Nasional

Empat Belas Siswi SMP di Tangsel Mengaku Dipaksa Merokok dan Minum Racikan di Warung Kopi

×

Empat Belas Siswi SMP di Tangsel Mengaku Dipaksa Merokok dan Minum Racikan di Warung Kopi

Sebarkan artikel ini

Empat belas siswi sebuah SMP di Pondok Ranji, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, melaporkan bahwa mereka menjadi korban perundungan kakak kelas pada Jumat malam, 9 Oktober 2026. Peristiwa berlangsung di luar jam dan lingkungan sekolah, di sebuah warung kopi, ketika puluhan pelajar berkumpul atas ajakan senior. Menurut keterangan orang tua salah satu korban, aksi itu berupa permainan yang memaksa anak-anak merokok dan menenggak minuman hasil racikan.

Sumber keluarga menjelaskan awal kejadian bermula ketika kakak kelas mengajak anak-anak “main” dengan syarat harus berkumpul dalam jumlah banyak. Ibu korban berinisial A (33) mengatakan, “Awal mulanya diajakin main. Tapi enggak boleh cuma dua atau tiga orang, harus ramai-ramai.” Setibanya di lokasi, para pelajar digerakkan mengikuti aturan permainan yang menentukan pemenang berdasarkan puntung rokok; yang kalah harus menenggak minuman campuran.

Baca Juga :  5,2 Juta Peserta BPJS Kesehatan 'Dimatikan', Anda Termasuk?

Komposisi racikan yang dikabarkan diberikan kepada para siswi cukup mengganggu: kopi Liong, saos, kecap, lada bubuk, bawang putih, air ludah, air keran, dan cuka. Selain dipaksa ikut merokok, para korban mengaku mesti meminum campuran itu, bahkan sampai diminta mengulang jika berharap pulang lebih awal. Anak-anak baru diizinkan meninggalkan warung sekitar pukul 22.00 WIB.

Beberapa korban mengalami gejala kesehatan setelah kejadian. Ibu A menyebut anaknya menderita sakit perut berkepanjangan dan tidak masuk sekolah, sementara sejumlah teman ada yang sampai muntah darah. Ketakutan untuk melapor juga diperkuat oleh intimidasi: A menyatakan bahwa ada ancaman dari tiga senior sehingga korban enggan memberi tahu orang tua lebih dahulu. Ketika A mendatangi keluarga salah satu pelaku untuk mencari penjelasan, upaya itu dilaporkan berujung pada intimidasi.

Baca Juga :  Usai Mati Lampu, Satu Keluarga Tewas Terbakar

Pihak sekolah membenarkan adanya laporan tersebut. Kepala SMPN di Tangsel, Kunardi, mengatakan bahwa kasus itu terjadi di luar kegiatan sekolah dan menjelaskan mekanisme permainan: “Siapa yang kebagian mengisap rokok ketika abunya jatuh, dialah yang harus meminum racikan tersebut.” Kunardi menyatakan pihak sekolah menerima informasi awal dari Bhabinkamtibmas dan orang tua pada Senin malam, kemudian berkoordinasi dengan keluarga siswa dan menindaklanjuti panggilan kepada orang tua murid yang terlibat.

Sekolah menyebut akan memfokuskan langkah pada pembinaan dan pendampingan korban dengan memperketat deteksi dini, serta bekerja sama bersama kepolisian dan orang tua untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa. Kasus ini menyorot kebutuhan pengawasan lebih ketat terhadap pergaulan anak di luar lingkungan sekolah dan pentingnya respons cepat ketika ada tanda-tanda perundungan yang mengancam keselamatan siswa.