Breaking News

Grammy 2026: Panggung Protes Brutalitas ICE

×

Grammy 2026: Panggung Protes Brutalitas ICE

Sebarkan artikel ini

Grammy Awards 2026: Panggung Protes dan Suara Kemanusiaan Melawan Kebijakan Imigrasi

Ajang penghargaan musik bergengsi Grammy Awards 2026, yang diselenggarakan pada Minggu, 1 Februari 2026, di Crypto.com Arena, Los Angeles, tidak hanya menjadi perayaan prestasi musisi global, tetapi juga menjelma menjadi panggung protes kuat terhadap kebijakan imigrasi yang diterapkan oleh pemerintahan saat itu. Sejumlah musisi memanfaatkan momen kemenangan mereka untuk secara lantang menyuarakan kritik, terutama seruan “ICE Out,” yang merupakan kecaman keras terhadap U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang semakin menuai kontroversi publik akibat tindakan represifnya.

Bad Bunny: Vokal Penyeru “ICE Out” di Panggung Grammy

Salah satu momen paling menggetarkan dan tak terlupakan pada malam penganugerahan tersebut datang dari Bad Bunny, rapper asal Puerto Riko. Ia berhasil meraih penghargaan Grammy untuk kategori Album Musik Urban Terbaik melalui karyanya yang berjudul DeBÍ TiRAR MáS FOToS. Saat melangkah ke podium, Bad Bunny memulai pidatonya dengan pekik lantang, “ICE Out,” yang sontak disambut dengan tepuk tangan meriah dan berdiri dari seluruh hadirin.

“Kita bukan orang biadab, bukan binatang, bukan alien. Kita adalah manusia dan kita orang Amerika,” ujarnya tegas, seraya menyerukan untuk merespons kebencian dengan kekuatan cinta.

Bad Bunny memang dikenal vokal dalam menyuarakan kritik terhadap apa yang ia sebut sebagai kebrutalan ICE. Sebelumnya, rapper berusia 31 tahun ini secara terbuka menyatakan bahwa ia sengaja menghindari jadwal pertunjukan di Amerika Serikat selama tur karena kekhawatiran akan potensi penggerebekan oleh petugas ICE. Kini, Bad Bunny justru menjadi sasaran kritik dari pihak-pihak pendukung kebijakan imigrasi yang keras, terutama setelah pengumumannya sebagai penampil utama untuk acara Super Bowl Halftime Show mendatang.

Seruan Bad Bunny ini bukan sekadar suara tunggal, melainkan mencerminkan gerakan yang jauh lebih luas yang bergema di seluruh malam Grammy. Berbagai pin bertuliskan “ICE Out” terlihat dikenakan oleh banyak artis di karpet merah dan sepanjang acara. Di antara mereka yang menunjukkan solidaritas terhadap para imigran adalah Billie Eilish, Kehlani, Justin dan Hailey Bieber, serta sejumlah musisi ternama lainnya.

Baca Juga :  Publik dunia dikejutkan foto Maduro di kapal perang AS, Trump pamerkan hasil operasi militer

Aksi protes ini muncul sebagai respons terhadap serangkaian insiden tragis yang melibatkan tindakan brutal ICE, termasuk dua kasus pembunuhan terhadap warga negara Amerika Serikat. Pada 7 Januari 2026, seorang petugas ICE bernama Jonathan Ross dilaporkan membunuh Renee Nicole Good di Minneapolis, Minnesota. Tak lama kemudian, pada 24 Januari 2026, di kota yang sama, Alex Pretti, seorang perawat yang bekerja untuk Departemen Urusan Veteran Amerika Serikat, ditembak berkali-kali dan tewas di tangan petugas ICE.

Suara Kemanusiaan dari Artis Lain: Billie Eilish, Kehlani, dan Bon Iver

Tidak hanya Bad Bunny, sejumlah pemenang Grammy lainnya juga turut memanfaatkan panggung yang prestisius ini untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap isu-isu imigrasi. Billie Eilish, yang memenangkan penghargaan Lagu Terbaik Tahun Ini untuk karyanya “Wildflower,” dalam pidatonya menyampaikan pesan kuat, “Tidak ada seorang pun yang ilegal di tanah yang dicuri.” Ia juga menyerukan agar perjuangan dan suara untuk keadilan terus digaungkan sebelum kemudian menyampaikan kritik terhadap ICE yang sayangnya harus disensor. Laporan menyebutkan bahwa Eilish dan saudara sekaligus kolaboratornya, Finneas O’Connell, juga terlihat mengenakan pin protes di atas panggung.

Sementara itu, penyanyi Kehlani, saat menerima penghargaan Grammy untuk kategori Penampilan R&B Terbaik, secara terbuka mengecam tindakan ICE dalam pidatonya. Ia mendorong komunitas seniman untuk bersatu dan bersuara menentang ketidakadilan yang terjadi. “Aku benar-benar ingin mengatakan persetan dengan ICE,” ungkap Kehlani kepada awak media di karpet merah, setelah menyampaikan pesan serupa dalam pidato penerimaan penghargaan.

Lebih jauh lagi, Justin Vernon dari Bon Iver mengungkapkan kepada awak media bahwa ia tampil dengan mengenakan pin peluit. Pin tersebut menjadi simbol dukungan bagi para pengamat di Minneapolis yang selama berminggu-minggu tanpa lelah meniup peluit untuk memperingatkan warga ketika agen ICE mencoba melakukan penangkapan, demi melindungi komunitas mereka. Vernon menyebut kehadirannya di Grammy malam itu sebagai bentuk penghormatan tulus kepada mereka yang terus berjuang.

Baca Juga :  Pancoran Berdarah: Calya Hancur dalam Tabrakan Maut dengan Transjakarta

Grammy Awards: Transformasi Menjadi Panggung Aktivisme Sosial

Tradisi Grammy Awards yang semula identik dengan perayaan prestasi musik, malam itu tampak mengalami transformasi signifikan menjadi arena ekspresi politik. Sejumlah artis berhasil memadukan momen penghargaan mereka dengan pesan-pesan sosial yang mendalam. Protes terhadap kebijakan administrasi pemerintahan saat itu, khususnya operasi ICE yang secara agresif menargetkan komunitas imigran, menjadi tema sentral yang bergema kuat melalui pidato para pemenang maupun simbol-simbol yang dikenakan oleh para nominator dan pemenang.

Pin “ICE Out” dan “BE GOOD” merupakan bagian dari kampanye bersama yang digagas oleh berbagai organisasi advokasi, termasuk American Civil Liberties Union (ACLU), Maremoto, National Domestic Workers Alliance, dan Working Families Power. Kampanye ini pertama kali mencuat di ajang Golden Globes pada 11 Januari lalu dan kemudian meluas dengan cepat seiring meningkatnya perhatian publik terhadap praktik penegakan hukum imigrasi.

Ide di balik pembuatan pin tersebut muncul hanya sekitar 36 jam sebelum gelaran Golden Globes. Nelini Stamp, Direktur Strategi Working Families Power, menceritakan bahwa pasca penembakan Renee Nicole Good, kelompok aktivis segera memanfaatkan jaringan mereka di industri hiburan Hollywood. Hal ini memungkinkan sejumlah selebritas ternama, seperti Mark Ruffalo, Ariana Grande, dan Jean Smart, untuk mengenakan pin tersebut di acara tersebut.

Kampanye solidaritas ini kemudian berlanjut ke berbagai ajang bergengsi lainnya, termasuk Festival Film Sundance, berbagai acara penghargaan, dan puncaknya adalah Grammy Awards. Grammy, sejak awal, dipandang sebagai fokus utama karena musik secara inheren memiliki kekuatan sebagai media perlawanan sosial yang efektif. Menurut Stamp, para musisi memang telah lama berada di garda terdepan dalam dunia hiburan dalam menyuarakan kritik terhadap kebijakan imigrasi, terutama selama periode pemerintahan kedua dari presiden saat itu.