Kasus Kematian Mahasiswa Fisip Udayana yang Mencuri Perhatian
Kasus kematian mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Udayana, Timothy Anugerah Saputra masih menjadi topik perbincangan hangat di berbagai media sosial. Ayah dari Timothy, Lukas, akhirnya mengungkap beberapa kejanggalan yang menimbulkan dugaan terhadap kematian putranya.
Sebelumnya, kematian Timothy sempat dikaitkan dengan tindakan mengakhiri hidup. Dugaan ini muncul setelah ia diduga melompat dari lantai dua gedung Fisip. Namun, Lukas tidak langsung percaya dengan dugaan tersebut. Setelah melakukan survei ke lokasi kejadian, ia menemukan beberapa hal yang tidak sesuai dengan informasi yang diberikan pihak kampus.
Kejanggalan Pertama: CCTV di Lokasi Kejadian
Lukas menemukan bahwa pihak kampus menyatakan tidak ada CCTV yang merekam kejadian tersebut. Namun, saat ia datang ke kampus, ia menemukan adanya CCTV di lantai empat. Hal ini membuatnya merasa heran.
“Masih bisa dipercaya? Di dalam kampus tersebut tidak ada CCTV satu pun yang dalam melihat meliput kejadian tersebut,” ujar Lukas dalam wawancara yang disiarkan di kanal YouTube Metro TV News.
Kejanggalan Kedua: Konstruksi Bangunan
Selain itu, Lukas menyebut bahwa konstruksi bangunan di lokasi kejadian tidak memungkinkan bagi seseorang untuk jatuh dari lantai empat. Ia yakin bahwa jika Timothy jatuh dari lantai tersebut, hal itu tidak akan mungkin terjadi.
“Kalau misal dia (Timothy) jatuh dari lantai empat itu tidak memungkinkan karena konstruksi bangunanya tidak memungkinkan pada saat anak saya jatuh,” kata Lukas.
Kejanggalan Ketiga: Perubahan Informasi dari Pihak Kampus
Lukas juga menyebutkan bahwa informasi dari pihak kampus berubah-ubah. Awalnya, mereka menyatakan bahwa Timothy tewas setelah jatuh dari lantai dua. Namun, sehari kemudian, kampus meralat pernyataannya dan menyatakan bahwa Timothy jatuh dari lantai empat.
“(Keterangan kampus) berubah-ubah. Pada saat hari pertama di rumah duka diberitakan dari kampus menyatakan (Timothy jatuh dari) lantai dua. Hari berikutnya dari kampus (meralat katanya Timothy jatuh dari) lantai empat,” ujar Lukas.
Curiga dengan Saksi dan Laporan ke Polisi
Lukas juga curiga dengan para saksi yang ada di lokasi kejadian. Menurutnya, para saksi seolah-olah menutupi fakta. Oleh karena itu, ia melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.
“Kebetulan saksi-saksi juga enggak tahu kenapa, tidak dapat memberikan berita yang valid. Jadi melihat dari data tersebut, saya pikir sebaiknya saya serahkan semuanya ke Polres Denpasar untuk menyelidiki kasus ini,” ucap Lukas.
Tanggapan Terhadap Isu Bullying
Lebih lanjut, Lukas merespons isu bahwa putranya dibully setelah tewas. Ia mengakui bahwa ia sedih ketika mengetahui kematian Timothy menjadi bahan olok-olok teman kampusnya. Namun, alih-alih marah, Lukas memilih untuk memaafkan para pembully.
“Secara manusia saya, sakit hati saya. Tapi saya juga punya Tuhan yang mengajarkan saya apabila saya harus memaafkan orang-orang yang salah,” pungkas Lukas.
Ia juga menyatakan bahwa ia tidak perlu membalas perbuatan para pembully tersebut. Lukas lega karena para pembully kini mendapat sanksi sosial melalui media sosial.
“Biarkan pihak kampus yang melakukan tindakan, memberikan sanksi. Saya rasa enggak usah saya kasih sanksi pun dari pihak media sosial sudah memberikan sanksi kepada mereka,” ujar Lukas.
Permintaan Maaf dari Keluarga
Tidak hanya itu, Lukas juga meminta maaf kepada teman dan civitas kampus tempat Timothy pernah bernaung. Ia menyatakan bahwa keluarganya meminta maaf atas segala tingkah laku Timothy kepada rekan sekitar, dosen-dosen, dan teman-temannya.
“Kami dari keluarga meminta maaf atas segala tingkah laku Timi kepada rekan sekitar, kepada dosen-dosennya, kepada teman-temannya. Saya minta maaf apabila semasa hidupnya Timi, apabila Timi merugikan pihak di sekitarnya,” ungkap Lukas.

















