Alreinamedia.com- Natuna, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, tengah menghadapi krisis di sektor perikanan yang berdampak langsung pada perekonomian masyarakat pesisir. Gangguan ekspor ikan, terutama ikan hidup tujuan Hong Kong, ditambah dengan langkanya ikan bilis di laut, menyebabkan pendapatan nelayan menurun tajam. Hingga daya beli masyarakat setempat yang kini kian menurun tajam
Ismail seorang nelayan di Kecamatan Bunguran Barat saat dikonfirmasi melalui sambungan telp oleh awak media ini Jumat (9/5/25) mengungkapkan, hasil tangkapan ikan bilis menurun drastis sejak beberapa tahun belakangan ini, Menurutnya, cuaca ekstrem dan kehadiran luar Natuna yang memiliki pencahayaan tinggi membuat susah para pemilik bagan
“Sekarang cari bilis di laut sulit, terkadang malahan pulang tangan kosong, sehingga banyak bagan saat ini, jarang beroprasi karena pengeluaran besar dibandingkan pendapatan “ ujar Ismail
Kondisi tersebut juga dirasakan pedagang di pasar tradisional. Nia saat dikonfirmasi Jumat (9/5/25) menyatakan bahwa pada tahun 2025 ini jual beli dipasar menurun
“Pembeli ada, tapi banyak yang tidak jadi beli, baik itu dipasar ikan maupun pasar sayur, padahal harga banyak yang turun, tapi tetap ada saja masyarakat yang hanya sekedar bertanya tanpa membeli” terang nia
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Natuna yang dihimpun oleh awak media ini, produksi ikan teri mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2018 tercatat produksi sebanyak 4.831,81 ton, namun turun menjadi 2.758,19 ton pada 2019. Data terakhir menunjukkan belum ada pemulihan berarti hingga akhir 2024.
Akibat terhambatnya ekspor dan menurunnya produksi, aktivitas ekonomi yang bergantung pada sektor perikanan pun melambat. Banyak keluarga nelayan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk biaya pendidikan dan kesehatan.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah pusat, propinsi maupun daerah terkait upaya penyelamatan sektor perikanan di Natuna.
Sementara itu, masyarakat berharap ada langkah konkret dalam bentuk subsidi alat tangkap, perlindungan laut dari pencurian ikan, serta pembukaan akses pasar alternatif untuk ekspor (Arizki)

















