoleh kekuasaan atas Texas, California, New Mexico, Arizona, Nevada, Utah, serta sebagian wilayah Colorado, Wyoming, Kansas, dan Oklahoma.

Meskipun AS membayar 15 juta dolar AS, para sejarawan menekankan bahwa Meksiko tidak akan pernah setuju menyerahkan wilayah tersebut jika tidak kalah perang. Kejadian ini digambarkan sebagai “penjualan di bawah todongan senjata.” Meksiko kehilangan lebih dari setengah wilayahnya, sebuah pukulan telak yang menimbulkan trauma nasional berkepanjangan.

3. Penjualan La Mesilla (1853)

Beberapa tahun setelah kekalahan telak Meksiko, pada tahun 1853, kedua negara kembali menyepakati penjualan sebagian kecil wilayah Meksiko di selatan Arizona dan New Mexico saat ini. Di Meksiko, kesepakatan ini dikenal sebagai Venta de la Mesilla, sementara di Amerika Serikat disebut sebagai Pembelian Gadsden.


Pembelian ini didorong oleh keinginan AS untuk membangun jalur kereta api transkontinental. Pemerintah Meksiko yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi terpaksa menyetujui penjualan ini dengan imbalan 10 juta dolar AS.

Para pemilik budak di wilayah selatan AS sangat menginginkan jalur kereta api yang mencapai Pasifik. Mereka khawatir jika rute tersebut melewati Pegunungan Rocky di utara, maka akan menguntungkan negara-negara bagian yang menentang perbudakan. Oleh karena itu, mereka mendorong pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan hingga ke New Orleans.

4. Pembelian Alaska dari Rusia (1867)

Pada tahun 1867, Menteri Luar Negeri AS William Seward menunjukkan keteguhan hati untuk membeli Alaska dari Kekaisaran Rusia. Seward meyakini bahwa Alaska memiliki nilai strategis yang besar, terutama untuk mencegah intervensi Inggris di Amerika Utara. Selain itu, Alaska juga membuka akses bagi AS ke sumber daya perikanan yang melimpah di Pasifik.

Baca Juga :  Akankah Gerindra di Tinggal Saat Berkuasa


Kesepakatan dicapai dengan Rusia untuk membeli Alaska seharga 7,2 juta dolar AS. Namun, pembelian ini menuai kontroversi besar pada masanya, bahkan dijuluki “kebodohan Seward” oleh beberapa surat kabar. Rusia, di bawah Tsar Alexander II, merasa telah menyingkirkan wilayah yang dianggap “tidak bernilai” dan terlalu mahal untuk dikelola, serta rentan terhadap serangan Inggris.

Meskipun demikian, Kongres AS meratifikasi perjanjian tersebut, menjadikan Alaska bagian dari Amerika Serikat. Keputusan Seward terbukti tepat beberapa dekade kemudian dengan penemuan cadangan emas dan minyak yang besar, serta peran vital Alaska selama Perang Dingin.

5. Pembelian Kepulauan Virgin AS dari Denmark (1917)

Tercatat sebagai pembelian wilayah terakhir oleh Amerika Serikat, kesepakatan dengan Denmark pada tahun 1917 melibatkan penjualan Hindia Barat Denmark, sekelompok pulau di Karibia. Kepulauan ini telah menjadi incaran para ahli strategi AS sejak pertengahan abad ke-19.


Pelabuhan Saint Thomas di Kepulauan Virgin sangat menarik bagi para ahli strategi AS karena perlindungan alaminya yang kuat. Denmark, yang sebelumnya mengeksploitasi pulau-pulau ini melalui perkebunan berbasis perbudakan, mulai kehilangan minat karena jatuhnya harga gula.

Upaya pembelian pertama pada tahun 1867 gagal karena tidak diratifikasi oleh Kongres AS. Namun, pecahnya Perang Dunia I dan ancaman kapal selam Jerman menghidupkan kembali minat AS. Kekhawatiran AS bahwa Jerman akan menyerang Denmark dan merebut Saint Thomas menggemakan kembali argumen yang muncul saat ini terkait Greenland: “Anda menjualnya kepada kami, atau kami akan menyerangnya.”


Akhirnya, pada awal abad ke-20, Denmark dan AS menyetujui penjualan kepulauan tersebut senilai 25 juta dolar AS. Sebagai bagian dari kesepakatan, AS berjanji untuk tidak menentang perluasan kepentingan politik dan ekonomi Denmark ke seluruh Greenland.

Ambisi yang Terus Berlanjut

Kisah pembelian wilayah oleh Amerika Serikat menunjukkan pola ekspansionisme yang konsisten sepanjang sejarahnya. Wacana pembelian Greenland oleh Donald Trump, meski di era yang berbeda, tampaknya melanjutkan warisan ambisi teritorial tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana AS akan terus menavigasi hubungan internasionalnya dalam upaya memperluas pengaruh dan wilayahnya di masa depan.