Berita

Jalan Hidupku

×

Jalan Hidupku

Sebarkan artikel ini

Kehidupan yang Penuh Tantangan dan Rasa Percaya

Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan naik dan turun. Ada masa bahagia, ada juga masa sulit. Begitu juga dengan kisah Bung Zahry, seorang pria berusia 57 tahun, yang telah mengalami berbagai tantangan dalam hidupnya.

Bung Zahry memiliki keluarga yang terdiri dari delapan orang. Ayah, ibu, dan enam bersaudara. Ia adalah anak keempat dari keluarga tersebut. Dulu, ayahnya bekerja sebagai sopir angkot, sehingga penghasilannya cukup besar untuk membiayai kehidupan keluarga. Keempat kakaknya bisa melanjutkan pendidikan hingga lulus SMA. Namun nasib Bung Zahry berbeda, ia hanya sampai lulus SMP dan harus membantu membiayai adik bungsunya.

Kondisi keluarga semakin berat ketika ibunya sering sakit-sakitan. Ia sering menangisi kepergian ayahnya yang meninggalkan keluarga setelah menikah lagi. Bung Zahry pun belajar menyetir mobil, sehingga bisa membawa kendaraan roda empat. Dengan menjadi sopir angkot, ia bisa mendapatkan uang untuk membiayai kehidupan keluarganya.

Setelah adiknya bekerja di toko emas, Bung Zahry merasa terbantu. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Adiknya dilamar oleh seorang buruh pabrik dan mereka menikah. Setelah lima tahun menikah, mereka bercerai. Hal ini membuat Bung Zahry kembali menghadapi kesulitan.

Baca Juga :  Berikut Capaian Kinerja Kejaksaan Negeri Meranti Selama Tahun 2022

Ia terus bekerja untuk membeli obat bagi ibunya yang masih sakit. Suatu hari, ia bertemu dengan seorang anak tukang warung nasi. Mereka jatuh cinta dan akhirnya menikah. Istrinya menjual nasi, sehingga bisa membantu mengurus rumah tangga. Namun, persaingan semakin ketat, hingga warung istri Bung Zahry bangkrut.

Keadaan semakin memburuk ketika pemilik mobil yang digunakan Bung Zahry juga bangkrut dan menjual semua asetnya. Ia hanya bisa menjadi sopir tembak. Lama-kelamaan, istri Bung Zahry tidak tahan dengan kesengsaraan dan meminta cerai. Ketiga anak mereka diberikan kepada Bung Zahry, sementara ia harus mengurus ibu dan adiknya.

Karena banyaknya sopir tembak, Bung Zahry tidak kebagian pekerjaan. Akhirnya, ia ikut teman mengembara ke luar Jawa. Namun, setelah beberapa waktu, ia kembali ke kampung halaman. Duka menyelimuti dirinya karena ibunya meninggal dunia. Tak lama kemudian, ayahnya juga meninggal. Dalam kesedihan, Bung Zahry harus berpacu dengan waktu karena anak-anaknya butuh biaya sekolah.

Ia tetap menjadi sopir tembak, meski penghasilannya tidak seberapa. Suatu hari, ada seorang wanita hamil tua yang naik mobil angkot miliknya. Ia meminta diantar ke bidan karena sudah waktunya melahirkan. Ia menangis dan memohon agar Bung Zahry menungguinya. Sampai bayi lahir, Bung Zahry menunggu di sana.

Baca Juga :  Muhammad Rudi Hadiri Rakornas Pengendalian Inflasi Tahun 2024 di Istana Negara

Setelah itu, wanita itu meminta dinikahi. Bung Zahry kasihan dan akhirnya menikahinya. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai seorang putri. Namun, kondisi keuangan Bung Zahry sangat berat. Ia tidak punya uang yang berarti, hanya cukup untuk makan. Ia harus punya SIM jika ingin menjadi sopir kembali, tapi dari mana ia mendapatkan uang?

Dengan memberanikan diri, Bung Zahry menyampaikan surat kepada pengasuh rubrik Ini. Ia berharap ada dermawan yang bisa membantu membayar biaya pembuatan SIM. Beban hidupnya sangat berat, termasuk anak-anak, istri, dan adiknya yang tidak memiliki penghasilan. Ia adalah tulang punggung keluarga. “Ya Tuhan tolonglah hamba,” katanya di akhir curahan hatinya.

Bagaimana Anda Bisa Membantu?

Jika Anda ingin menanggapi kisah di atas atau ingin menyampaikan keluh kesah Anda, silakan hubungi pengasuh. Lengkapi alamat Anda dengan fotokopi KTP, KK, dan SKTM. Kirim surat Anda ke Kantor Sekretariat Redaksi di Jalan Asia Afrika 77 Bandung. Untuk kisah yang belum dimuat, harap bersabar menanti giliran. Terima kasih.