Alreinamedia.com-Kepri, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Marzuki SH, melontarkan kritik keras terhadap proyek pelabuhan HDPE di Sedanau Kabupaten Natuna Senin (5/5/25)
Ia menilai pembangunan pelabuhan tersebut sebagai bentuk pemborosan anggaran karena tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, meskipun menelan biaya hingga miliaran rupiah dari APBD Propinsi Kepri
“Pelabuhan HDPE Sedanau dibangun dengan anggaran besar hingga 2,2 Milyar, Tapi saat ini tidak dimanfaatkan. Ini bukan sekedar proyek gagal fungsi, ini adalah cermin buruknya perencanaan dan pengawasan”ujar Marzuki dalam pernyataan resminya
Menurutnya, proyek seperti ini menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara perencanaan teknis dengan kebutuhan riil di lapangan. Ia menuding Dinas Perhubungan Provinsi Kepri tidak melakukan kajian menyeluruh sebelum memulai pembangunan, yang berakibat pada minimnya pemanfaatan pelabuhan oleh masyarakat maupun sektor transportasi laut.
“Apa gunanya bangun pelabuhan kalau kapal tidak bisa sandar, atau masyrakat tidak menggunakannya ? Ini hanya jadi monumen pemborosan uang rakyat” tegas Marzuki
Marzuki juga mempertanyakan evaluasi pasca-pembangunan dan pengawasan dari pemerintah provinsi terhadap proyek infrastruktur kelautan lainnya. Ia mengingatkan agar jangan sampai pelabuhan-pelabuhan baru bernasib sama dengan HDPE Sedanau dibangun hanya demi mengejar target serapan anggaran, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
“Kalau pola seprti ini terus dbiarkan, bukan cuman uang rakyat yang terbuang, tapi kepercayaan publik terhadap pemerintah akan runtuh. Infrakstruktur harus jadi solusi, bukan sekedar simbol” tambahnya
Masyarakat setempat pun gunawan saat dikonfirmasi senin (5/5/25) mengungkapkan kekecewaan terhadap proyek HDPE tersebut. Beberapa warga menyebut pelabuhan itu lebih sering kosong dan terbengkalai dibandingkan digunakan secara aktif.
Kritik tajam Marzuki SH menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kebijakan di Kepri bahwa pembangunan infrastruktur harus berpijak pada kebutuhan nyata masyarakat, bukan hanya pada laporan atau proyek seremonial belaka pungkas Gunawan (Arizki)

















