Kedatangan John Herdman sebagai nahkoda baru tim nasional Indonesia telah memantik gelombang ekspektasi tinggi. Ambisi besar untuk menembus panggung Piala Dunia 2030 menjadi sorotan utama, namun perjalanan menuju mimpi tersebut diperkirakan akan penuh liku dan tantangan kompleks.
Tantangan Baru bagi John Herdman di Indonesia
Seorang pengamat sepak bola nasional, Gita Suwondo, memandang bahwa rekam jejak mentereng yang dimiliki Herdman belum tentu menjamin kelancaran tugasnya di Indonesia. Sebaliknya, ia menilai sang pelatih akan dihadapkan pada situasi yang jauh lebih rumit dibandingkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Kesesuaian Taktik dan Adaptasi Pemain
Namun, dari sisi pola permainan, Gita Suwondo melihat adanya kecocokan antara filosofi taktik John Herdman dengan karakter yang telah diterapkan oleh Timnas Indonesia saat ini.
“Nah, kalau saya lihat cocok karena dia menggunakan pola 3-4-2-1, sama seperti yang biasa digunakan Indonesia, termasuk saat era Shin Tae-yong,” ujar pengamat yang akrab disapa Bung GAZ.
Kesamaan dalam penerapan sistem permainan ini dinilai dapat mempermudah proses adaptasi para pemain timnas. Terutama pada fase awal kepemimpinan Herdman, para pemain diharapkan tidak akan kesulitan untuk beradaptasi dengan instruksi taktis yang diberikan.
Lebih lanjut, Herdman disebut telah menunjukkan evolusi dalam pendekatan taktiknya, khususnya setelah mengalami kegagalan di Piala Dunia 2022.
“Akhir-akhir ini dengan Toronto, dia lebih mengedepankan pertahanan dan dia lebih memilih pemain-pemain yang mampu bertahan, setelah kegagalannya di Piala Dunia 2022 dengan kalah tiga kali di babak penyisihan grup,” tambahnya.
Kritik Terhadap Manajemen Pertandingan
Meskipun demikian, perubahan taktik tersebut tidak serta-merta membuat Herdman terbebas dari sorotan. Ada catatan penting yang perlu diperhatikan terkait manajemen pertandingannya.
“Hanya saja, dia dianggap tidak punya in-game management yang bagus, artinya saat dia mentok, tidak punya rencana cadangan. Makanya media Swiss menyebutnya tidak berbeda dengan Patrick Kluivert. Tapi sebenarnya berbeda,” jelas Gita Suwondo.
Konteks Kegagalan yang Berbeda
Gita Suwondo menekankan bahwa konteks kegagalan John Herdman dan Patrick Kluivert tidak bisa disamakan begitu saja.
“Dia mentoknya pada saat menghadapi lawan yang berat seperti Kroasia, Maroko, dan Belgia, bukan saat di babak kualifikasi,” terangnya.
Persaingan Asia: Ujian Terbesar
Menurut pengamat sepak bola tersebut, tantangan terbesar yang akan dihadapi John Herdman bersama tim nasional Indonesia justru terletak pada persaingan di level Asia. Ia membandingkan situasi yang dihadapi Herdman saat menangani timnas Kanada dengan kondisi Indonesia saat ini.
“Kalau target kita lolos ke kualifikasi Piala Dunia 2030, berhadapan dengan tim-tim besar Asia, ya harus dilihat lagi apakah dia mampu atau tidak,” kata mantan jurnalis olahraga senior itu.
“Tapi mungkin bedanya menangani timnas Kanada artinya saingannya di CONCACAF untuk lolos Piala Dunia hanya Amerika Serikat dan Meksiko, tidak ada yang lain, karena kuotanya tiga,” imbuhnya.
Kondisi ini sangat berbeda dengan Indonesia, yang harus bersaing dengan tim-tim papan atas Asia yang memiliki sejarah dan kekuatan sepak bola yang lebih mapan.
Untuk itu, ujian awal Herdman akan langsung terasa dalam sejumlah agenda penting ke depan.
“Tapi di Indonesia harus berhadapan dengan timnas raksasa-raksasa Asia. Kita kan tidak nomor tiga kedudukannya di Asia. Itu saja yang akan berat. Ujian utamanya FIFA Series bulan Maret, Piala AFF, dan Piala Asia,” katanya lagi.
Peningkatan Standar Prestasi Menuju Piala Dunia
Gita Suwondo menegaskan bahwa standar prestasi tim nasional Indonesia harus ditingkatkan secara signifikan jika ingin mewujudkan mimpi tampil di Piala Dunia.
“Targetnya bukan 16 besar lagi, ya, kita harus 8 besar. Kan lucu juga target hanya 16 besar Asia tapi berkeinginan lolos ke Piala Dunia 2030,” ujar Gita Suwondo.
“Karena kalau ingin lolos Piala Dunia, nanti harus berada di 8 besar, tidak boleh hanya 16 besar saja. Jadi itu yang akan menjadi pekerjaan rumah John Herdman nanti,” pungkasnya.

















