Aktual

Badai Kalasan Mengganas, Puncak Hujan Februari

×

Badai Kalasan Mengganas, Puncak Hujan Februari

Sebarkan artikel ini

Angin Kencang Sapu Kalasan, Sleman: Atap Rumah Berterbangan, Pohon Tumbang Timpa Bangunan dan Kabel Listrik

Sleman, DIY – Wilayah Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dilanda hujan deras yang disertai angin kencang pada Sabtu, 31 Januari 2026, sore. Kejadian ini menimbulkan kerusakan yang cukup signifikan, mulai dari atap rumah warga yang beterbangan hingga pepohonan besar yang tumbang menimpa pemukiman penduduk dan mengganggu jaringan listrik.

Kerusakan terparah dilaporkan terjadi di wilayah Kalurahan Selomartani. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Bambang Kuntoro, mengonfirmasi bahwa hingga pukul 15.30 WIB, tercatat setidaknya tiga rumah warga di Dusun Timur RT 04 RW 2 mengalami kerusakan pada bagian atapnya yang tersapu oleh amukan angin.

Dampak Luas: Dari Rumah Hingga Usaha Warga

Tidak hanya rumah tinggal, angin kencang tersebut juga merobohkan sejumlah pohon yang kemudian menimpa bangunan rumah, merusak kabel-kabel listrik, dan menghalangi akses jalan. Di kawasan Timur Selomartani, sebuah usaha warung angkringan dilaporkan roboh akibat terjangan angin. Kejadian serupa juga terjadi di Jalan Gang Arjuna No 88 Somosari, Ngrangsan, di mana beberapa pohon tumbang dan menimpa tiga unit rumah warga.

Kondisi serupa juga dilaporkan dari Kalurahan Tirtomartani. Sebanyak tiga pohon tumbang di wilayah ini. Dua pohon di Dusun Pudung tumbang dan menimpa rumah warga, sementara satu pohon lainnya di Dusun Duri dilaporkan menimpa jaringan listrik, berpotensi menyebabkan pemadaman.

Baca Juga :  Diskon Tiket Pelni: Puncak Mudik 5 Jan 2026, Berlaku Hingga 10 Jan

Sementara itu, di Kalurahan Bimomartani, dua pohon jati berukuran besar dilaporkan tumbang dan melintang di tengah jalan, mengganggu kelancaran lalu lintas. Atap sebuah toko pupuk di kawasan Rogobangsan juga dilaporkan beterbangan akibat terpaan angin kencang.

Penanganan Darurat dan Upaya Pemulihan

Menyikapi kondisi darurat ini, tim gabungan dari BPBD Sleman, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), bersama dengan para relawan dan warga setempat, segera bergerak cepat untuk melakukan penanganan. Prioritas utama adalah mengevakuasi batang-batang pohon yang tumbang dan melakukan perbaikan darurat pada bangunan yang rusak.

BPBD Sleman masih terus melakukan pendataan mendalam untuk menghimpun seluruh data dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh peristiwa alam ini. Selain itu, pihaknya juga tengah mempersiapkan langkah-langkah distribusi bantuan logistik yang akan disalurkan kepada warga yang terdampak langsung oleh angin kencang dan hujan deras tersebut.

Peringatan Dini: Puncak Musim Hujan Februari 2026

Menyikapi kejadian ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Prediksi dari BMKG menyebutkan bahwa puncak musim hujan di wilayah Indonesia, termasuk Yogyakarta, diperkirakan akan terjadi pada bulan Februari 2026.

Baca Juga :  Long Weekend Lebaran 2026: Kapan Mulai Libur Seminggu?

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang ekstrem ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S yang terpantau di Samudra Hindia sebelah selatan Indonesia. Bibit siklon ini memiliki kecepatan angin maksimum mencapai 28 km/jam dengan tekanan udara 1001 hPa.

Selain itu, faktor lain yang turut berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan dan potensi cuaca ekstrem meliputi:

  • Menguatnya Monsun Asia: Angin muson dari benua Asia yang masih bertiup kencang membawa banyak uap air.
  • Seruakan Dingin dari Daratan Asia: Pergerakan massa udara dingin dari daratan Asia ke wilayah Indonesia.
  • Aktivitas Fenomena Atmosfer:
    • Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sedang aktif.
    • Gelombang Rossby Ekuator.
    • Gelombang Kelvin.

Semua faktor ini secara bersama-sama memicu pembentukan awan Cumulonimbus yang signifikan, yang merupakan awan hujan tebal dan berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai kilat dan angin kencang. Hujan dan angin kencang yang melanda Sleman ini menjadi semacam peringatan dini bagi seluruh masyarakat untuk lebih siap dan waspada menghadapi potensi cuaca ekstrem di puncak musim hujan yang diprediksi terjadi pada Februari 2026.