Alreinamedia.com- Mendu Ada dua versi yang berkenaan dengan asal usul Mendu . Hendri – Chambertloir mengatakan bahwa Mendu berasal dari Asia Tenggara , karena apa yang disuguhkan ada kesamaan dengan yang disebut sebagai Mendurayang yang berkembang di Siam , Yunan , Vietnam dan Kamboja .
Kesamaan ini terletak pada pementasan yang dilakukan diatas tanah terbuka . Sementara itu , B.M Syamsudin mengatakan bahwa Mendu berasal dari Wayang Parsi yang berkembang di Pulau Pinang sekitar tahun 1870 1880 Galba dan Sita Rohana , 1999 ) . Terlepas dari kedua versi itu , yang jelas bahwa Mendu mulai dikenal di Pulau Bunguran Barat sekitar tahun 1870. Kini telah menjadi salah satu jenis kesenian Melayu .
Kesenian yang menggabungkan unsur – unsur ritual , tari , nyanyi dan music. Berikut adalah cerita sejarah tentang asal usul mendu.HIKAYAT DEWA MENDUKonon tersebutlah Semandung Dewa Raja di Kayangan, mempunyai dua orang putra yang bernama Dewa Mendu dan Angkara Dewa. Pada suatu hari, kedua putera Baginda itu memohon untuk turun bertamasya ke bumi manusia Baginda amat murka.
Sebab menurut orang kayangan adalah haram menginjak bumi manusia yang telah dianggap bernoda itu.Oleh karena keinginan untuk tamasya ke bumi begitu kuat, maka dengan tidak mengindahkan kemarahan ayahandanya, Dewa Mendu tetap bertekad untuk turun juga ke bumi. Terdamparlah ia di tengah hutan belantara di puncak Bukit Mencerne yang belum diinjak oleh manusia.Setelah berlalu beberapa waktu Dewa Mendu tidak pernah muncul lagi ditengah-tengah keluarganya, maka sudah dapat dipastikan dia sudah turun ke bumi. Kini giliran adiknya pula Angkara Dewa yang akan turun menjelajahi bumi dengan alasan akan mencari melepaskan beban yang terasa memberati badan.
Tidurlah Kakanda, biarlah Adinda berjaga sebagaimana yang Kakanda pesankan tadi.””Baiklah Adinda, jika ada bahaya mengancam dan Adinda tidak dapat mengatasinya bangunkanlah Kakanda,” pinta Dewa Mendu pada adiknya.Selang beberapa lama Dewa Mendu tertidur, datanglah pula Jin Maragas yang akanmemangsa Dewa Mendu. Tentulah hal itu tidak dibiarkan oleh Angkara Dewa.
Sebelum Jin Maragas menyentuh Dewa Mendu untuk disantapnya dengan kecepatan kilat Angkara Dewa mendahului menyerang.Jin Maragas membatalkan sejenak niatnya untuk menyantap Dewa Mendu. Kini perhatianya beralih pada Angkara Dewa. Seluruh kesaktianya dikerahkan untuk menghadapi kesaktian Angkara Dewa. Seluruh jurus yang dimilikinya dipakainya untuk menaklukkan Angkara Dewa. Semua itu sia-sia bahkan akhirnya ia pun dapat ditaklukan.
Sebagaimana Jin Nenek Sejenggi yang bersumpah mengaku bersahabat dengan Dewa Mendu demikian juga dengan Jin Maragas bersumpah dan mengaku sahabat dengan Angkara Dewa.Sebelum meninggalkan sahabatnya, baik Jin Nenek Sejenggi maupun Jin Maragas berpesan kepada sahabatnya masing-masing, jika sewaktu-waktu memerlukan mereka sebutlah nama mereka dalam hati, maka mereka akan datang memberi bantuan. Setelah merasa istirahat kakandanya cukup lagi pula sinar keemasan di ufuk timur sudah kelihatan dan diiringi pula kokok ayam bersahut-sahutan, maka Angkara Dewa membangunkan Kakandanya Dewa Mendu dengan pantun.Kedua bersaudara itu kemudian melanjutkan perjalanannya bersama-sama. Kini mereka betul-betul gembira, hal ini diketahui dari percakapan mereka. (Lagu Lakau dan Lagu Lemak Lamun). Dewa Mendu bertanya kepada adiknya dengan syair sebagai berikut:la dik Adinda, dengarlah (kanda ini berperi “Ayah.. .Adinda, Adinda Muda BahariAdinda terita sungguh, Ayahi Adinda Kakanda ini berperi. (kanda ingin bertanya kepada Adinda ini senang atau tidak Ayudai Adinda bersama kakanda disini).Karena asyiknya mereka bersenandung dan bersendagurau tanpa mereka sadari mereka sampai disuatu tempat yang sangat indah. Tempat itu bernama “Jalan Raya Titian Batu”. Karena mereka sangat takjub akan keindahan tempat itu maka mereka memutuskan untuk menetap sementara sambil menunggu apa tindakan mereka selanjutnya.Raja Langkadura adalah nama raja yang memerintah Negeri Anta Pura. Baginda adalah seorang Raja yang adil serta sangat bijaksana. Dibawah kekuasaannya rakyat hidup dengan damai, aman dan makmur sehingga Baginda diberi gelar ” Sri Maha Raja Langkadura”.Sebagaimana sebuah kerajaan dalam menjalankan pemerintahan, Baginda raja dibantu oleh :Perdana menteriWazir menteriHulubalangPara pahlawan serta Wakil rakyatBaginda Sri Maha Raja Langkadura mempunyai seorang Putri yang sangat cantik jelita bernama Siti Mahadewi. Karena Putri Siti Mahadewi telah menginjak Merasa keinginannya terganggu, maka Jin Nenek Sejenggi menyerang Dewa Mendu.
Pertarungan tidak dapat dielakkan lagi. Mereka pun mengeluarkan kesaktian yang ada pada mereka masing-masing. Akhirnya Jin Nenek Sejenggi dapat ditaklukan oleh Dewa Mendu, sehingga Jin itu menyerah dan bersumpah dan mengaku menjadi sahabat Dewa Mendu. Menurut perkiraan Dewa Mendu, adiknya sudah tertidur terlalu lama, maka iapun membangunkannya. Dalam pertunjukan Mendu hal ini terdapat nyanyian Lemak Lamun dengan untaian syair sebagai berikut.Ambur Ertas, ‘Ambur “JintanJintan Berambur di Tengah Laman”Bangun Emas Bangunlah Intan’tidur Ape Terlalu NyamanSetelah terjaga dari tidurnya badanpun terasa sudah enak sena tenaga telah pulih, merekapun melanjutkan perjalanan. Kembali mereka keluar hutan masuk hutan, mendaki bukit yang terjal, menuruni lembah yang ngarai.
Apalagi tadi baru saja bertarung dengan lawannya yang tangguh, maka sekujurtubuh Dewa Mendu terasa remuk, kantuknya pun tak dapat ditahankannya lagi.Melihat keadaan yang demikian Angkara Dewa berkata kepada Kakandanya. “Wahai Kakanda, menurut penglihatan Adinda, Kakanda sangatlah lelah dan mengantuk. BagaimanaPerdana Menteri untuk membaca surat yang dikirimkan oleh Raja Lak Semalik. Sebab Baginda tidak dapat membaca surat yang tulisannya tidak dipahami.
Ternyata Perdana Menteri pun tidak dapat membacanya dan surat itu diserahkan kepada pahlawan. Akan tetapi pahlawanpun juga sama, tidak dapat membaca surat tersebut. Akhirnya dipanggillah juru tulis yang paham akan berbagai bahan dan tulisan. Ternyata isi surat tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah hasrat Raja Lak Semalik untuk mengambil Putri Siti Mahadewi sebagai Permaisurinya.
Dihadapan seluruh pembesar istana Sri Maha Raja Langkadura membahas isi surat yang baru saja dibacakan juru tulis utama. Berbagai usul dan pendapat dikumpulkan dan dibahas satu persatu. Akhirnya diputuskanlah bahwa pinangan dari Raja Lak Semalik tidak dapat diterima.Alangkah terkejut dan kecewanya hati Raja Lak Semalik karena pinangannya ditolak oleh Sri Maha Raja Langkadura. Alasan karena mereka berlainan agama dan kepercayaan yang pasti akan menimbulkan berbagai masalah dikemudian hari. Demikian pikir Sri Maha Raja Langkadura.Lain lagi pemikiran Raja Lak Semalik. Penolakan pinangannya berarti Sri Maha Raja Langkadura telah menghinanya serta seluruh rakyat Negeri Anta Syina. Oleh karena itu maka ia pun memutuskan untuk mengumumkan perang terhadap Kerajaan Anta Pura.dewasa maka ia dihadiahkan oleh ayahandanya Yang sangat mengasihinya dengan sebuah mahligai yang terletak ditepi sebuah tasik. Mahligai ini dikelilingi Oleh taman bunga yang diberi nama “Mahligai Tasik Telaga Jenggi”.
Tinggallah Siti Mahadewi bersama inanginang pengasuhnya di mahligai Yang indah itu.Kecantikan Putri Siti Mahadewi sangat termahsyur sehingga menjadi buah bibir setiap orang. Apalagi yang pernah melihatnya. Tak heranlah jika berita kecantikan Putri Siti Mahadewi sampai ketelinga Raja Lak Semalik yang memerintah negeri Anta Syina Yang jauh diseberang lautan.Dengan serta merta ia telah jatuh cinta pada Putri Siti Mahadewi.
Maka diutusnyalah rombongan orangorang kepercayaannya untuk meminang Siti Mahadewi. Segala persiapan telah tersedia, maka berangkatlah utusan Raja Lak Semalik. Selain persiapan emas, intan, berlian, dan sutra, Raja Lak Semalik pun mengirim sepucuk surat kepada Sri Maha Raja Langkadura.Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan akhirnya sampailah rombongan peminang dari negeri Anta Syina. Sebagaimana lazimnya utusan diterima sebagaimana mestinya.
Pada keesokan harinya Sri Maha Raja Langkadura mengumpulkan seluruh pembesar istananya guna membahas masalah pinangan dari raja Lak Semalik. Di hadapan pembesar istana Baginda Sri Maha Raja Langkadura memerintahkan kakandanya Dewa Mendu. la pun turun ke burni dan terdampar dihutan belantara Bukit Mencerne.Setelah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulanbulan mengembara ditengah hutan itu, akhirnya bertemulah dua bersaudara tersebut. Pertemuan itü tidaklah mengembirakan hati. Karena mereka sudah tidaklah saling kenal setelah ujud mereka berubah menjadi manusia. Akibatnya pertemuan itü menimbulkan perselisihan antara mereka şebab seorang menuduh seorangnya lagi sengaja mengikut bahkan mengganggu ketenangan masingmasing. Akhirnya perselisihan itü berkembang menjadi perkelahian yang seru.
Maklumlah mereka sama-sama memiliki kesaktian.Setelah bertarung berhari-hari, ternyata belum ada tanda-tanda menunjukkan siapa yang lebih unggul. Mereka sepakat untuk istirahat sejenak, kemudian baru melanjutkan pertarungan kembali.Pada saat kritis mereka membangkitkan asal-usul mereka dengan harapan akan memperoleh pertolongan kesaktian-kesaktian keturunan. Dewa Mendu berseru ” Jika sesungguhnya aku adalah Dewa Mendu Putra Semandung Dewa yang ada dikayangan maka bantulah aku untuk menaklukan musuhku ini”. Dilain pihakAngkara Dewa pun berseru “Jika sesungguhnya aku adalah Angkara Dewa Putra Semandung Dewa yang ada dikayangan maka bantulah aku untuk menaklukan musuhku ini”.Setelah membangkitkan asal-usul mereka baik Dewa Mendu maupun Angkara Dewa sama-sama terkesima. Mereka tidak lagi saling serang, bahkan mereka saling berangkulan sebagai pernyataan pengakuan bahwa mereka benar-benar bersaudara.
Penulis : DESTIRA SYAFITRI
NIM: 1215.21.0029

















