Berita

Honda Siap Produksi Mobil Listrik Lokal di Indonesia, Tujuan Sebelum 2030

×

Honda Siap Produksi Mobil Listrik Lokal di Indonesia, Tujuan Sebelum 2030

Sebarkan artikel ini

Langkah Baru Honda Menuju Elektrifikasi di Indonesia

PT Honda Prospect Motor (HPM) mulai mengambil langkah penting dalam memasuki era elektrifikasi di Indonesia. Perusahaan ini sedang merancang strategi untuk dapat memproduksi kendaraan listrik (EV) secara lokal dalam waktu dekat. Hal ini menjadi bagian dari upaya Honda untuk menyesuaikan diri dengan tren pasar yang semakin bergerak menuju keberlanjutan.

Shugo Watanabe, Presiden Direktur HPM, menjelaskan bahwa meskipun impor mobil utuh (CBU) bisa dilakukan, ia menilai bahwa hal tersebut bukanlah keputusan jangka panjang yang bijak. “Kalau untuk model CBU, itu keputusan yang mudah. Test market juga mudah. Kamu bisa langsung bawa CBU, saya pun bisa memutuskan sekarang kalau mau. Tapi kita benar-benar perlu memeriksa harga dan semuanya,” ujarnya di Utsunomiya, Minggu (1/11/2025).

Menurut Watanabe, strategi produksi lokal atau Completely Knocked Down (CKD) lebih efisien dari sisi biaya dan sesuai dengan kebijakan pemerintah yang mulai membatasi kuota impor kendaraan listrik. “Kalau kita tidak memproduksi secara lokal, kita tidak dibenarkan lagi untuk memasukkan CBU. Pemerintah pasti akan membatasi kuota impor. Jadi, kita harus punya produksi lokal,” tambahnya.

Saat ini, diskusi internal Honda fokus pada dua kandidat utama untuk diproduksi di kawasan ASEAN, yaitu Super One dan Zero Alpha. Kedua model ini sebelumnya diperkenalkan di Japan Mobility Show 2025. “Mungkin setelah India, dua negara ASEAN yang jadi kandidat tertinggi untuk produksi atau ekspor Alpha adalah Thailand dan Indonesia,” ujar Watanabe.

Baca Juga :  Gaji Pengurus BWI Provinsi: Fakta Yogyakarta

Ia menambahkan bahwa Thailand dinilai lebih cocok untuk produksi Alpha, sedangkan Indonesia lebih cocok untuk CKD Super One. “Ini kesempatan bagus untuk punya produksi lokal dan memperkuat komunikasi lintas ASEAN,” katanya.

Meski belum bersedia berkomitmen secara resmi, Watanabe menegaskan bahwa Honda tidak akan menunggu terlalu lama untuk mengambil keputusan. “Saya tidak bisa berkomitmen sekarang, tapi kita tidak bisa menunggu terlalu lama, targetnya sebelum 2030. Tapi kalau CBU, kalau kita putuskan sekarang, bisa saja sudah mulai dari tahun depan atau dua tahun lagi,” ujarnya.

Strategi Produksi Lokal dan Keuntungan yang Diharapkan

Produksi lokal tidak hanya memberikan efisiensi biaya tetapi juga membantu memenuhi kebijakan pemerintah yang semakin ketat terhadap impor kendaraan listrik. Dengan memproduksi kendaraan listrik secara lokal, Honda dapat membangun infrastruktur dan jaringan pasokan yang lebih kuat. Selain itu, hal ini juga akan memperkuat posisi Honda sebagai pemain utama dalam industri otomotif Indonesia.

Baca Juga :  Tekan Inflasi, Pemko Batam Segera Distribusikan Sembako Bersubsidi Tahun 2023

Strategi ini juga mencerminkan komitmen Honda terhadap pengembangan berkelanjutan. Dengan memproduksi kendaraan listrik secara lokal, perusahaan dapat mengurangi emisi karbon dan mendukung inisiatif pemerintah dalam menjaga lingkungan. Selain itu, produksi lokal akan memberikan peluang bagi tenaga kerja lokal untuk ikut serta dalam proses produksi dan perawatan kendaraan listrik.

Masa Depan Elektrifikasi di Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan akan kendaraan listrik di Indonesia semakin meningkat. Hal ini didorong oleh kesadaran masyarakat akan pentingnya keberlanjutan dan penghematan energi. Honda mengamati tren ini dan siap untuk mempercepat pengembangan kendaraan listrik di pasar Indonesia.

Selain itu, kolaborasi antar negara ASEAN juga menjadi faktor penting dalam rencana produksi lokal Honda. Dengan memproduksi kendaraan listrik di Indonesia, Honda dapat memperkuat hubungan dengan mitra produksi di kawasan ASEAN dan memperluas pangsa pasar di kawasan tersebut.

Dengan strategi yang matang dan komitmen kuat terhadap elektrifikasi, Honda siap menjadi salah satu pemain utama dalam industri kendaraan listrik di Indonesia. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar tetapi juga berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di Indonesia.