Serpihan Pesawat Jatuh di Puncak Gunung Bulusaraung, Saksi Mata Pendaki Ungkap Detik-detik Mengerikan
PANGKEP, SULSEL — Keindahan alam puncak Gunung Bulusaraung di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, mendadak terusik oleh peristiwa dramatis pada Sabtu siang, 17 Januari 2026. Dua pendaki muda, Reski (20) dan Muslimin (18), yang tengah menikmati pemandangan dari ketinggian, dikejutkan oleh suara ledakan keras yang disusul dengan jatuhnya material pesawat ke puncak gunung.
Peristiwa ini terjadi ketika kedua pendaki tersebut telah berada di puncak gunung selama kurang lebih 45 hingga 60 menit. Saat itu, mereka sedang berada di sekitar tugu puncak ketika tiba-tiba terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga. Tak lama berselang, api terlihat membumbung tinggi, disusul dengan jatuhnya dinding besi yang diperkirakan berasal dari pesawat.
“Ada banyak material pesawat beterbangan,” ujar Reski menceritakan pengalamannya kepada awak media pada Minggu, 18 Januari 2026. Ia menambahkan bahwa dokumen-dokumen, termasuk peta plastik berukuran besar, tampak berhamburan di puncak gunung.
Belakangan diketahui, serpihan yang berjatuhan itu berasal dari Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT yang diketahui milik Indonesia Air Transport. Reski mengaku tidak berani menurunkan puing-puing tersebut ke basecamp di Posko 9 Gunung karena banyaknya material yang beterbangan di area puncak.
Salah satu temuan menarik yang dibawa Reski dari puncak adalah logo Kementerian Kelautan dan Perikanan bergambar Garuda. Saat kejadian, kondisi cuaca di puncak Gunung Bulusaraung dilaporkan sangat buruk. Angin bertiup kencang, disertai kabut tebal yang mengurangi jarak pandang hingga hanya 10 hingga 50 meter. Meskipun demikian, tidak ada laporan hujan pada saat itu. “Saya terasa mau terbang,” kenang Reski menggambarkan kondisi angin yang sangat kencang.
Reski dan Muslimin mengaku tidak menyadari bahwa ada pesawat yang hilang. Mereka memulai pendakian dari Desa Tompobulu sekitar pukul 10.00 pagi. Motor mereka diparkir di basecamp, Posko 1 yang berada di ketinggian sekitar 810 meter di atas permukaan laut (mdpl). Perjalanan mendaki melalui jalur resmi tersebut memakan waktu sekitar 2,5 jam, sehingga mereka tiba di Posko 9 sekitar pukul 12.00 Wita.
Di puncak, Reski sempat melihat ada pendaki lain, diperkirakan berjumlah sekitar enam orang. Mereka adalah anak muda seusia Reski dan Muslimin, sebagian berasal dari Pangkep dan sebagian lagi dari Makassar. Sekitar pukul 14.00 Wita, Reski dan Muslimin memulai perjalanan turun dan tiba kembali di Desa Tompobulu pada pukul 16.30 Wita.
Kabar mengenai kejadian jatuhnya pesawat baru mereka ketahui setelah menerima informasi dari grup “Info Kejadian Pangkep”. Reski kemudian segera mengirim dan mengunggah video penemuan serpihan pesawat tersebut. Bersama Muslimin, ia kemudian berkendara menuju Labakkang, yang berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari Balocci, atau sekitar 32 km ke arah barat. Mereka tiba di rumah Reski sesaat setelah azan Magrib berkumandang.
Bagi Reski dan Muslimin, ini merupakan pengalaman pertama mereka mendaki Gunung Bulusaraung, yang terletak di perbatasan segitiga antara Kabupaten Pangkep, Maros, dan Bone. Sebelumnya, mereka pernah mendaki Gunung Lappalaona di Barru yang memiliki ketinggian 1013 mdpl.
Selain temuan dari Reski dan warga Tompobulu lainnya, Kepala Desa Kadir juga mengonfirmasi adanya penemuan sejumlah dokumen penting dari pesawat oleh warga. Dokumen-dokumen tersebut meliputi:
- Manifest penerbangan.
- Dokumen SOP operasional pesawat Indonesia Air Transport.
- Fotokopi KTP atas nama Yoga, yang teridentifikasi sebagai salah satu penumpang.
Pihak berwenang, melalui Bhakti Yuhandika, menyatakan bahwa seluruh dokumen dan barang temuan tersebut saat ini sedang diamankan dan keasliannya tengah didalami. “Kami tidak ingin berspekulasi sebelum ada kepastian hasil penyelidikan,” tegasnya.
Untuk memaksimalkan upaya pencarian dan penyelidikan terkait insiden ini, Pemerintah Kabupaten Pangkep bersama tim gabungan telah mendirikan Posko Terpadu di Kantor Desa Tompobulu. Posko ini berfungsi sebagai pusat koordinasi pencarian yang akan dilakukan dari dua arah, yaitu dari Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, guna memastikan seluruh area terdampak dapat terjangkau.
Proses identifikasi terhadap serpihan pesawat dan kemungkinan adanya korban terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Keberadaan pendaki di puncak gunung pada saat kejadian memberikan kesaksian berharga mengenai detik-detik awal jatuhnya pesawat, meskipun kondisi cuaca yang buruk sangat membatasi pandangan. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati lokasi jatuhnya serpihan pesawat demi kelancaran proses investigasi.
Pencarian serpihan pesawat yang lebih besar dan kemungkinan adanya black box diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai penyebab kecelakaan. Seluruh elemen masyarakat di Pangkep dan sekitarnya menaruh perhatian besar terhadap perkembangan investigasi ini, sembari berharap agar seluruh proses dapat berjalan lancar dan memberikan titik terang mengenai musibah yang terjadi di puncak Gunung Bulusaraung.
















