Pedagang Kalibata Berjuang Mengais Sisa Kehidupan dari Puing-Puing Kebakaran
Kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, masih diselimuti duka dan kepanikan pasca-kericuhan yang berujung pada pembakaran kios para pedagang. Pada Sabtu siang, aktivitas di lokasi tersebut didominasi oleh para pedagang yang dengan hati-hati menelusuri puing-puing bangunan yang kini rata dengan tanah. Garis polisi yang masih terpasang menjadi saksi bisu dari tragedi yang baru saja berlalu, memisahkan area yang hangus dan menghitam dari bagian yang belum tersentuh api. Bau hangus masih tercium kuat, menambah suasana pilu di antara para pedagang yang kehilangan mata pencaharian.
Para pedagang terlihat mengenakan sarung tangan berwarna putih, sebuah tindakan pencegahan sederhana namun penting saat mereka berupaya mengais sisa-sisa barang yang mungkin masih bisa diselamatkan. Besi-besi dari rak yang tadinya menjadi penopang dagangan kini bengkok dan dikumpulkan. Barang-barang ini tidak lagi ditujukan untuk digunakan kembali dalam usaha mereka, melainkan untuk dijual kepada pengepul barang bekas. Ini adalah upaya terakhir untuk mendapatkan sedikit uang guna menyambung hidup setelah usaha mereka terpaksa terhenti secara mendadak.
Di antara reruntuhan, berserakan pula barang-barang bekas yang telah hangus, seperti tabung gas elpiji yang kosong, kaleng-kaleng tempat penyimpanan bahan makanan, dan berbagai barang lainnya yang kini tak lagi memiliki nilai guna. Semuanya menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya amukan api.
Kisah Asmo: Mencari Besi untuk Bertahan Hidup
Salah satu kisah yang muncul dari balik puing-puing itu adalah Asmo (30), seorang karyawan di sebuah warung pecel pincuk. Bersama empat rekan kerjanya, Asmo terlihat sibuk mengais sisa-sisa kebakaran. Fokus mereka adalah mencari potongan-potongan besi dari reruntuhan bangunan yang masih bisa diselamatkan.
“Ini kita cuma ngambil-ngambilin besi saja, enggak ada lagi yang (tersisa),” ujar Asmo saat ditemui di lokasi. Instruksi untuk mengumpulkan sisa barang ini datang langsung dari pemilik kios. Namun, karena hampir seluruh peralatan masak dan tabung gas hangus terbakar, hanya besi tua yang bisa mereka kumpulkan.
Uang hasil penjualan besi kiloan ini rencananya akan dibagi rata kepada kelima karyawan yang kini mendadak kehilangan pekerjaan. “Sebenarnya dirongsokin besi-besi kayak gini hasilnya enggak seberapa. Tapi kan lumayan buat beli-beli makanan, rokok. Kita di sini juga nganggur sudah berapa hari ini,” tutur Asmo dengan nada lelah.
Asmo telah bekerja di warung pecel tersebut selama 15 tahun, sejak tahun 2010. Warung itu sendiri telah berdiri selama hampir 27 tahun, menjadi saksi perjalanan hidup banyak orang.
Kronologi Kejadian: Dari Penyerangan Pertama hingga Api Melalap Kios
Saat kejadian penyerangan berlangsung, Asmo berhasil menyelamatkan diri dan beberapa barang pribadinya saat penyerangan pertama yang terjadi menjelang Maghrib. Namun, ia tidak menyangka bahwa massa akan bertindak nekat hingga membakar tempat usahanya mencari nafkah.
“Saya tadinya waktu masih Maghrib masih di sini. Tapi habis ada penyerangan pertama itu saya pulang, saya ambilin barang-barang dulu yang kira-kira aman, handphone segala macam,” kenang Asmo. Ia sempat berpikir massa tidak akan sampai membakar warung. “Kirain tuh enggak mau bakar warung, ternyata tahu-tahu habis Isya itu bakar warung duanya,” lanjutnya dengan nada pilu.
Api dengan cepat melalap habis kios-kios tersebut. Salah satu faktor yang mempercepat penyebaran api adalah kondisi selang gas yang masih terpasang dan mengalami kebocoran saat kericuhan terjadi. “Karena kita satu, gasnya pada masang semua. Waktu gas selangnya pada bocor, ya sudah, habis semua,” jelas Asmo, menggambarkan betapa cepatnya bencana itu terjadi.
Harapan Baru di Tengah Keputusasaan
Tak hanya Asmo, Yuni (48), seorang pedagang masakan Padang yang lokasinya berdekatan, juga dilanda kesedihan yang mendalam. Ia datang ke lokasi untuk mengecek dan mencoba menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan.
“Kemarin kan belum boleh masuk, sekarang baru bisa. Tapi ternyata sampai sini udah hangus semua. Habis lah, kebakar semua, sisa nyari besi untuk dikiloin aja,” ujar Yuni dengan mata nanar menatap lahan tempat usahanya berdiri.
Baik Yuni maupun Asmo, serta para pedagang lainnya, sama-sama memiliki satu harapan besar: agar kios tempat mereka mencari nafkah bisa kembali dibangun seperti semula. Mereka sangat berharap pemerintah turun tangan untuk membantu mereka yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan konflik yang terjadi.
“Harapannya, ya pokoknya ini kan kita enggak tahu-menahu ya tadinya. Kita kena imbas karena dari kasus debt collector itu, malah kita yang jadi sasaran,” keluh Asmo, mewakili suara para pedagang yang menjadi korban.
Hingga kini, para pedagang belum mengetahui secara pasti bagaimana nasib mereka ke depan. Mereka hanya bisa menunggu kabar dari pemerintah untuk membantu proses pembangunan kembali kios-kios yang telah hangus terbakar. “Kita nunggu dari pusat saja gimana ini kelanjutannya,” tutup Asmo, menyimpan secercah harapan di tengah ketidakpastian. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit tentang bagaimana konflik yang tidak melibatkan mereka justru dapat menghancurkan kehidupan masyarakat kecil.

















